Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

70 Tokoh Agama Gaungkan Moderasi Beragama di Gowa: Merawat Kebersamaan dalam Keberagaman

Acara yang dilaksanakan di Resto Akaddo Waroengta, Kabupaten Gowa ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang bertukar pikiran antar tokoh agama

Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM
Suasana Dialog Lintas Agama di Gowa. Acara ini dihadiri oleh 70 peserta dari berbagai unsur, antara lain perwakilan dari Kemenag Kabupaten Gowa, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, ICATT, Lembaga Dakwah NU, Forum Muballigh Alumni Gontor, serta para pemuda lintas iman 

TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA – Di tengah dinamika keberagaman yang kian kompleks, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama melalui kegiatan Dialog Lintas Agama dan Budaya, Senin (23/6/2025). 

Acara yang dilaksanakan di Resto Akaddo Waroengta, Kabupaten Gowa ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang bertukar pikiran antar tokoh agama, organisasi masyarakat, dan pemuda lintas iman dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di Sulawesi Selatan.

Acara ini dihadiri oleh 70 peserta dari berbagai unsur, antara lain perwakilan dari Kemenag Kabupaten Gowa, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, ICATT, Lembaga Dakwah NU, Forum Muballigh Alumni Gontor, serta para pemuda lintas iman dan jurnalis.

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Dr H Ali Yafid, menekankan bahwa kerukunan umat beragama merupakan aset bangsa yang tidak ternilai. 

Ia meyakini bahwa pertemuan lintas agama seperti ini membawa berkah dan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat.

“Saya yakin, pertemuan ini membawa keberkahan. Kerukunan umat beragama di Indonesia adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan, banyak orang luar negeri datang ke Indonesia karena kita dikenal sebagai bangsa yang rukun,” ujar Ali Yafid di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa konsep mayoritas dan minoritas tidak selayaknya menjadi dasar dalam memperlakukan sesama, apalagi dalam konteks keagamaan.

Baginya, semua agama mengajarkan kebaikan dan kemaslahatan, sehingga saling menghargai adalah kunci menjaga keharmonisan.

“Tidak ada konsep mayoritas-minoritas dalam Al-Qur’an. Kenapa kita harus saling mencela dan mengolok-olok? Kalau pun ada gesekan, itu hanya ulah segelintir oknum dan bukan karena agama,” tambahnya.

Ali Yafid juga menyinggung pengalamannya saat bertugas di Ambon pada masa konflik sosial, yang memberinya pelajaran mendalam tentang pentingnya membangun komunikasi lintas agama dan menjaga ketahanan sosial dari tingkat paling bawah.

Penguatan Moderasi Melalui Program Asta Aksi

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Asta Aksi yang digagas Kemenag, yang bertujuan untuk menginternalisasi nilai-nilai ajaran agama dan memperkuat moderasi beragama.

Dua fokus utama yang ditekankan dalam program tersebut adalah: pertama, memberikan edukasi kepada umat tentang nilai-nilai agama yang membawa kedamaian dan kemanusiaan, dan kedua, memperkuat penyuluhan untuk menciptakan masyarakat yang religius namun tetap inklusif dan toleran.

“Tugas pokok kita adalah mendekatkan umat pada agamanya, bukan menjauhkan. Semua agama pasti mengajarkan kebaikan, dan tidak ada satu pun yang mengajarkan permusuhan,” ucap Ali Yafid.

Ia juga menyebut bahwa Sulawesi Selatan secara historis memiliki tradisi kerukunan yang kuat, dan kondisi ini harus terus dijaga bersama oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved