Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Prakiraaan Cuaca Hari Ini

Prakiraan Cuaca Sulsel Hari Ini 11 Juni: 7 Daerah Diguyur Hujan Sedang Siang hingga Sore

BMKG prediksi 7 daerah di Sulsel diguyur hujan sedang siang hingga malam, Rabu (11/6/2025). Sulsel masih dilanda kemarau basah hingga Agustus.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Sukmawati Ibrahim
BMKG Makassar
CUACA SULSEL – Hujan intensitas sedang diprediksi mengguyur sejumlah wilayah Sulsel dari siang hingga malam, Rabu (11/6/2025). Tahun ini Sulsel alami kemarau basah.   

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Sulawesi Selatan (Sulsel) masih mengalami curah hujan pada pertengahan Juni 2025.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memprediksi hujan dengan intensitas sedang masih akan mengguyur sejumlah wilayah Sulsel pada Rabu (11/6/2025).

Pada pagi hari, hujan ringan diprediksi hanya turun di Palopo dan Luwu.

Selanjutnya, siang hingga sore hari, hujan sedang diperkirakan meluas ke wilayah utara Sulsel, di antaranya Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Toraja Utara, Tana Toraja, Gowa, dan Bulukumba.

Pada malam hari, hujan ringan berpotensi turun di Palopo, Luwu, Wajo, Bantaeng, dan Gowa. 

Sementara hujan sedang juga diprediksi terjadi di Bulukumba, Bone, Sinjai, dan Selayar.

Suhu udara berkisar antara 19 hingga 32 derajat Celcius, dengan kelembapan antara 78 hingga 100 persen.

BMKG menyebut Sulsel saat ini berada dalam masa kemarau basah, yakni curah hujan masih terjadi pada musim kemarau (April–Oktober). 

Fenomena ini diprediksi berlangsung hingga pertengahan Agustus 2025.

Setelah itu akan masuk masa transisi (pancaroba) pada September–November, sebelum musim hujan dimulai pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Fenomena kemarau basah bukan hal baru. 

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia rutin mengalaminya, seperti pada 2010, 2013, 2016, 2020, 2023, dan kini 2025.

Fenomena ini disebabkan kombinasi faktor La Nina, suhu laut yang hangat, serta aktivitas atmosfer seperti Osilasi Madden-Julian (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Bagus Primohadi S, menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir terjadi fenomena atmosfer yang cukup intens.

“Fenomena gelombang atmosfer seperti Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden Julian Oscillation (MJO) bertemu di saat bersamaan sehingga menyebabkan meningkatnya curah hujan,” ucap Bagus, beberapa waktu lalu saat dihubungi.

Menurutnya, gabungan tiga fenomena ini memicu pembentukan awan konveksi yang menyebabkan hujan meningkat secara otomatis.

Dampaknya, produksi padi ikut meningkat. 

Namun, di sisi lain, curah hujan tinggi mengganggu pertumbuhan beberapa jenis tanaman dan berdampak pada naiknya harga ikan laut di pasaran. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

 

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved