Kajian Wali wanua

9 Tokoh Sulsel yang Disebut Wali-Wanua Imajiner oleh Taslim Arifin

Penulis: AS Kambie
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

pencetus wali wanua Taslim Arifin

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pencetus Wali Wanua, Taslim Arifin, melansir Sembilan Tokoh Sulsel Paling Berpengaruh di Dunia.

Ke-sembilan tokoh itu adalah Syekh Yusuf Al Makassary, Karaeng Pattingalloang, Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, Andi Pangerang Pettarani, Jenderal M Jusuf, Prof Dr Achmad Amiruddin, Baharuddin Lopa, dan M Jusuf Kalla.

Ke-9 tokoh itu dilansir Taslim Arifin di Group WhatsApp Senter-senter Bella, Senin (27/3/2017).

“Terdapat sembilan tokoh penting dan legendaris dari daerah ini yang dapat dijadikan patokan dan sebagai pilar kelembagaan peradaban, atau sebagai Waliwanua dalam menyongsong berbagai harapan masa depan,” kata Taslim Arifin.

Syekh Yusuf Al Makassary
Taslim menempatkan Syeh Yusuf Al Makassary sebagai tokoh asal Sulsel yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Menurut Taslim, tokoh ini bukan hanya memiliki kemampuan penguasaan teologis yang puripurna dan menguasai berbagai tarekat. Syekh Yusuf juga dia nilai punya kemampuan melakukan pengembangan, penafsiran, dan merumuskan hasil permenungan teologis secara mandiri dalam wujud "Tarekat Khalwatiyah" yang berusaha melakukan kodifikasi tarekat-tarekat dalam ajaran Islam.

“Syekh Yusuf juga menempatkan dirinya sebagai pejuang pembebas atas penghinaan terhadap kemanusiaan, melalui perjuangan baik yang bersifat lokal di daerah asalnya, Bugis Makassar, maupun secara nasional sebagai Panglima Perang Kerajaan Banten. Bahkan sebagai tokoh internasional yang sangat disegani oleh kolonial yang merajalela pada zamannya,” jelas Taslim

Syekh Yusuf berjuang di beberapa negara pada abad ke-17 M. Ada catatan menyebutkan, Syekh Yusuf lahir di Gowa pada 3 Juli 1628 M dan wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan.

“Tokoh ini oleh Mandella dianggap sebagai insfirator pembebas bangsa Afrika Selatan dari kekangan politik apartheit bangsa penjajah,” kata Taslim.

Karaeng Pattingalloang
Tokoh legendaris kedua yang dilansir Taslim adalah Karaeng Pattingalloang. Tokoh ini segenerasi dengan Syekh Yusuf.

Karaeng Pattingalloang disebutkan lahir pada tahun 1600 dan wafat pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bonto Biraeng. Sumber lain, wafat tanggal 15 September 1653 di Kerajaan Gowa.

Karaeng Pattingalloang bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud. Dia salah seorang putera dari Raja Tallo IV I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara.

Beberapa catatan menyebut Karaeng Pattingalloang sebagai Mahasarjana tanpa gelar dan tittle karena pada saat itu belum ada sekolah maka ia belajar secara otodidak. Namun di balik itu karena kercerdasannya ia menjadi salah seorang ilmuan yang sangat disegani dan dianggap sebagai Galileo Of Macassar.

“Secara formal memangku jabatan publik sebagai perdana menteri di Kerajaan Gowa yang telah berhasil menciptakan dan memiliki jejaring diplomatik global dan hubungan dagang internasional,” kata Taslim.

Menurutnya, Karaeng Pattingalloang sanggup merekat tiga pusat perdagangan dunia saat itu, yaitu Makassar dari Mosaik tatanan Nusantara, Penang di Malayu, dan Hamburg di Jerman yang menempatkan dirinya sebagai bangsa Arya.

“Beliau disamping tokoh pemerintahan, mentor para putra mahkota, baik sebagai calon kepala pemerintahan, maupun sebagai panglima perang, tokoh ini juga merupakan peletak dasar pemerintahan moderen, memiliki kapasitas sebagai intelektual yang menguasai belasan bahasa asing, penginisiatif dan peletak dasar ilmu perbintangan dengan pemesanan teropong bintang ketiga di dunia,” jelas Taslim.

“Karang Pattingalloang juga penggagas liberalisasi hukum laut yang jauh melampaui kemajuan berfikir para ilmuwan hukum di Francis yang dikenal sebagai peletak dasar hukum internasional. Tokoh inilah yang menempatkan bangsa Boegis Makassar sebagai salah satu berlian peradaban yang telah memperkaya peradaban global pada zamannya,” kata Taslim menambahkan.

Sultan Hasanuddin
Tokoh legendaris ketiga dalam padangan Taslim Arifin adalah Sultan Hasanuddin.

Hidup Sultan Hasanuddin hanya singkat, 39 tahun. Lahir pada 12 Januari 1631 dan wafat di Gowa pada 12 Juni 1670. Dia bernama lengkap I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.

“Sultan Hasanuddin merupakan tokoh perlawanan terhadap kolonial. Dia menempatkan Kerajaan Gowa sebagai salah satu kerajaan Nusantara dalam perlawannya menguras habis tenaga dan sumberdaya kekuatan kolonial,” kata Taslim Arifin.

Taslim Arifin menobatkan Sultan Hasanuddin sebagai penggagas pertama ASEAN. Di masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa menjalin aliansi kekuatan lintas Asia Tenggara jauh sebelum ASEAN lahir di era moderen, khususnya dengan kerajaan Melayu.

Bahkan, kata Taslim, Kerajaan Gowa di masa Sultan Hasanuddin telah memiliki kesepahaman dengan Kerajaan Ottoman di Turki dalam upaya membangun kekuatan global kerajaan-kerajaan Islam, kendatipun tidak pernah dideklarasikan secara eksplisit.

“Pada era pemeritahannya, Sultan Hasanuddin berhasil menempatkan Kerajaan Gowa sebagai sala satu pusat kekuatan ekonomi dan geopolitik global, yang membuat Raffles dalam autobiografinya menyarankan untuk lebih baik menghindari pasukan kerajaan Gowa dari pada menghadapinya secara frontal,” jelas Taslim.

Arung Palakka
Tokoh fenomenal keempat adalah Arung Palakka. Menurut Taslim Arifin, tokoh ini adalah pemersatu kerajaan lokal di tanah Boegis Makassar. Dia berhasil merumuskan bangunan dan jalinan pemerintahan konfederasi longgar pada abad ke-17 pada saat Rusia gagal memelihara pemerintahan konfederasi para era moderen.

“Tokoh ini pencetus awal antiperbudakan di Tanah Boegis Makassar, sebagai penjabaran ajaran Islam yang antiperbudakan, jauh sebelum bangsa Eropah membayangkan gerakan dan menentang perbudakan,” tegas Taslim.

Arung Palakka lahir di Lamatta, Mario ri Wawo, Soppeng, 15 September 1634, dan wafat di Bontoala, Makassar, 6 April 1696 pada umur 61 tahun. Dia bernama lengkap La Tenri Tatta To Erung To Risompi Petta Malampei Gemme’na Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sri Sultan Sa'aduddin.

“Tokoh ini juga memiliki peranan strategis dalam membangun keutuhan dan kemanunggalan budaya Boegis Makassar sebagai bangsa yang memiliki hubungan darah dalam makna yang harfiah yang dicanangkan dalam Deklarasi Pancana,” tulis Taslim Arifin.

Ekonom itu menilai, politik perkawinan tokoh lintaskerajaan lokal yang diprakarsai Arung Palakka merupakan wujud persatuan yang sangat kuat, membuat para elite pemerintahan. Lewat perkawinan tokoh lintaskerajaan lokal ini, tokoh agama dan budaya disatukan dalam suatu "bio-sistem" yamg merekat kuat antara berbagai kekuatan sosial.

“Gerakan assimilasi, kohesi sosial, dan persatuan dalam kebhinnekaan, serta apa yamg dikenal sebagai ‘melting pot’ di AS telah dijabarkan dengan sempurnah oleh Arung Palakka, jauh sebelum declaration of independence di AS, dan Uni Eropah di Eropah,” kata Taslim Arifin.

Andi Pangerang Pettarani
Tokoh moderen yang legendaris kelima yang disebut Taslim Arifin adalah Andi Pangerang Pettarani. Dia bernama lengkap Andi Pangerang Pettarani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe Ri Panaikang.

Dilahirkan pada awal abad XX, 14 Mei 1903 di Desa Mangasa-Gowa, dan meninggal dunia pada 12 Agustus 1975. Dia putra Raja Bone XXXII Andi Mappanyukki, ibunya I Batasai Daeng Taco.

“Lahir dari kalangan elite feodal, belajar dan menekuni nilai-[nilai leluhur etno-nationalism Bugis Makassar, mengecap pergaulan dengan kelompok revolusioner, bersentuhan dengan budaya barat yang pragmatis, efisien, dan fungsional,” jelas Taslim.

Dalam catatan Taslim Arifin, Andi Pangerang Pettarani sangat menyayangi rakyatnya melebihi dirinya. Bangsawan ini naik becak ke tukang cukur, tidak naik mobil dinas dan atau mobil pribadi untuk lebih dekat menyapa rakyatnya yang fakir miskin,” ujar Taslim.

Pangerang Pettarani juga pelopor pendidikan moderen di Sulawesi. “Dia mendorong pemuda, termasuk pemuda Achmad Amiruddin meraih pendidikan tertinggi di negeri paling jauh dan paling bermutu kualitas pendidikannya,” ujar Taslim.

Selama menjadi Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Pettarani memimpin pulau ini yang merdeka berhubungan dengan pemimpin nasional Soekarno dengan kepala tegak, menyatu dan memperjuangkan kepentingan rakyat di daerahnya, tanpa harus berseberangan.

“Dia tidak dibesarkan oleh partai, tidak pula dipilih melalui pemilihan langsung, apalagi dibela dan dicukongi oleh pemilik modal. Cukongnya adalah hati nurani yang merupakan bahagian modal sosial Bugis Makassar. Dia, sang pemimpin yang mengendalikan yang besar dan melindungi yang kecil. Kemanunggalan elite pemerintahan dan rakyat jelata, melalui teladannya, tercipta di Sulawesi, dan menjadi contoh bagi para pemimpin nasional pada zamannya,” jelas Taslim.

Jenderal M Jusuf
Tokoh legendaris keenam adalah Jenderal M Jusuf. Taslim Arifin menulis, lahir dari kalangan feodal menengah, memiliki nasionalisme yang 24 karat, dan dikenal sebagai seniman politik yang menghantar fase transisi aman Bangsa Indonesia dan memiliki peran strategis dalam mengendalikan pancaroba perubahan kepemimpinan nasional.

“Tokoh ini berhasil melahirkan kesatuan tertiinggi di kalangan angkatan perang Republik Indonesia, menempatkan kekuatan dan kedaulatan strategis bangsa diantara negara negara ASEAN, dan melahirkan angkatan bersenjata sebagai elemen strategis kekuatan dan kedaulatan rakyat dan menyatukan semangat militer dan rakyat melalui gerakan ‘Kemanunggalan ABRI Rakyat’,” jelas Taslim.

Taslim Arifin memberi bobot perhatian pada kebiasaan Jenderal M Jusuf saat kunjungan kerja. Dia menyapa seluruh wilayah kedaulatan, drama dialog antara jenderal prajurit yang sering mengharukan dan menerbitkan patriotisme di kalangan prajurit yang diamini khusyu oleh seluruh lapisan masyarakat, menjadikan sekat lembaga perang menjadi pelindung tanah tumpah darah dan seluruh rakyat, tumbuh subur menjadi cakrawala baru pada zamannya.

Achmad Amiruddin
Taslim Arifin menempatkan mantan Rektor Unhas Prof Dr Achmad Amiruddin sebagai tokoh legendaris ketujuh. Menurutnya, tokoh ini telah melakukan prubahan strategis pada bidang pendidikan dan pemerintahan yang moderen.

“Bila di Jepang dikenal ‘Restorasi Meiji’, maka di Sulawesi Selatan dikenal ‘Restorasi Amiruddin’,” tegas Taslim Arifin.

Menurutnya, lewat ‘Restorasi Amiruddin’, hampir separuh tenaga pengajar di Universitas Hasanuddin diperintahkan melanjutkan pendidikan di negara-negara maju, infrastruktur kampus dibangun setara perguruan tinggi ternama dunia.

Taslim menilai Prof Amir, sapaan Achmad Amiruddin, memberi perhatian yang sangat tinggi terhadap pemuda dan khususnya mahasiswa, dan menempatkan dan memberi teladan kepemimpinan kepada pemuda dan mahasiswa.

Bukan hanya sebagai sumber tenaga terampil korporat, Prof Amir juga menjadi pemimpin bangsanya, mengisi ruang kelompok menengah sebagai penggerak modernisasi bangsa, dan sebagai ujung tombak serta pemikir dalam berbagai bidang, dan menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat kemajuan bangsa secara keseluruhan.

“Dalam bidang pemerintahan, tokoh ini merumuskan peranan pemerintah yang nonkonvensional. Pemerintah bukan hanya sebagai regulator, melainkan berperan sebagai innovator, pencetus berbagai alternatif dari berbagai kebintuan yang dihadapi, dan membimbing rakyatnya dalam cara dan pola berpikir dalam menyikapi dinamika lokal, regional, dan global,” tulis Taslim Arifin.

Menurut Taslim, pria kelahiran sebuah kampung pertanian di Desa Doping, Wajo, itu adalah pencetus Tri Konsep pembangunan Sulsel: Perubahan Pola Pikir, Pengwilayahan Komoditas, dan Petik Olah Jual.

“Tokoh ini tidak pernah diperalat oleh kekuasaan, melainkan kekuasaanlah yang diperalat untuk kesejahteraan rakyat. Dia adalah lelaki Bugis pertama yang meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) dari Universitas Lexington, Kentucky, Amerika 1958-1961. Ia doktor atom, inti dari segala material di bumi, dan pendiri Lembaga Atom Malaysia,” kata Taslim.

Baharuddin Lopa
Prof Dr Baharuddin Lopa adalah tokoh ke-8 asal Sulsel yang paling berpengaruh. Dalam hemat Taslim Arifin, tokoh ini memiliki integritas sebagai penegak hukum sekuat karang yang kokoh diterpa ombak dan badai.

“Tokoh ini selalu memperingatkan dirinya dan membuat para pendosa bergidik, dan menjadi suri teladan bagi para penerus bangsa bahwa ‘Keadilan harus ditegakkan hari ini, kendatipun besok dunia akan kiamat’,” kata Taslim.

Menurut Taslim, kesederhanaan hidup Baharuddin Lopa mencengangkan sejalan dengan jabatannya yang penuh godaan. Para pelanggar hukum frustrasi mencari celah kelemahan untuk digunakan mempermainkan hukum, dan para koleganya yang setara tidak pernah merasa aman untuk tidak dipenjarakan oleh Lopa, bila melakukan pelanggaran hukum.

“Kalau dalam legenda China hadir Judge Bao yang tanpa berkedip dapat menjatuhkan hukuman mati bagi pelanggar hukum, maka di Indonesia hadir Baharuddin Lopa yang dicintai oleh rakyat jelata dan disegani oleh para pejabat negara, serta sangat ditakuti oleh pera pelanggar hukum,” jelas Taslim.

Taslim menyebut Lopa sebagai putra terbaik daerah ini yang menjadi tokoh nasional, tanpa perlu menyandarkan diri kepada rezim yang berkuasa untuk menjadi Jaksa Agung.

“Lopa telah menempatkan daerah ini dan orang yang berasal dari daerah ini, memiliki stigma ‘tidak mengemal kompromi’ dalam penegakan hukum dan keadilan, wilayah abuabu tidak dikenal dalam hukum,” tulis Taslim.

Jusuf Kalla
Muhammad Jusuf Kalla adalah satu-satunya tokoh yang masih mengabdi kepada bangsa dan negara yang dimasukkan Taslim dalam sembilan “Wali Imajiner” adal Sulsel.

“Tokoh perdamaian yang diakui dengan sangat hormat, Honoris Causa, oleh belasan Perguruan Tinggi di dalam dan luar negeri, berbagai kelembagaan sosial, dalam dan luar negeri, dan merupakan tokoh pemerintahan yang tidak mengenal jalan buntu,” jelas Taslim.

Demi perdamaian bangsanya, lanjut Taslim, Jusuf Kalla mempertaruhkan segalanya. Bahkan nyawapun akan dipersembahkannya yang merupakan kharakter yang "anti dot" sebagai saudagar dan enterpreneur.

“JK adalah tokoh yang menempatkan dirinya sebagai pribadi yang fenomenal diantara tokoh yang kejangkitan ‘pencitraan’,” ujar Taslim.

Menurutnya, dalam berbagai tindakanndannpernyataannya, tokoh ini nyaris naif dalam memerankan ketokohannya sebagai pemegang amanah publik, dan sebagai pemangku kekuasaan negara, sering menyatakan sesuatu yang tidak populer, kendatipun sesungguhnya benar dan tepat dalam menilai dan memecahkan berbagai kemelut bangsanya, pada saat elite politik yang lain menghindar, dan melakukan pembiaran demi risiko politik yang begitu berat yang mungkin akan mereka hadapi.

Wali Wanua
Di bagian akhir catatannya, Taslim Arifin menulis, “Akhirnya wahai para pemuda dari daerah ini, telah cukup sempurnah tokoh sebagai acuan pengabdian. Telah cukup rahmat Allah atas lahirnya kualitas kepemimpinan dari daerah ini. Dan itu sekaligus berarti bahwa budaya Boegis Makassar adalah merupakan tempat dan lingkungan yang subur bersemainya tokoh harapan bangsa, dan janganlah berprilaku sebaliknya, baik dalam memilih pemimpin, maupun sebagai pemimpin itu sendiri.”

Taslim mencetuskan Komunitas Wali Wanua di Sulsel, Agustus 2006. Komunitas ini awalnya diisi veteran pejuang, mantan gubernur, kepala pemerintahan, tokoh lintasagama, budayawan, akademisi, profesional, pengusaha, dan penggiat sosial.

Pilihan kata wali, katanya, adalah penempatan tokoh yang sudah tidak memiliki banyak kepentingan.

Wali Wanua Sulsel dideklarasikan pada 16 September 2006.
Tugas mereka, jelasnya, hanya memberikan kabar baik, dan nasihat bermanfaat bagi masyarakat.
Sedangkan kata wanua, dipilih karena akar kata ini berasal dari proto Melayu (melayu tua). Kata benua (yang berarti tanah yang luas) juga berasal dari kata ini. negeri-negeri di kepulauan pasifik dan astronesia juga menggunakan suku kata sejenis untuk menunjuk kampung yang damai dan subur.

Dalam tradisi kerajaan Sulsel, wali wanua, akhirnya berfungsi sebagai orang yang diminta pendapat di luar struktur raja dan pemerintahannya. “Ini juga bukan legislatiof atau yudikatif. Pokoknya wali wanua ini adalah orang yang peduli pada kepentingan orang banyak, bukan partai, klan, atau kelompok orang,” kata Taslim yang juga mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unhas ini.

Wali wanua ini, katanya, akan terus menggelinding menjadi sebuah harapan baru.
“Ini agar masyarakat Sulsel punya lagi harapan, untuk hidup lebih panjang dengan iklim ekonomi yang tidak mandek seperti sekarang,” katanya beberapa tahun silam.(*)