Opini Jusriadi
Kegagalan Pasar di Indonesia
Jika memang ada penderitaan yang ditimbulkan oleh pasar, maka penderitaan tersebut terjadi secara individual saja.
Oleh: Jusriadi S.Sos
Alumni Mahasiswa UIN Alauddin Makassar / Aktivis HMI
TRIBUN-TIMUR.COM - Bagi penganut ekonomi klasik, seperti J.B Say dan David Ricardo, mempercayai bahwa kegagalan pasar merupakan hal yang mustahil terjadi. Kenapa demikian?
Jika memang ada penderitaan yang ditimbulkan oleh pasar, maka penderitaan tersebut mustahil terjadi. Kenapa demikian?
Jika memang ada penderitaan yang ditimbulkan oleh pasar, maka penderitaan tersebut terjadi secara individual saja.
Dengan kata lain, pendapatan dan kesejahteraan dari semua penjual sebagai satu kesatuan tidak mungkin bisa mengalami kerugian.
David Ricardo, oleh karena itu memberikan argumen; “ orang memproduksi selalu dengan tujuan agar bisa menjual dan mengonsumsi dan begitu juga menjual selalu dengan tujuan agar bisa membeli komoditas lain, yang bisa berguna secara langsung baginya atau bisa berguna bagi kegiatan produksinya di masa depan.
Maka ketika seorang melakukan produksi, ia dapat sekaligus manjadi konsumen bagi barangnya sendiri atau dapat menjadi pembeli dan konsumen dari barang orang lain.
Bisa jadi dia tidak tahu apa komoditas yang paling menguntungkan untuk ia produksi, tetapi ketidak Tahuan itu tidak mungkin berlangsung lama.
Sehingga ia pasti akan selalu bisa mencapai tujuannya, yaitu memiliki barang barang lain.
Karenanya dapat disimpulkan bahwa orang tidak mungkin akan terus-menerus memproduksi sebuah komoditas yang tidak diinginkan orang lain.
Argumen tidak mungkin terjadi kegagalan pasar sebagai keseluruhan, yang mungkin hanyalah kegagalan individual yang tidak mampu menemukan pembeli, ditegaskan dalam penjelasannya sebagai berikut: bisa jadi komoditas tertentu yang di produksi dalam jumlah yang terlalu banyak.
Sehingga pasar menjadi jenuh dan produsen dari barang itu tidak berhasil mendapatkan kembali kapital yang sudah ia keluarkan untuk memproduksi barang barang itu.
Tetapi hal semacam itu tidak mungkin terjadi pada semua komoditas.
Misalnya permitaan terhadap jagung akan dibatasi oleh jumlah orang yang mau mengonsumsinya, atau permintaan terhadap sepatu dan mantel akan dibatasi oleh jumlah orang yang mau mengenakannya.
| Deretan 17 Hari Libur Nasional Sepanjang Tahun 2026, Cuti Bersama 8 Hari |
|
|---|
| Jenderal TNI Keliling Bone Sulsel Pantau Pembangunan Koperasi Merah Putih |
|
|---|
| Kalah dari Borneo FC, Sanksi Denda Rp50 Juta Juga Menanti PSM Makassar |
|
|---|
| PSM Makassar Bakal Tambah Amunisi Lini Belakang, Tomas Trucha Pertimbangkan Asing atau Lokal |
|
|---|
| Amphuri Sulampua Ungkap Tantangan dan Peluang Industri Umrah di 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/usriadi-SSos-4.jpg)