Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sosok 5 Putra Sulsel Terima Tanda Kehormatan dari Prabowo: Haji Isam, Andi Ramang, Andi Amran

Sebanyak 141 orang dianugerahi Tanda Kehormatan dari Presiden RI, Prabowo Subianto. Terdapat 5 di antaranya

Editor: Edi Sumardi
ARSIP/PSM MAKASSAR/TRIBUNNEWS.COM/DOK PRIBADI
TOKOH SULSEL - Kolase foto almarhum Baharuddin Lopa, almarhum Andi Ramang, Meutya Hafid, Andi Syamsuddin Arsyad, dan Andi Amran Sulaiman (kiri ke kanan). Mereka dianugerahi Tanda Kehormatan dari Presiden Prabowo pada tahun 2025. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebanyak 141 orang dianugerahi Tanda Kehormatan dari Presiden RI, Prabowo Subianto.

Penganugerahan Tanda Kehormatan berlangsung di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025), sepekan setelah puncak HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Tanda Kehormatan adalah penghargaan negara yang diberikan presiden kepada seseorang, kesatuan, institusi pemerintah, atau organisasi atas darmabakti dan kesetiaan yang luar biasa terhadap bangsa dan negara.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010 , Tanda Kehormatan dibagi menjadi 3 (tiga) jenis yaitu Bintang, Satyalancana, dan Samkaryanugraha.

Sejumlah penerima Tanda Kehormatan adalah menteri dalam Kabinet Merah Putih, mantan menteri, purnawirawan TNI, pengusaha, tokoh pers, politikus, aktivis lingkungan, dan lainnya.

