Opini
Fenomena Brain Rot dalam Pembangunan Nasional
Brain rot menggambarkan kondisi mental seseorang merasa sulit untuk fokus, berpikir kritis, atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi.
Oleh
Dr Ir N Tri Suswanto Saptadi SKom MT MM IPM
Dosen Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Tim Komkep KAMS/Koordinator ISKA Wilayah Sulawesi/Ketua IKDKI Wilayah SulSelTraBar/Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) RI PPRA LX 2020
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan pengarahan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Musrenbangnas RPJMN) 2025-2029 di Ruang Rapat Djunaedi Hadisumarto, Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.
Kepala Negara menegaskan pentingnya suatu perencanaan dalam pembangunan nasional berbasis ekonomi Pancasila, yang merupakan perpaduan antara pasar bebas dan ekonomi yang direncanakan dan mengutamakan asas kekeluargaan sesuai dengan nilai-nilai UUD NRI 1945.
Tahun 2030, Indonesia akan memperoleh bonus demografi yang merupakan suatu keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) akan mencapai proporsi terbesar dibandingkan usia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).
Hal ini merupakan peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, asalkan dapat dikelola dengan baik dan secara proporsional.
Saat ini pula, masyarakat Indonesia tengah menghadapi fenomena brain rot yang sering digunakan secara informal untuk menggambarkan kondisi mental di mana seseorang merasa sulit untuk fokus, berpikir kritis, atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi.
Istilah ini tidak mempunyai dasar ilmiah secara langsung tetapi sering dihubungkan dengan keberadaan dan pengalaman kelebihan stimulasi dari media digital, kecanduan hiburan, atau kelelahan mental.
Menurut psikolog sekaligus profesor Universitas Oxford, Andrew Przybylski, istilah ini merupakan “gejala dari zaman yang sedang kita jalani.”
Sangat normal, karena seseorang yang tidak akrab dengan perasaan “kosong” setelah berjam-jam menonton “short movie” yang sebenarnya tidak begitu penting dan relevan untuk disaksikan.
Fenomena ini tentu perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah dan masyarakat umum agar Indonesia mampu menyambut bonus demografi secara efektif dan terukur untuk pembanguan nasional.
Penyebab Umum
“Brain rot” disebabkan oleh konsumsi konten digital secara berlebihan melalui media sosial, streaming, atau game yang merangsang dopamin atau hormon dalam otak yang berpengaruh pada suasana hati seseorang, tanpa membutuhkan upaya kognitif besar.
Seseorang yang kurang tidur atau pola tidur tidak teratur dapat mengganggu fungsi dari otak.
Hal ini juga terkait dengan aktivitas multitasking digital di mana kebiasaan beralih antara aplikasi, tugas, atau notifikasi secara terus-menerus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Tri-Suswanto-Saptadi-Dosen-Universitas-Atma-Jaya.jpg)