Opini Shela Kusumaningtyas
Melihat Adopsi Teknologi dari Fenomena Joki Strava
Tetapi juga dimaknai dan dimodifikasi oleh penggunanya dalam berbagai cara yang tidak selalu sesuai dengan niat awal pembuatnya.
Oleh: Shela Kusumaningtyas
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI
TRIBUN-TIMUR.COM - Fenomena joki Strava merupakan contoh menarik dari bagaimana teknologi tidak hanya dikembangkan untuk tujuan tertentu.
Tetapi juga dimaknai dan dimodifikasi oleh penggunanya dalam berbagai cara yang tidak selalu sesuai dengan niat awal pembuatnya.
Menggunakan perspektif Social Construction of Technology (SCOT), fenomena ini dapat dijelaskan sebagai hasil dari interaksi antara berbagai aktor sosial yang memiliki interpretasi berbeda terhadap teknologi Strava.
Strava, sebagai aplikasi pelacak aktivitas olahraga berbasis GPS, pada awalnya dikembangkan untuk membantu pengguna merekam dan berbagi perjalanan olahraga mereka secara akurat dan transparan.
Namun, dengan berkembangnya media sosial dan budaya digital yang semakin menekankan pencitraan diri, muncul
kecenderungan di mana data aktivitas fisik tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga sebagai bentuk modal sosial.
Hal ini menciptakan dorongan bagi sebagian individu untuk memanipulasi data olahraga mereka agar mendapatkan
pengakuan lebih besar dari komunitas digital.
Dari sinilah joki Strava hadir sebagai solusi yang ditawarkan oleh aktor sosial tertentu untuk memenuhi kebutuhan individu
yang ingin meningkatkan citra digital mereka tanpa harus menjalani latihan fisik yang sesungguhnya (Wahyu et al., 2024).
Dalam teori SCOT (Pinch & Bijker, 1984), teknologi dipandang sebagai sesuatu yang dikonstruksi secara sosial oleh kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan berbeda.
Setiap kelompok pengguna memiliki interpretasi masing-masing terhadap Strava.
Kelompok pertama adalah atlet dan penggemar olahraga yang menggunakan Strava untuk melacak dan meningkatkan performa mereka secara jujur.
Bagi mereka, kehadiran joki Strava merupakan distorsi terhadap makna asli dari aplikasi ini. Kelompok kedua adalah pengguna yang lebih mementingkan citra sosial dibandingkan performa aktual.
Bagi mereka, Strava bukan hanya alat pemantau kebugaran, tetapi juga media untuk memperoleh pengakuan dari komunitas digital.
Kelompok ini melihat joki Strava sebagai cara yang sah untuk mencapai tujuan sosial mereka (Epranata & Bangun, 2022).
| Tangis Ibu Pecah, Kopilot ATR 42-500 Farhan Gunawan Dimakamkan di Gowa |
|
|---|
| Membangun Ekosistem AI Multikultural: Catatan dari Indonesia |
|
|---|
| Sosok Mahasiswa Penemu Black Box Pesawat ATR di Pangkep Baru Terungkap, Rela Panjat Pohon |
|
|---|
| Polri Mutasi 85 Pati dan Pamen: 4 Pejabat Utama Mabes Polri dan 3 Kapolda Berganti |
|
|---|
| Tutup Jalan Trans Sulawesi, Massa Aksi di Palopo Suarakan Ketimpangan Pembangunan Luwu Raya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Shela-Kusumaningtyas-3.jpg)