Haji 2025
Jenderal Dudung dan Tim Amirulhaj Diskusi dengan Jamaah Jeneponto-Maros dan Sektor 2 Makkah
Tercatat, ada 23 hotel dan kloter terakhir yang tiba berasal dari UPG 40. Kloter ini gabungan sejumlah jamaah haji dari Kabupaten Jeneponto, Maros
Penulis: Mansur AM | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH – Tim Amirulhaj Indonesia mengunjungi jemaah haji sektor 2 di Kota Makkah.
Kunjungan digelar Minggu 1 Juni 2025 di Hotel Emaar Al Diyafa, Sektor 2.
Sektor ini menampung 21 ribu jemaah dari 71 kloter berbagai embarkasi.
Tercatat, ada 23 hotel dan kloter terakhir yang tiba berasal dari UPG 40. Kloter ini gabungan sejumlah jamaah haji dari Kabupaten Jeneponto, Maros, dan sejumlah daerah.
Kunjungan Tim Amirul Haj untuk memantau kesiapan jemaah jelang puncak haji Armuzna.
Tim Amirulhaj terdiri dari sejumlah tokoh nasional dan tokoh keagamaan Indonesia.
Di antaranya Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dan Menteri PPPA Arifah Chori Fauzi.
Turut hadir Rektor IPB Prof Arif Satria dan pengurus PP Muhammadiyah Syamsul Anwar.
Dalam sambutannya, Jenderal Dudung menekankan pentingnya memahami sistem haji terbaru.
Ia menyebut tahun ini ada perubahan sistem layanan dari Pemerintah Arab Saudi.
“Perubahan ini harus dipahami agar jemaah tak bingung,” ujar Dudung.
Ia juga mengingatkan jemaah untuk menjaga kondisi fisik.
“Suhu di Makkah bisa mencapai 42 derajat Celsius,” katanya mengingatkan.
Dudung menganjurkan jemaah menghindari aktivitas luar ruang pukul 10–16.00 WAS.
“Banyak minum, istirahat cukup, dan jaga fisik,” pesannya.
Ia juga melaporkan data kematian jemaah hingga 1 Juni mencapai 108 orang.
“Kita doakan mereka husnul khatimah,” ujar Dudung.
Menteri PPPA Arifah menyoroti pentingnya layanan haji ramah perempuan.
Menurutnya, kebutuhan perempuan harus diperhatikan, termasuk toilet dan konsultasi kesehatan.
“Ini penting demi kenyamanan ibadah,” ucap Menteri yang juga Ketum Muslimat NU.
Ia juga berpesan agar jemaah tidak memaksakan ibadah sunnah.
“Utamakan ibadah wajib, jangan sampai kelelahan,” pesannya.
Menurutnya, fisik yang prima penting saat puncak haji nanti.
Prof Arif Satria mengingatkan haji adalah momentum transformasi diri.
“Haji bukan sekadar ritual, tapi panggilan iman,” ujarnya.
Ia mengajak jemaah menjaga nilai-nilai haji sepulang ke Tanah Air.
“Buktikan rasa syukur dalam perilaku sehari-hari,” jelasnya.
Arif menyebut haji juga tentang perubahan jiwa dan moral.
“Nilai-nilainya harus dibawa pulang,” katanya.
Sementara itu, Prof Syamsul Anwar menyoroti aspek fisik dalam ibadah haji.
“Haji adalah ibadah berat secara fisik,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kesabaran dan ketangguhan menghadapi tantangan.
“Sabar bukan sehari, tapi terus dilatih,” tegasnya.
Ia mengajak jemaah meneladani Rasulullah SAW dalam berhaji.
“Beliau hanya sekali berhaji dan dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Syamsul mengimbau jemaah memaksimalkan ibadah sesuai kemampuan.(Media Centre Haji)
| Antrean Haji Bantaeng Paling Lama, Kementerian Haji akan Disamaratakan 26,4 Tahun |
|
|---|
| Menag Nasaruddin Umar Minta Maaf atas Layanan Haji 2025 |
|
|---|
| Foto-foto Kloter Terakhir Jamaah Haji Tinggalkan Madinah, Petugas: Semoga Mabrur Semua |
|
|---|
| Cerita Jamaah Haji Jalan Kaki dari Musdalifah ke Mina Sejauh 3 KM saat Suhu 48 Derajat |
|
|---|
| Wakil Bupati Jemput 360 Jemaah Haji Asal Wajo di Asrama Haji Sudiang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Jenderal-TNI-Purn-Dudung-Abdurahman-bersama-tim-Amirul-Haj-dialog-dengan-jamaah-haji-Sektor-2.jpg)