Opini
Workplace Learning Sebagai Solusi ASN Modern
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperbincangkan adalah Workplace Learning (WPL) atau pembelajaran di tempat kerja.
Oleh: Badrullah
Widyaiswara BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam era transformasi digital dan tuntutan layanan publik yang semakin tinggi, Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi motor inovasi dan profesionalisme birokrasi.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperbincangkan adalah Workplace Learning (WPL) atau pembelajaran di tempat kerja.
Sayangnya, masih ada stigma di kalangan ASN maupun publik bahwa pembelajaran di tempat kerja hanyalah “libur terselubung” atau aktivitas yang kurang produktif.
Anggapan ini jelas keliru. WPL bukanlah bentuk pelarian dari beban kerja, melainkan strategi pembelajaran yang justru relevan, aplikatif, dan berdampak langsung terhadap kinerja.
Mengapa WPL Penting?
Konsep WPL bertumpu pada ide bahwa pembelajaran terbaik terjadi melalui praktik langsung di lingkungan kerja.
ASN tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga menginternalisasi pengetahuan melalui pengalaman nyata, diskusi kasus, hingga refleksi atas pekerjaan harian.
Lebih dari itu, WPL memungkinkan ASN belajar sesuai konteks dan kebutuhan jabatannya.
Dalam banyak kasus, pelatihan formal tidak selalu menjawab persoalan riil di lapangan. Sebaliknya, WPL mendorong pegawai untuk memecahkan masalah nyata yang dihadapi dalam tugas sehari-hari.
Pembelajaran menjadi bermakna karena langsung berkaitan dengan tantangan kerja, sehingga motivasi dan retensi pengetahuan pun lebih tinggi.
WPL juga mendukung pembentukan budaya belajar yang berkelanjutan di lingkungan birokrasi.
Ketika ASN terbiasa untuk mengevaluasi diri, mencari solusi, berbagi praktik baik, dan terbuka terhadap umpan balik, maka tercipta ekosistem kerja yang adaptif dan kolaboratif.
Dalam jangka panjang, budaya ini akan meningkatkan kualitas pelayanan publik karena ASN tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu belajar dari pengalaman untuk memperbaiki proses kerja.
| Board of Peace: Ilusi Perdamaian dan Arogansi Moral AS hingga Posisi Politik Etis Indonesia |
|
|---|
| Membangun Ekosistem AI Multikultural: Catatan dari Indonesia |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250717-Badrullah.jpg)