Headline Tribun Timur
SPBU Pertamina Membangkang
Penjualan BBM menggunakan QR code hanya berlaku untuk pembelian BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar.
Sebelum mengisi BBM, petugas SPBU meminta pengendara memperlihatkan barcode MyPertamina dimiliki. Setelah itu baru dilayani untuk pengisian BBM.
Di ruang SPBU, sejumlah pengendara baru terlihat antre untuk mendaftar MyPertamina.
Mereka mengisi biodata sesuai kartu tanda penduduk (KTP) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK).
Ada yang berhasil, ada pula yang gagal setelah mencoba berulang kali.
Seorang pengendara Adit mengaku kebijakan tersebut baik bagi pemerintah, tapi mempersulit bagi masyarakat kurang paham digital.
"Apalagi berulang-ulang pendaftaran, harus pakai KTP, STNK, ribet," keluhnya saat ditemui.
Adit mengaku belum berhasil mendaftar menggunakan MyPertamina. "Gagal. Sudah mau satu jam, 10 kali dicoba, tetap gagal," akunya.
Adit pun belum bisa membeli BBM karena belum terdaftar. Terpaksa, ia akan harus membeli BBM eceran. Tentu ada perbedaan harga dan selisih jumlah BBM.
Padahal pemberlakuan MyPertamina per 1 Oktober telah dibatalkan oleh pemerintah.
"Tetap diminta, tidak bisa kalau tidak pakai barcode. Jadi saya harus beli eceran," ujarnya.
Selain itu, Adit menilai kebijakan tersebut juga menyita waktu. Akibatnya, ia yang bekerja di bidang jasa merasa rugi waktu dan tenaga.
Ia pun berharap, pemerintah bisa mempermudah rakyat.
Sementara pengendara lain yang enggan disebut namanya mengaku kebijakan MyPertamina memudahkan.
Pemerintah memang harusnya mengikuti perkembangan digital. "Baik (MyPertamina) untuk mempermudah juga. Sistem digital harus diikuti dan tidak ribet," katanya.
Ia mengaku saat mendaftar tak mengalami kesulitan.
"Sudah berhasil, hanya 15 menit," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/bbm-panakkukang.jpg)