1. Puan Maharani

2. Ahmad Muzani

3. Sultan Najamuddin

4. Sufmi Dasco Ahmad

5. Zulkifli Hasan

6. Wiranto

7. Agum Gumelar

8. Subagyo Hadi Siswoyo

9. AM Hendropriyono

10. Alm Moerdiono

11. Alm Jenderal Hoegeng Imam Santoso

12. Almh Rachmawati Soekarnoputri

13. Alm Abdul Rachman Ramly

14. Alm Aloysius Benedictus Mboi

15. Alm Muhammad Noer

16. Abdul Muhaimin Iskandar

17. Bahlil Lahadalia

18. Saifullah Yusuf

19. Andi Amran Sulaiman

20. Marty Natalegawa

21. Retno Lestari Priansari Marsudi

22. Juwono Sudarsono

23. Noer Hassan Wirajuda

24. Alm Baharuddin Lopa

25. Alm Ida Cokorda Pemecutan

26. Alm Letjen TNI (Purn) Dading Kalbuadi

27. Letjen TNI (Purn) Solihin Gautama Purwanegara

28. Alm Mayjen TNI (Purn) Chalimi Imam Santosa

29. Purnomo Yusgiantoro

30. Letjen TNI (Purn) Tarub

31. Suhartoyo

32. Letjen TNI (Purn) Herman Bernhard Leopold Mantiri

33. Dino Pati Djalal

34. Alm Bismar Siregar

35. Alm Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo

36. Alm Letjen TNI (Purn) Mochammad Jasin

37. Alm Letjen TNI (Purn) Hartono Rekso Dharsono

38. Alm Letjen TNI (Purn) Kemal Idris

39. Burhanuddin Abdullah

40. Terawan Agus Putranto

41. Hashim Djojohadikusumo

42. Agus Harimurti Yudhoyono

43. Sugiono

44. Abdul Mu'ti

45. Fadli Zon

46. Andi Syamsuddin Arsyad

47. Suhardi

48. Siti Hardjanti Wismoyo

49. Prasetyo Hadi

50. Meutya Hafid

51. Teddy Indra Wijaya

52. Muhammad Yusuf Ateh

53. Ivan Yustiavandana

54. Dadan Hindayana

55. Perry Warjiyo

56. Miftachul Akhyar

57. Haedar Nashir

58. Sigit P. Santosa

59. Mayjen TNI (Purn) Syamsudin

60. Johanes Gluba Gebze

61. Herlina Christine Natalia Hakim

62. Francisco Xavier Lopez da Cruz

63. Almarhum Prof Fahmi Idris

64. Almarhum Letjen TNI (Purn) F. X. Sud jasmin

65. Almarhum Letjen TNI (Purn) Wiyogo Atmodarminto

66. Mayjen TNI (Purn) Almarhum Mung Parh adimulyo

67. Almarhum K. H. Yusuf Hasyim

68. Almarhum K. H. Maimun Zubair

69. Almarhum K. H. Abdullah Abbas

70. Almarhum Letjen TNI (Purn) Rais Abin

71. Almarhum Jose Fernando Osorio Soares

72. Almarhum Abilio Jose Osorio Soares

73. Almarhum Arnaldo dos Reis Araujo

74. Almarhum AKBP (Purn) H. Soekitman

75. Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim

76. Yusuf AR

77. Maher Al Ga dri

78. Almarhum K. H. Muhammad Maksum

79. Juri Ardiantoro

80. Sumarsono

81. Angga Raka Prabowo

82. Anwar Iskandar

83. Soepriyatno

84. Angky Retno Yudianti

85. Widjono Hardjanto

86. H. Abidin

87. Abdul Ghofur

88. Soegeng Sarjadi

89. Simon Aloysius Mantiri

90. Abdussamad Sulaiman HB (H. Sulaiman)

91. Abdul Rasyid

92. Nanik Sudaryati Deyang

93. Willy Ananias Gara

94. Amzulian Rifai

95. Isma Tahun

96. Lydia Silvanna Djaman

97. Teddy Sutadi Kardin

98. Taufiq Ismail

99. Muhammad Ainun Najib

100. Almarhum Cornel Simanjuntak

101. Asep Saifuddin Chalim

102. Almarhum Benyamin Sueb

103. Almarhum Titiek Puspa

104. Teungku Nyak Sandang bin Lamudin

105. Carina Citra Dewi

106. Kolonel Marinir TNI (Purn) Azwar Syam

107. Sadiman

108. Seto Mulyadi

109. Senny Marbun

110. Afdiharto Mardi Lestari

111. Almarhum Atmakusumah Astraatmadja

*112. Andi Ramang*

113. Diana Cristina

114. Abdul Muis

115. Aipda Muhammad Irvan

116. Ja'un S. Mihardja

117. Slamet Rahardjo Djarot T

118. Waldjinah

119. I Nyoman Nuarta

120. Almarhum Letkol Caj Tituler Muhammad Idris Sardi

121. Alm Mochtar Lubis

122. Sukmono Hadi

123. Alm Soedjarwoto Soemarsono (Gombloh)

124. Francisco Deodato Osorio Soares

125. Vidal Domingos Doutel Sarmento

126. Agostinho Boavida Ximenes Sera Malic

127. Joao Angelo de Sousa Mota

128. Alm Lettu (Purn) Isa Mangun

129. Alm Willie Firdaus

130. Alm Martinho Fernandes

131. Alm Joaquim Monteiro

132. Alm Alfonso Henrique Pinto

133. Alm Juliao Fraga

134. Alm Claudio Vieira

135. Alm Jose Fernandes

136. Alm Roberto Li

137. Alm Jose Da Conceicao

138. Alm Edmundo da Silva

139. Joao da Silva Tavares

140. Alm Hein Mantundoy

141. Aries Marsudiyanto

Dari 141 orang tersebut, terdapat 5 di antaranya tokoh berdarah Sulawesi Selatan dan Barat.

Kelimanya adalah almarhum Baharuddin Lopa, almarhum Andi Ramang, Meutya Hafid, Andi Syamsuddin Arsyad, dan Andi Amran Sulaiman.

1. Almarhum Baharuddin Lopa

Baharuddin Lopa adalah sosok jaksa legendaris yang dikenal karena integritas, keberanian, dan kesederhanaannya.

Lahir di Mandar, Sulawesi Selatan pada 27 Agustus 1935, ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Hasanuddin dan meraih gelar doktor dari Universitas Diponegoro.

Karir Baharuddin Lopa dimulai sebagai jaksa di Kejaksaan Negeri Makassar pada usia 23 tahun.

Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Bupati Majene pada usia 25 tahun, di mana ia gigih menentang penyelundupan.

Karirnya terus menanjak, dengan pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di berbagai provinsi, seperti Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Kalimantan Barat.

Pada tahun 1993-1998, ia menjabat sebagai anggota Komnas HAM.

Baharuddin Lopa SH adalah Jaksa Agung Republik Indonesia sejak 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada 3 Juli 2001.
Baharuddin Lopa SH adalah Jaksa Agung Republik Indonesia sejak 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada 3 Juli 2001. (HANDOVER)

Kemudian, ia juga pernah dipercaya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi pada 1999-2001.

Puncak karirnya terjadi pada tahun 2001, saat ia menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dan tak lama kemudian diangkat sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia.

Sebagai Jaksa Agung, ia dikenal berani menangani kasus-kasus korupsi besar, termasuk yang melibatkan kroni-kroni Soeharto.

Baharuddin Lopa dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana.

Ia menolak berbagai tawaran suap dan tetap menggunakan mobil lamanya. Untuk menambah penghasilan, ia bahkan membuka wartel di samping rumahnya.

Baharuddin Lopa meninggal di Riyadh, Arab Saudi, pada 3 Juli 2001, saat menjalani ibadah umrah.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Warisan terbesarnya adalah teladan integritas dan keberanian dalam menegakkan hukum.

2. Almahrum Andi Ramang

Andi Ramang adalah salah satu legenda terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia, yang namanya abadi dalam julukan tim PSM Makassar, yaitu "Pasukan Ramang."

Lahir pada 24 April 1924 di Barru, Sulawesi Selatan, Ramang dikenal sebagai penyerang yang memiliki postur kecil namun sangat lincah.

Dijuluki "Si Kancil" dan "Kurcaci Monster", ia memiliki kemampuan unik, termasuk tendangan salto dan mencetak gol dari sudut sempit.

Ramang mengawali karirnya dengan bekerja serabutan di Makassar sebelum bergabung dengan Persatuan Sepak Bola Induk Sulawesi (Persis) dan kemudian direkrut oleh PSM Makassar.

Ia menghabiskan sebagian besar karirnya bersama PSM Makassar dalam dua periode (1947-1960 dan 1962-1968), mencetak 239 gol dari 302 pertandingan, dan membawa klub tersebut meraih gelar juara di era Perserikatan.

Legenda PSM, Andi Ramang
Legenda PSM, Andi Ramang (PSM MAKASSAR)

Puncak karir Ramang adalah saat membela Tim Nasional Indonesia. Ia menjadi mesin gol andalan, terutama dalam ajang Olimpiade Melbourne 1956.

Dalam turnamen tersebut, ia hampir mencetak gol ke gawang Uni Soviet yang dijaga kiper legendaris dunia, Lev Yashin, yang membuat namanya diakui oleh FIFA.

Setelah pensiun sebagai pemain pada 1968, ia beralih menjadi pelatih dan menukangi beberapa klub, termasuk PSM Makassar dan Persipal Palu.

Andi Ramang meninggal dunia pada 26 September 1987 di usia 63 tahun.

3. Meutya Hafid

Meutya Hafid adalah seorang mantan jurnalis dan politikus Indonesia.

Ia lahir di Bandung pada 3 Mei 1978, tapi ayahnya almarhum Anwar Hafid berasal dari Soppeng, Sulawesi Selatan.

Ia merupakan lulusan dari Universitas New South Wales dan Universitas Indonesia.

Sebelum terjun ke dunia politik, Meutya Hafid dikenal sebagai jurnalis senior.

Ia pernah bekerja di Metro TV sebagai jurnalis dan pembawa acara.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (DOK TRIBUNNEWS.COM)

Salah satu pengalaman paling bersejarah dalam karirnya adalah ketika ia disandera selama tujuh hari saat meliput di Irak pada tahun 2005. 

Pengalamannya ini ia tulis dalam buku berjudul "168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak."

Setelah berkarir sebagai jurnalis, ia memulai karir politiknya dan menjadi anggota DPR RI sejak 2010.

Di sana, ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR sejak 2019 hingga 2024.

Saat ini, Meutya Hafid menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia.

Sepanjang karirnya, Meutya Hafid telah menerima berbagai penghargaan, baik di bidang jurnalistik maupun politik, di antaranya:

Elizabeth O'Neill Journalism Award dari Australia (2007)

PRESS CARD NUMBER ONE (PCNO) dari HPN (2013)

Democracy Award dari Majalah Moeslim Choice (2019)

RA Kartini Awards 2025 untuk kategori Menteri Unggul dalam Komunikasi Digital

4. Andi Syamsuddin Arsyad

Andi Syamsuddin Arsyad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, adalah seorang pengusaha sukses yang dijuluki "crazy rich" dari Kalimantan Selatan.

Ia lahir di Batulicin pada 1 Januari 1977, namun memiliki darah Bugis dari kampung halaman orang tuanya di Bone, Sulawesi Selatan.

Kisah hidup Haji Isam sering disebut sebagai contoh "dari nol menjadi pahlawan."

Ia mengawali karirnya dari pekerjaan serabutan seperti supir angkutan kayu dan tukang ojek di kampung halamannya.

Kehidupan berubah ketika ia bertemu dengan Johan Maulana, seorang pengusaha tambang batu bara, yang memberinya kesempatan untuk belajar tentang bisnis tersebut.

Pada tahun 2003, dengan modal pinjaman dari Johan Maulana, Haji Isam mendirikan perusahaannya sendiri, CV Jhonlin Baratama.

Dari kontraktor kecil, bisnisnya berkembang pesat hingga mampu menambang ratusan ribu ton batu bara per bulan.

Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam
Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam (DOK PRIBADI)

Kesuksesannya di sektor batu bara membuat Haji Isam melebarkan sayap bisnisnya. CV Jhonlin Baratama kemudian bertransformasi menjadi Jhonlin Group, sebuah perusahaan holding yang membawahi lebih dari 60 anak perusahaan di berbagai sektor.

Gurita bisnisnya mencakup:

Pertambangan: PT Jhonlin Baratama

Perkebunan dan Agrobisnis: PT Jhonlin Agro Raya (JAR) yang memiliki pabrik biodiesel

Transportasi: PT Jhonlin Marine (kapal tongkang) dan PT Jhonlin Air Transport (pesawat pribadi)

Properti dan berbagai usaha lainnya

Haji Isam dikenal sebagai pribadi yang sederhana meski kekayaannya mencapai triliunan rupiah.

Ia juga dikenal dermawan dan rutin memberangkatkan ribuan orang untuk beribadah umrah.

5. Andi Amran Sulaiman

Andi Amran Sulaiman adalah seorang pengusaha sukses dan figur penting dalam pemerintahan Indonesia.

Ia dikenal luas sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia di bawah dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Lahir pada 27 April 1968 di Bone, Sulawesi Selatan, Amran Sulaiman menempuh pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas).

Ia meraih gelar sarjana di bidang Pertanian pada tahun 1993 dan melanjutkan studi pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister dan doktor di kampus yang sama.

Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, Amran Sulaiman dikenal sebagai pengusaha yang mendirikan dan memimpin berbagai perusahaan. 

Ia adalah pendiri PT Tiran Group, sebuah konglomerat yang bergerak di berbagai sektor, termasuk perkebunan, pertambangan, dan industri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (DOK TRIBUNNEWS.COM)

Sebagai pengusaha, ia mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007, atas jasanya dalam mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan.

Amran Sulaiman pertama kali diangkat sebagai Menteri Pertanian pada Kabinet Kerja periode 2014-2019.

Di bawah kepemimpinannya, ia meluncurkan berbagai program untuk mencapai swasembada pangan, seperti peningkatan produksi padi, jagung, dan bawang.

Pada tahun 2023, ia kembali ditunjuk sebagai Menteri Pertanian pada Kabinet Indonesia Maju, melanjutkan pengabdiannya di sektor agrikultur.

Sepanjang karirnya, Amran Sulaiman dikenal dengan pendekatannya yang praktis dan fokus pada peningkatan kesejahteraan petani melalui modernisasi pertanian dan program-program yang berpihak pada rakyat.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved