Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Melampaui Banjir, Merawat Hulu yang Terlupa

Peristiwa ini menyisakan kerusakan fisik dan psikologis yang tak kecil, dan seharusnya menggugah kesadaran publik serta mendorong perubahan sistemik.

Editor: Sudirman
ist
OPINI - Marwan Aziz Sekjen Greenpress Indonesia 

Oleh: Marwan Aziz

Sekjen Greenpress Indonesia

TRIBUN-TIMUR.COM - BANJIR bandang yang melanda Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto, Sulawesi Selatan, pada awal Juli 2025 bukan sekadar bencana alam musiman, melainkan cerminan nyata dari kerentanan ekologis dan lemahnya tata kelola ruang hidup kita.

Peristiwa ini menyisakan kerusakan fisik dan psikologis yang tak kecil, dan seharusnya menggugah kesadaran publik serta mendorong perubahan sistemik.

Peristiwa banjir di Bantaeng terjadi pada Sabtu, 5 Juli 2025 pukul 03.00 Wita, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut selama beberapa jam.

Luapan air dari sejumlah sungai menyebabkan banjir yang berdampak pada empat kecamatan sekaligus: Bantaeng, Bissappu, Uluere, dan Eremerasa. Ini bukan kejadian pertama.

Wilayah yang sama telah berkali-kali mengalami bencana serupa. Artinya, ada persoalan struktural yang belum kita jawab dengan serius.

Luasnya Dampak dan Kedalaman Krisis

Dampak dari banjir bandang kali ini sangat signifikan. Berdasarkan laporan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 1.295 kepala keluarga terdampak.

Tidak kurang dari 1.295 unit rumah mengalami kerusakan atau terendam air.

Dua tanggul sungai dilaporkan rusak dan dua akses jalan utama terputus. Lahan pertanian warga juga turut mengalami kerusakan, memperparah kerugian ekonomi di tingkat rumah tangga.

Kawasan yang terendam meliputi 10 kelurahan dan 3 desa. Di Kecamatan Bantaeng, banjir merendam Kelurahan Lamalaka, Kembang, Letta, Mallilingi, Tappanjeng, dan Pallantikang.

Sementara di Kecamatan Bissappu, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Bontorita, Bontoatu, Bontosunggu, Bontolebang, dan Desa Bonto Hai.

Kecamatan Uluere terdampak di Desa Bonto Lojong, dan di Eremerasa banjir melanda Desa Ulugalung. Bencana serupa juga dialami Desa Bonto Tiro, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jenenponto.

Wilayah-wilayah ini sebagian besar merupakan kawasan padat penduduk, yang berada dekat aliran sungai dan belum sepenuhnya terlindungi oleh infrastruktur penahan banjir yang memadai.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Makna Syawal

 

Makna Syawal

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved