Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Air Mata Seorang Ayah

Lain halnya dengan Aristoteles, filsuf Yunani kuno, yang menulis bahwa memori adalah juru tulis jiwa manusia. 

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
OPINI - Willy Kumurur penikmat bola 

Xana menjalani perawatan di Rumah Sakit Anak-anak Sant Joan de Déu, Esplugues de Llobregat, Barcelona, selama lima bulan yang berat.

Meskipun telah dilakukan berbagai upaya medis, kanker tersebut terlalu agresif. Pada 29 Agustus 2019, Xana menghembuskan nafasnya yang terakhir dan pulang menuju keabadian, dalam usia sembilan tahun; menorehkan kepedihan yang amat dalam bagi Enrique, istrinya Elena Cullell dan keluarga mereka.

“Putri kami datang untuk tinggal bersama kami selama sembilan tahun yang indah. Ada ribuan kenangan tentang dia…..,” tutur Enrique dengan lirih mengenang kepergian putri tercintanya itu.

Dalam wawancara sehari sebelum laga final PSG lawan Inter Milan di Allianz Arena, Enrique menyatakan keinginannya untuk memberi penghormatan kepada Xana jika PSG memenangkan Liga Champions, mengingat kenangan sepuluh tahun yang lalu ketika Xana menancapkan bendera Barcelona di lapangan Stadion Olimpiade Berlin.

Ia berharap dapat menancapkan bendera Paris Saint-Germain (PSG) di Allianz Arena, Munich. “Putri saya tidak akan hadir secara fisik, namun ia akan hadir secara spiritual.”

Sepuluh tahun setelah peristiwa di Stadion Olimpiade - Berlin, tepatnya 1 Juni 2025, tim yang diasuh Enrique membenamkan Inter Milan 5-0 ke dasar jurang kehancuran, sekaligus memenangkan final Liga Champions.

Momen menyentuh hati itupun datang. Luis Enrique mengganti kaos yang dipakainya dengan kaos hitam bergambar animasi sosok yang berukuran kecil menemani sosok yang lebih besar menancapkan tiang bendera PSG ke lapangan.

Lalu terdengar gemuruh suara gegap-gempita dari tribun penonton. Ribuan fans PSG membentangkan tifo atau spanduk besar bergambar Luis Enrique yang menancapkan bendera PSG di garis tengah lapangan disaksikan oleh seorang anak perempuan memakai jersey PSG bernomor punggung 8; dan di bawah nomor punggung itu tertulis nama Xana.

Itulah perhargaan dan penghormatan yang dipersembahkan oleh pendukung PSG kepada Enrique atas jasanya membawa PSG untuk pertama kalinya juara Liga Champions, sebuah goresan tinta emas dalam sejarah sepekbola Eropa.

Menyaksikan penghormatan itu, Enrique tak kuasa membendung air matanya yang berlinang.

“Saya sangat bahagia. Itu momen yang sangat emosional saat melihat spanduk dari para suporter untuk keluarga saya,” ujar Enrique yang berusaha menahan sedu-sedannya.

“PSG belum pernah juara Liga Champions. Kini kami meraihnya. Betapa bahagianya bisa membuat banyak orang bahagia.”

Sosialita Amerika, Lee Radziwill, menulis, “Saya percaya bahwa tanpa kenangan (memori) tak ada kehidupan, dan memori kita seharusnya adalah tentang masa-masa bahagia.”****

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved