Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

6.000 Ton Beras Tak Sesuai Standar, Bulog Salahkan Petani di Bone Tergesa-gesa Panen

Namun, dalam pelaksanaannya, masih ditemukan gabah yang belum layak panen atau gabah hijau masuk ke penggilingan.

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/Wahdaniar
BULOG BONE - Kepala Bulog Bone, Maysius Patintingan 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Pemerintah pusat menginstruksikan penyerapan gabah petani melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) di setiap daerah.

Namun, dalam pelaksanaannya, masih ditemukan gabah yang belum layak panen atau gabah hijau masuk ke penggilingan.

Kepala Kantor Bulog Cabang Bone, Maysius Patintingan, mengungkapkan sekitar 6.000 ton beras di bawah standar ditemukan saat proses penyerapan gabah di wilayah Kabupaten Bone.

"Jadi sekitar 6.000 ton lebih beras tidak sesuai standar," ujarnya, Minggu (10/8/2025).

Beras tersebut saat ini mengendap di penggilingan dan belum dapat disimpan oleh Bulog.

Sius, sapaan akrabnya, mengatakan pihaknya masih menunggu instruksi dari pemerintah pusat terkait penanganan beras tersebut.

"Hasil gilingan gabah dari pengusaha penggilingan tidak sesuai standar, jadi masih menunggu keputusan dari pusat," jelasnya.

Ia juga menyesalkan sikap sebagian petani yang tergesa-gesa memanen padahal kondisi gabah masih hijau.

Imbas dari masuknya gabah hijau ini, pembayaran kepada pihak penggilingan mitra Bulog melalui skema maklon juga ikut tertunda.

Seorang pengusaha penggilingan berinisial A (50), yang enggan disebutkan identitas lengkapnya, membenarkan adanya tunggakan pembayaran dari Bulog.

Ia menyebut total tunggakan mencapai puluhan miliar rupiah.

"Sudah mau musim panen lagi. Kami butuh dana ini untuk modal dan perawatan mesin," katanya.

Keluhan serupa disampaikan pengusaha penggilingan lainnya, B (41).

Ia menyebut masalah ini sudah beberapa kali disampaikan ke pihak Bulog, namun belum mendapat kejelasan.

"Katanya masih menunggu pencairan dari pusat," ujarnya.

Para pengusaha mengkhawatirkan kondisi ini akan berdampak pada proses penyerapan gabah pada musim panen berikutnya, yang berpotensi memengaruhi harga beras di pasaran.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved