Jenesys 2025
Masalah Serius Depopulasi Jepang, Anak Muda Ogah Menikah hingga Sekolah Tutup karena Tak Punya Siswa
Kota Takikawa di Prefektur Hokkaido satu di antaranya yang sedang menghadapi depopulasi yang cukup serius
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Sudirman
Laporan Jurnalis Tribun Timur Fahrizal Syam dari Takikawa, Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM, TAKIKAWA - Jepang sedang dilanda masalah depopulasi yang cukup serius.
Jumlah penduduknya berkurang drastis sejak beberapa tahun terakhir.
Penyebabnya ada banyak, namun masalah utama adalah pemuda atau usia dewasa, enggan menikah dan memiliki anak.
Kota Takikawa di Prefektur Hokkaido satu di antaranya yang sedang menghadapi masalah ini.
Sejatinya hampir semua kota besar hingga kota kecil di Jepang menghadapi masalah depopulasi.
Khusus di Kota Takikawa, sejak 30 tahun terakhir, jumlah penduduknya berkurang sekira 29 persen.
Puncak jumlah tertinggi penduduk Takikawa ada di tahun 1985, di mana saat itu penduduknya mencapai 52.004 jiwa.
Namun data terakhir per Desember 2024, jumlah penduduk tersisa 36.582 jiwa.
Bahkan diprediksi 20 tahun ke depan, jumlah penduduk diperkirakan akan tersisa 25.318 jiwa.
Data ini diungkap Makoto Kamakuza, Divisi Perencanaan Departemen Urusan Umum Kota Takikawa.
Data diungkap kepada peserta Jenesys 2025 saat berkunjung ke kantor Wali Kota Takikawa, Kamis (30/1/2025).
Masalah depopulasi di Takikawa disebabkan angka kelahiran sangat rendah.
Ditambah lagi, dari total 36.582 jiwa penduduk Takikawa saat ini, 36,5 persen di antaranya sudah berusia 65 tahun ke atas alias usia senja.
Makoto sebut saat ini rerata pemuda atau usia dewasa di Jepang enggan untuk menikah.
Sementara budaya di Jepang, pasangan yang belum menikah tak boleh memiliki keturunan atau anak.
"Penyebabnya sebenarnya sangat komplit, penurunan angka kelahiran karena pasangan yang mau menikah semakin berkurang," ujarnya.
Jika diurai dari faktor ekonomi, kebutuhan ekonomi memicu pemuda Jepang enggan mengakhiri masa lajangnya.
Jika menikah, otomatis biaya hidup yang harus dikeluarkan pasangan akan meningkat drastis.
"Harga barang naik, sementara gaji atau upah tidak bertambah," Kata Makoto.
Depopulasi juga berimbas ke sektor pendidikan di Kota Takikawa.
Siswa berkurang hingga akhirnya beberapa sekolah terpaksa tutup karena kehabisan peserta didik.
Data terakhir, total siswa taman kanak-kanak hingga SMA di Takikawa hanya berjumlah 4.112.
Jumlah itu berkurang lebih dari 50 persen dibanding jumlah pada tahun 1992.
"Ada sekolah SMP ditutup, utamanya di pedesaan, bahkan di perkotaan pun sudah ada," ujarnya.
Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah Jepang, khususnya Kota Takikawa untuk tetap menjaga populasi penduduknya.
Langkah seperti berdiskusi dan bertemu warga rutin dilakukan.
Pada diskusi itu mereka membicarakn beberapa tema seperti dukungan pengasuhan anak hingga pendidikan sekolah.
"Kami ingin memastikan warga merasa aman saat melahirkan dan membesarkan anak, juga dukungan biaya rawat jalan saat melahirkan," paparnya.
Tak hanya itu, pemerintah Kota Takikawa juga berupaya meminimalisir arus keluar penduduk dengan membanngun kota senyaman mungkin.
Pasalnya, banyak warga usia produktif juga memilih meninggalkan Kota Takikawa.
Pada 2021 saja, 1.940 warga Takikawa bertransmigrasi ke kota-kota besar di Jepang.
"Pindah ke daerah perkotaan memang merupakan tren nasional, tapi bagaimana kalau mereka hanya pindah ke kota sebelah (tetangga)? Ini harus kami perhatikan agar populasi kami tidak semakin berkurang," pungkasnya. (*)
Kanji Bukan Sekadar Kaligrafi, Tapi Seni Ekspresikan Diri |
![]() |
---|
Cerita Pipang Bugis, Keluarga Kecil, dan Air Mata Perpisahan dengan Warga Jepang |
![]() |
---|
Generasi Muda Jepang Mulai Enggan Nonton TV, Pembaca Surat Kabar Masih Besar |
![]() |
---|
Melihat Parlemen Hokkaido, Tak Ada Sekat untuk Masyarakat |
![]() |
---|
Jalan Kaki di Tengah Hujan Salju Lebat, Peserta Jenesys 2025 Temui Pemerintah Kota Takikawa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.