Suami dan Anak Rosita Ketagihan Makan Anggur Shine Muscat
Anggur Shine Muscat asal China saat ini ramai jadi perbincangan hangat di media sosial. Hal ini karena ditemukan residu kimia melebihi batas aman yang
Untuk dijetahui kabar anggur Shine Muscat di Thailand mengandung kontaminasi sekitar 50 zat kimia berbahaya.
Kendati demikian, Taruna mengatakan belum ada temuan atau laporan terkait temuan residu pestisida pada anggur shine muscat di pasar Indonesia.
"Kami akan berkoordinasi secara ketat dengan badan karantina di Departemen Pertanian, karena ini kan masuknya ke negeri kita lewat itu. Sekaligus, badan POM akan menjalankan tahapan berikutnya, yaitu melakukan sampling ke beberapa toko-toko atau pasar-pasar yang bisa berdampak kepada masyarakat," ujarnya.
"Kenapa bermasalah? Kasus ini kita sudah dengar, karena katanya mengandung bahan kimia, residu pestisida. Kita tahu residu pestisida kan macam-macam, bisa menyebabkan kanker, bisa menyebabkan kerusakan hati, bisa berbagai macam penyakit tambahan, dan tentu itu menjadi konsen kami," tambahnya.
Badan Karantina Indonesia buka suara terkait temuan anggur shine muscat di Thailand yang diduga mengandung pestisida.
Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M Panggabean, melakukan sidak ke tempat pemeriksaan karantina (TPK) di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.
“Kami memastikan bahwa setiap komoditas yang masuk melalui pintu-pintu pemasukan sudah melalui pengawasan yang ketat, serta memenuhi persyaratan karantina tumbuhan termasuk standar keamanan pangan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan,” ujar Sahat M. Panggabean.
Pihaknya menekankan, pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan terhadap pemasukan komoditas tersebut telah dilakukan melalui sistem karantina yang terintegrasi yaitu prior notice.
Melalui sistem ini, dokumen terkait komoditas telah diperoleh sebelum barangnya sampai di pelabuhan.
“Ini merupakan bagian dari sistem pre-border yang terus kami tingkatkan,” jelas Sahat. Sahat mengatakan, setiap pelaku usaha di negara asal wajib mengirimkan dokumen pendukung dimana komoditi telah dipastikan aman dan memenuhi aspek biosecurity protection.
Selain sistem Prior Notice, setiap komoditas yang masuk akan melalui pengecekan ketat untuk memastikan kepatuhan terhadap standar karantina dan keamanan pangan.
“Prosedur ini tidak hanya memastikan keamanan pangan, tetapi juga meminimalisir risiko masuknya OTPK yang bisa berdampak pada kelestarian tanaman lokal dan keseimbangan ekosistem," tambah Sahat.
Sahat melanjutkan bahwa komoditas tumbuhan yang masuk sudah melalui proses Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT) untuk menentukan manajemen risiko yang tepat dalam mencegah masuknya OPTK yang mungkin terbawa pada komoditas.
Selain itu, penilaian risiko aspek keamanan pangan juga dilakukan dan hasilnya telah diterapkan dalam bentuk pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan, baik melalui mekanisme rekognisi/pengakuan sistem keamanan pangan negara asal maupun registrasi laboratorium penguji keamanan pangan di negara asal.
“Dengan pengawasan ketat ini, kami berharap dapat memastikan bahwa setiap komoditas yang masuk ke Indonesia aman dikonsumsi dan tidak membawa risiko bagi kesehatan manusia serta ekosistem hayati di dalam,” ujar dia.
| Guru Besar UI Prof Muh Nur Sadik Nilai Donald Trump ke China untuk Batasi Dukungan ke Iran |
|
|---|
| Investor China Mau Tanam Cabai hingga Bawang di Takalar |
|
|---|
| Takalar Tawarkan Potensi Pertanian dan Perikanan ke Investor China di Jakarta |
|
|---|
| Tembus Forum Internasional Guangzhou, Daeng Manye Promosikan Potensi Daerah Gaet Investor Global |
|
|---|
| Ternyata WNA China Coba Ajukan Paspor Indonesia, Kabur Saat Dicek Imigrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Anggur-Shine-Muscat-asal-China-1-30102024.jpg)