Jelang Iduladha 2025, Penjualan Sapi Kurban di Luwu Turun 50 Persen
Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sejumlah peternak mulai menjajakan sapi kurban milik mereka ke pembeli.
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM - Dua pekan menjelang perayaan Iduladha 2025, umat Muslim yang mampu mulai bersiap menunaikan ibadah kurban dengan menyembelih hewan ternak, seperti sapi dan kambing.
Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sejumlah peternak mulai menjajakan sapi kurban milik mereka ke pembeli.
Pantauan Tribun-Timur.com di salah satu peternakan di Desa Babang, Kecamatan Larompong Selatan, menunjukkan bahwa kandang milik seorang peternak bernama Hanuddin mampu menampung hingga 75 ekor sapi Bali.
Namun demikian, Hanuddin mengaku bahwa penjualan sapi tahun ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.
“Menjelang Iduladha ini baru sekitar 50 ekor yang terjual. Padahal tahun lalu bisa mencapai sekitar 100 ekor,” keluh Hanuddin, Senin (26/5/2025).
Artinya, penjualan sapinya turun hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Hanuddin, harga satu ekor sapi kurban tahun ini dibanderol mulai dari Rp12 juta hingga Rp25 juta, tergantung ukuran dan bobot sapi.
“Harga tahun ini naik sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per ekor dibanding tahun lalu,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar sapi yang dijualnya didatangkan dari Kabupaten Wajo dan Bone.
“Biasanya sekitar tiga bulan sebelum Iduladha sudah kita beli dari daerah lain. Kemudian dilakukan penggemukan. Ada petugas khusus yang mengurus, satu orang bisa tangani hingga lima ekor,” ungkapnya.
Hanuddin juga menekankan pentingnya karantina dan pemeriksaan kesehatan sapi sebelum dilepas bersama ternak lainnya.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit mulut dan kuku (PMK), yang pernah merebak di Indonesia.
“Kita karantina dulu supaya dipastikan sehat. Apalagi kalau kena PMK, cepat sekali menyebar ke sapi lainnya,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya, sapi yang terinfeksi PMK menunjukkan gejala seperti air liur berlebihan dan luka pada kuku kaki.
“Kalau sapi kena PMK, biasanya mulai dari air liur yang keluar terus. Setelah itu, muncul luka di bagian kuku. Kalau dibiarkan, makannya berkurang dan bisa kurus,” jelasnya.
| Harga Tiket Pesawat Bua-Makassar Masih Rp1,2 Juta |
|
|---|
| Strategi Pemilik Kafe di Luwu Siasati Kenaikan Harga Cup Plastik |
|
|---|
| Setahun Tuntas! Riset DAS Tabo-tabo Pangkep Antar Ibas Bupati Lutim Lulus Cumlaude S2 Teknik UMI |
|
|---|
| 4 Posisi Eselon II Bergeser, Ini Rincian Mutasi Kedua Patahuddin di Luwu |
|
|---|
| Faktor Ekonomi Dibalik Pernikahan Gadis 18 Tahun Dipinang Kakek 71 Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Salah-satu-peternak-di-Desa-Babang-Kecamatan-Larompong-Selatan-bisa-menampung.jpg)