Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Paket Kiriman

Namun apabila paket yang dikirim di luar dari kewajaran terkesan negatif justru potensi jadi bumerang saling mencurigai dan bisa dipermasalahkan.

Editor: Sudirman
Rahmat Muhammad
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Oleh: Rahmat Muhammad 

Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Di akhir Bulan Suci Ramadan jelang lebaran, hal lazim yang biasa dilakukan masyarakat juga antar instansi berupa saling kirim paket lebaran sebagai wujud silaturrahmi agar tetap terjaga tentu dengan kesan positif yang apresiatif baik pengirim maupun penerima dalam suasana hati riang gembira.

Namun apabila paket yang dikirim di luar dari kewajaran terkesan negatif justru potensi jadi bumerang saling mencurigai dan bisa dipermasalahkan.

Surprise bagi Tempo setelah menerima paket yang menggemparkan berisi kepala babi tanpa telinga kemudian disusul lagi dengan kedatangan enam bangkai tikus yang kepalanya dipenggal.

Heboh tentu, meski yang ditujukan buat orang tertentu tapi secara kontekstual redaktur Tempo terganggu akan hal ini karena bukan sekadar tindakan iseng atau ancaman biasa yang oleh Kepala Komunikasi Kepresidenan direspon dengan "dimasak saja" yang mau canda tapi garing dan tidak lucu.

Bahwa ini adalah sinyal yang dikirimkan dengan pesan yang jelas, ada pihak merasa terganggu dengan keberanian Tempo dalam mengungkap kebenaran.

Dalam Sosiologi, teror semacam ini bukan hanya bentuk ancaman fisik, tetapi juga kekerasan simbolik.

Simbol yang digunakan dalam paket teror ini sarat makna. Secara kultural bagi komunitas masyarakat tertentu kepala babi dianggap menjijikkan bahkan najis dan diharamkan bagi penganut agama Islam.

Pengirim ingin menyampaikan pesan penghinaan, menggambarkan Tempo sebagai sesuatu yang kotor dan pantas disingkirkan.

Sementara itu, tikus sering dikaitkan dengan pengkhianatan dan kejahatan, seolah ingin agar Tempo sebagai ancaman yang harus diberangus.

Dari perspektif semiotika, simbol memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan emosi. Ancaman dalam bentuk simbolik seperti ini jauh lebih mengerikan karena menyerang psikologis penerima.

Tidak ada kata-kata yang tertulis dalam paket itu, tetapi pesannya sampai dengan sangat jelas, diam atau hadapi konsekuensi.

Ini adalah pola klasik dalam masyarakat yang masih memiliki sisa budaya feodal dan otoritarianisme terselubung.

Ketika kekuatan tertentu merasa terancam oleh kebebasan pers, mereka tidak selalu menggunakan cara langsung seperti kriminalisasi atau pembungkaman hukum.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved