Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rahayu Ummu Zahra

Melihat Kembali Peran Perjumpaan Iman

Walaupun negara telah mengaturnya sebaik mungkin perihal ini akan tetapi dalam struktur dari masyarakat sendiri yang perlu dibenahi.

Editor: Sudirman
Rahayu
OPINI - Rahayu Ummu Zahra Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin makassar 

Oleh: Rahayu Ummu Zahra

Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UIN Alauddin makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Indonesia adalah bangsa yang memiliki banyak keberagaman, negara yang multikultural dan memiliki ideologi yang sangat moderat.

Pancasila sebagai ideologi bangsa ini cukup menjadi penerang bagi kaum-kaum yang minoritas, di bagian pertama Pancasila tersebut memiliki makna yang luas dan siapa saja berhak mengimani hal yang ia yakini itu benar.

Selain itu dalam UUD pasal 28E ayat 1 juga menyatakan bahwa “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Melihat hal tersebut bahwa pemerintah secara sadar membebaskan setiap orang memilih jalan hidupnya sendiri, selama tidak merugikan pihak manapun dan juga akan melindungi setiap hak-hak mereka.

Walaupun negara telah mengaturnya sebaik mungkin perihal ini akan tetapi dalam struktur dari masyarakat sendiri yang perlu dibenahi.

Tidak dapat dipungkiri di dalam bermasyarakat masih terjadi gejolak konflik antar umat beragama yang dikarenakan kurangnya perjumpaan iman yang berbeda.

Salah Faham Perjumpaan Iman

Berjumpa dengan iman berbeda masih dianggap tabu bagi sebagaian kalangan.

Perjumpaan iman membuat sebagian orang terserang alergi iman, karena mereka menganggap perkumpulan itu ibarat penyakit menular yang dapat membunuh iman yang selama ini ia yakini.

Perjumpaan lintas iman ini juga masih sangat tabu untuk sebagian kalangan yang fanatik akan agama tertentu karena mereka merasa akan menodai kesucian dari esensi agama mereka sendiri.

Sebagian orang juga menganggap agama bukan hanya sebatas tentang keyakinan semata akan tetapi melihatnya sebagai pilar utama kehidupan.

Oleh karena itu mereka takut jika perjumpaan lintas iman itu terjadi akan mempengaruhi keyakinan yang selama ini telah
ia genggam erat.

Padahal ketika kita pahami, kita sadari dan kita ketahui bahwa lewat perjumpaan itulah kita bisa lebih menilai sebagaimana baiknya kita mengenali iman kita sendiri sebelum menjudge mereka yang berbeda itu salah, keliru, tidak pantas dan penyakit alergi iman.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved