Nasaruddin Umar
Merawat Kemabruran Puasa 19: dari Syukur ke Syakur
Kedua, syukur, yaitu menyandarkan segala nikmat itu kepada sang pemberi nikmat, yaitu Allah SWT dengan sikap rendah diri.
Oleh: Prof Nasaruddin Umar
Menteri Agama
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada tiga tingkatan syukur yang sering dipahami secara rancu.
Pertama tahmid, yaitu mengucapkan lafaz alhamdulillah, saat kita memperoleh keberuntungan.
Kedua, syukur, yaitu menyandarkan segala nikmat itu kepada sang pemberi nikmat, yaitu Allah SWT dengan sikap rendah diri.
Seseorang baru disebut bersyukur manakala memberikan hak hak orang lain dari harta yang Allah berikan ke kita.
Misalnya gaji dan pendapatan lain yang kita peroleh sebulan dikeluarkan minimum 2,5 persen kepada para mustahiq sebagai bagian dari zakat dan shadaqah kita.
Inilah yang disebutkan di dalam Alquran: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (Q.S. Ibrahim/14:7).
Ketiga, syakur, yaitu orang-orang yang tidak hanya mensyukuri kenikmatan, kebahagiaan, dan keberuntungan, tetapi juga mensyukuri segala bentuk musibah, penderitaan, malapetaka, dan kekecewaan yang melanda dirinya.
Segala bentuk penderitaan dan kemalangan dianggapnya sebagai “surat cinta” Tuhan.
Sekian lama ia dipanggil Tuhan dengan kenikmatan dan kebahagiaan tetapi tidak menyadarinya, bahkan terkadang mabuk dengan kemewahan dan kenikmatan hidup.
Nama Tuhan yang disebut ketika dalam keadaan bahagia dan senang tidak seakrab dan sedalam ketika di dalam suasana kepedihan dan penderitaan.
Tahmid dan syukur banyak dilakukan orang, lebih banyak lagi yang tidak bertahmid dan tidak bersyukur.
Syakur amat terbatas orang yang bisa sampai ke sana. Allah SWT juga menyatakan: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (Q.S. Saba’/34:13).
Syakur sebagai tingkat kesyukiran paling tinggi, dambaan semua orang.
| Menag Nasaruddin Umar: As’adiyah Macanang Tumbuh Pesat Sejak Sebelum Saya Menjabat |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 29: Dari Salam, Islam, dan ke Istislam |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 28: Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 27: Dari Wirid ke Warid |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa 26: Dari Ta’abbud ke Isti’anah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PUASA-RAMADAN-Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar.jpg)