Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ambisi Oka Antara dalam Film Wanita Ahli Neraka

Ambisi Oka Antara yang memerankan Wahab dalam film Wanita Ahli Neraka digambarkan sebagai sosok yang rela menghalalkan segala cara demi ambisinya.

Istimewa
Oka Antara yang memerankan Wahab dalam film Wanita Ahli Neraka. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Film horor terbaru, Wanita Ahli Neraka, dari Visinema Pictures mengangkat kisah yang bukan hanya penuh kengerian, tetapi juga relevan dengan situasi Pilkada yang sedang ramai diperbincangkan.

Oka Antara memerankan Wahab, seorang pemilik peternakan yang memutuskan untuk maju sebagai kepala daerah di tempat tinggalnya.

Sebagai tokoh ambisius, cara Wahab untuk mencapai tujuannya ternyata membawa kengerian tersendiri, terutama bagi istrinya, Farah (diperankan oleh Febby Rastanty).

Ambisi Wahab untuk Menjadi Pemimpin Daerah

Wahab bukanlah sosok sembarangan, dia adalah seorang peternak yang dikenal di lingkungannya dan memiliki kharisma yang membuatnya disukai. 

Di film ini, Wahab digambarkan sebagai sosok yang rela menghalalkan segala cara demi ambisinya.

Ketika kompetisi Pilkada semakin memanas, Wahab mulai mencari jalan pintas agar posisinya aman dan yakin ia bisa menang dalam pemilihan.

Tapi di balik senyum dan pidato-pidato optimisnya, ada sisi kelam yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya, terutama Farah sang istri.

Di Balik Pintu Rumah Tangga Wahab dan Farah

Wanita Ahli Neraka bukan sekadar horor yang mencekam, tetapi juga cerita refleksi tentang kekuasaan, kepercayaan, dan pengorbanan dalam hubungan.

Di balik kehidupan rumah tangga Wahab dan Farah yang tampak tenang, ternyata tersembunyi rahasia gelap yang membuat siapa pun akan bergidik ngeri.

“Di sini penonton akan diajak untuk bertanya-tanya, apakah Wahab benar-benar mencintai istrinya atau hanya melihat Farah sebagai bagian dari rencananya? Melalui karakternya, Wahab menggambarkan bagaimana ambisi bisa menjadi sisi kelam yang berbahaya,” ungkap Oka.

Mencari Jalan Pintas atau Menjaga Integritas?

Film ini memberikan pertanyaan reflektif yang relevan dengan kondisi Pilkada yang akan berlangsung pada November mendatang.

Apakah seorang calon pemimpin, seperti Wahab, seharusnya berpegang pada nilai dan integritas? Ataukah dia akan tergoda untuk mengambil jalan pintas yang berbahaya? Bagaimana jika apa yang dilakukan Wahab dalam film ini tidak lagi sekadar fiksi, melainkan gambaran dari realitas yang mungkin saja nyata dan terjadi?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved