Literasi Ulama
Karamah AGH Lanre said
Diantara karamahnya, setiap membangun lembaga pendidikan, santri tidak membayar dan guru juga tidak dibayar.
Oleh: Firdaus Muhammad
TRIBUN-TIMUR.COM - Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin dan Pengurus MUI Sulsel Etta Meniti di Dalam Cahaya, demikian judul buku berisi kisah hidup Anregurutta Haji (AGH).
Lanre Said (1923-2005) Pendiri Pondok Pesantren daarul Hufadh Tuju-Tuju, Bone. Beliau sosok ulama Waliullah, memiliki banyak karamah.
Diantara karamahnya, setiap membangun lembaga pendidikan, santri tidak membayar dan guru juga tidak dibayar.
Ajaibnya, setiap lembaga pendidikan yang dibinanya secara ikhlas itu selalu berkembang.
Sejak tahun 1975 merintis pendirian Pesantren Darul Huffad dengan tujuh orang santri awal dan eksis hingga kini, sedikitnya membina 700 santri yang dalam proses menghafal al-Quran.
Setiap santri di Pesantren Tuju-Tuju dibebaskan dari pembayaran. Ajaibnya, sekitar 1000-an santri dan pembina tetap bisa dilayani meski tanpa membayar.
Bagaimana bisa memberi makan santri tersebut jika tanpa membayar, justru sang kiai menjawabnya tidak tahu, kami menggunakan manajemen ilahi, segalanya kami percayakan dan sandarkan pada sang khaliq.
Karamah lainnya, beliau mengetahui hari dan waktu wafatnya, saat wafatnya tahun 2005 sama persis dengan waktu yang diceritakan pada anak dan santrinya.
Belaiu wafat dalam usia 85 tahun. Beliau selalu mengedepankan ilmu dan akhlak. “Akhlaqmu adalah derajatmu, seseorang dinilai dari akhlaqnya”, demikian titah Anregurutta Haji (AGH).
Lanre Said kepada putra-putrinya serta segenap santrinya. Setiap ucapannya mengandung hikmah.
Ketika salah seorang putranya, Saad Said masih kecil sempat menanam mangga tanpa disiram dan disaksikan ayahnya.
Sang anak ditegur, bagaimana kamu bisa memimpin umat jika mengurus pohon satu saja tidak bisa.
Pesan mendasar AGH. Lanre Said agar perkuat syariat. Bukan menentang tarekat, tapi baginya untuk mengenal isi harus kenal kulitnya secara baik.
AGH. Lanre Said dikenal tawadhu, tak ingin dikenal. Ketika Saad Said, putranya, ingin menulis riwayatnya, beliau hanya berseloroh, “saya cukup hidup di zamanku”, tak ingin dikultuskan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Firdaus-Muhammad-2132311.jpg)