Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pengepul di Tirowali Luwu Diduga Kurangi Timbangan Gabah Petani

Bulog akan mendatangi petani di sawah, tanpa potongan apa pun, dengan harga Gabah Hasil Panen (GHP) Rp 6.500 per kilogram.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Alfian
Istimewa/Adi Yanuar
PEMBELIAN GABAH - Tim Penjemputan Gabah, Bulog Cabang Kota Palopo saat mendatangi petani di sawah untuk membeli Gabah Hasil Panen (GHP) Rp 6.500 per kilogram. 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU – Warga Desa Tirowali, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, memprotes dugaan kecurangan pengepul gabah setelah sebuah video amatir viral di media sosial.

Dalam rekaman yang diunggah akun Facebook @Said Palita ke grup Info Kejadian Luwu, tampak timbangan karung gabah petani dipotong sepihak hingga sekitar 10 kilogram.

“Tolong Pak Danramil ditertibkan pengusaha gabah yang merugikan petani, Desa Tirowali, Kecamatan Ponrang. Pak Bupati mohon ditertibkan,”
tulis Said Palita dalam keterangan unggahan.

Menanggapi viralnya video tersebut, Dandim 1403 Palopo Letkol Armed Kabit Bintaro Priyambono mengaku meminta anggotanya turun langsung ke lokasi.

Ia menjelaskan, selama ini Bulog memang melibatkan TNI, khususnya Babinsa, untuk mengawasi penyerapan gabah petani.

Namun pada peristiwa ini, petani diduga tidak berkoordinasi terlebih dahulu dengan Babinsa atau mitra resmi Bulog, sehingga kesepakatan pemotongan berat gabah terjadi langsung antara petani dan pengepul.

“Kemungkinan seperti itu,” ujar Kabit Bintaro.

Ia menambahkan, setelah dicek, kondisi gabah petani di Desa Tirowali masih memiliki kadar air tinggi, yakni sekitar 25 persen.

Sementara itu, Pimpinan Cabang Bulog Palopo Adi Yanuar menegaskan dua mekanisme penyerapan gabah di wilayah Luwu Raya.

Pertama, Bulog akan mendatangi petani di sawah, tanpa potongan apa pun, dengan harga Gabah Hasil Panen (GHP) Rp 6.500 per kilogram.

"Pemblian kedua melalui mitra Bulog yang ditunjuk, dengan sistem penjemputan di lokasi panen," bebernya.

Adi menyebut, apabila terdapat potongan hingga 10 kilogram seperti dalam video, hal itu kemungkinan kesepakatan antara petani dan pengepul, bukan kebijakan Bulog.

Ia lalu menyarankan, agar petani selalu menghubungi Babinsa atau gudang bulog terdekat sebelum menjual gabah.

Karena keterbatasan sumber daya manusia, Bulog Palopo hanya memiliki 23 mitra di Luwu Raya.

Untuk menutupi kekurangan kapasitas, Bulog juga bekerja sama dengan mitra dari Kabupaten Sidrap.

"Setelah digiling menjadi beras, hasilnya kemudian dikirim kembali ke gudang Bulog Palopo," ujar Adi.

Dengan langkah-langkah pengawasan yang melibatkan TNI dan Babinsa, Bulog berupaya memastikan hak petani terpenuhi dan praktik kecurangan di lapangan dapat diminimalisir.

Namun, koordinasi yang lebih baik antara petani, Babinsa, dan mitra pengepul dinilai krusial agar problema serupa tak terulang.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved