Headline Tribun Timur
Peringatan Darurat Olahraga Sulsel: Peringkat 16 dengan 61 Medali
Untuk kali pertama sepanjang sejarah, sejak Sulsel kali pertama ikut PON pada tahun 1951 atau 73 tahun lalu, baru kali ini finish di peringkat ke-16.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Peringatan darurat buat olahraga di Sulawesi Selatan.
Capaian Sulsel pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Banda Aceh, Aceh dan Medan, Sumatera Utara bak sudah ada di titik nadir.
Untuk kali pertama sepanjang sejarah, sejak Sulsel kali pertama ikut PON pada tahun 1951 atau 73 tahun lalu, baru kali ini finish di peringkat ke-16.
Dengan kekuatan 406 atlet, 139 official, serta tim satgas 85 orang, Sulsel hanya bisa merebut 10 medali emas, 19 medali perak, dan 32 medali perunggu dari 46 cabang olahraga.
Takraw menjadi cabang olahraga penyumbang emas terbanyak (3 medali), lalu angkat besi, renang artistik, dancesport, rowing, layar, karate, dan tinju.
Atlet paling banyak menyumbangkan medali adalah Nurtang dari cabang olahraga dayung, dengan total 4 medali: 3 perak dan 1 perunggu.
Singkatnya, 61 medali bawa Sulsel ke peringkat 16.
Baca juga: Daftar Atlet Sulsel Peraih Medali di PON Aceh-Sumut
Namun, Sulsel masih teratas di antara 6 provinsi di Pulau Sulawesi.
Perolehan jumlah medali juga naik dari 37 pada PON XX di Papua 2021 menjadi 61 pada PON XXI.
Lonjakan jumlah medali bukan pada emas, tapi perunggu dan perak.
Saat melepas kontingen Sulsel, Kamis, 29 Agustus 2024, Pj Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakrulloh meminta atlet fokus pada lawan dihadapi di arena, bukan pada medali.
"Seluruh atlet, pelatih dan official tidak perlu pikir medali, fokus pada apa yang dihadapi, fokus pada lawan yang dihadapi," kata Ketua Umum Federasi Karate Indonesia ini di hadapan kontingen, di Makassar.
Ketika tiba di Banda Aceh dan Medan, kontingen bukannya mendulang emas, tapi mendulang perunggu.
Harapan-harapan disampaikan sebelum keberangkatan pun tak tergapai.
Antara ekspektasi dan realita sungguh kontras.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Selatan, Yasir Mahmud saat audiensi dengan Pj Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakrulloh, Selasa, 21 Mei 2024, menyampaikan jika Sulsel menarget masuk peringkat 5 besar klasemen akhir PON.
Target itu naik dari peringkat 11 pada PON XX tahun 2021 di Papua.
Dua bulan setelah audiensi di Rujab Gubernur Sulsel, KONI pun mendapat kucuran dana tambahan Rp 14 miliar.
Sebelumnya, hibah ke KONI dari Pemprov untuk PON 2024 hanya Rp 17,5 miliar.
“Dari KONI minta tambahan Rp 14 miliar, saya penuhi 100 persen. Semua yang diminta Rp 14 miliar saya penuhi,” kata Zudan, Kamis, 11 Juli 2024.
Total anggaran Pemprov Sulsel untuk PON 2024 menjadi Rp 31,5 miliar.
Jika anggaran itu dibagi rata ke 630 anggota kontingen (406 atlet, 139 official, satgas 85 orang), maka tiap orang dapat jatah Rp 50 juta.
Ini melebihi harga paket umrah low budget dari Makassar yang hanya berkisar Rp 30 jutaan.
Setelah menambah anggaran, Zudan pun menagih prestasi terbaik para atlet.
“Makanya, saya tagih prestasinya besok,” sambung Zudan mengatakan.
Namun, realitanya, bukannya masuk 5 besar, malah turun 5 peringkat dari tahun sebelumnya.
Capaian target emas dicanangkan dari 18 cabang unggulan sebagian besar meleset.
Salahkan anggaran
Ketua KONI Sulsel, Yasir Mahmud lalu mengambinghitamkan kurangnya anggaran.
"Sebenarnya karena anggaran," ungkapnya saat dihubungi Tribun-Timur.com melalui telepon, Kamis (19/9/2024).
“Saat SYL (Syahrul Yasin Limpo) menjabat sebagai gubernur, anggaran hibah KONI untuk PON XIX di Jabar 2016 mencapai Rp 68 miliar. PON XX sebesar Rp 30 miliar, dan PON XXI kali ini hanya 17,5 miliar. Bagaimana kita bisa dipaksa sukses jika anggaran tidak mendukung?” ungkap Yasir mengatakan melalui keterangan tertulis, Sabtu (21/9/2024).
Atlet kurang termotivasi untuk menang karena uang honornya telat dibayar.
Pembayaran uang honor baru dilakukan jelang keberangkatan, September 2024.
Nunggak selama 3 bulan, Juni hingga Agustus.
"Atlet haknya belum dibayarkan. Makan biaya sendiri, mereka hutang. Pemprov tidak perhatikan jadi kami jalan sendiri," tutur pelatih dayung Sulsel, Dimon, Agustus 2024 lalu.
Kondisi bertambah miris ketika sebagian atlet terpaksa makan mi instan di sela latihan lantaran masalah anggaran.
Padahal, mereka butuh gizi yang baik karena intensitas latihan sangat tinggi.
"Saya dan anak-anak (atlet) biaya sendiri untuk makan. Bahkan, biasa makan mie instan dan telur saja, padahal latihan dua-tiga kali sehari," ungkap Dimon.
Yasir mengatakan, anggaran untuk PON tak semuanya dikelola KONI Sulsel sehingga banyak masalah.
Anggaran tambahan Rp 14 miliar dikelola Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel.
"Di Dispora (Rp 14 miliar). Peruntukannya untuk beli pakaian, sepatu, tas, penginapan. Kebutuhan lain lain Dispora yang atur," ujar Yasir.
Selain anggaran, masalah lain bikin peringkat Sulsel merosot adalah pemusatan latihan hanya 2 pekan dan tak ada try out.
"Kalau pun ada atlet yang melakukan try out, sebagian besar menggunakan dana pribadi. Sementara provinsi lain mendukung atlet mereka hingga latihan di luar negeri,” kata Yasir.
Masalah hak atlet tak hanya muncul di masa latihan atau pra-keberangkatan.
Sebelum meraih medali, uang honornya nunggak.
Setelah meraih medali, bonusnya pun tak langsung terbayarkan.
Bonus bagi juara I (emas), II (perak), III (perunggu) baru akan dibayarkan pada tahun depan karena anggarannya ada pada APBD 2025.
Bonus dibayarkan setelah Pilkada 2024, pada akhir masa jabatan Pj gubernur atau awal masa jabatan gubernur baru.
Minta maaf
KONI Sulsel akan mengevaluasi kegagalan total pada PON Aceh - Sumut agar tak terulang pada PON XXII Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) 2028.
Evaluasi dimulai dari rapat pleno dan rapat kerja.
"Rapat pleno dan rapat kerja provinsi tahun 2024 akan menjadi momen penting untuk mengevaluasi program olahraga ke depan,” kata Yasir.
Pemprov Sulsel sudah mengevaluasi hasil PON XXI sebagai persiapan menatap PON XXII di Pulau Nusa Tenggara.
Cabang olahraga yang berpotensi menjadi pendulang medali harus jadi fokus perhatian.
"Kita harus persiapkan pertandingan yang mendulang emas banyak, kayak senam, tinju, renang dan perorangan. Harus kita latih kader kita jauh hari," kata Zudan di Rujab Gubernur Sulsel pada Jumat (27/9/2024).
Dispora Sulsel memohon maaf atas capaian terburuk Sulsel sepanjang sejarah PON.
"Saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sulawesi Selatan. Atlet pelatih dan seluruh kontingen Sulsel sudah maksimal berjuang namun Sulsel hanya mendapatkan posisi 16 di klasemen," ujar Kepala Dispora Sulsel, Suherman pada Jumat (27/9/2024).
Suherman mengaku hasil PON kali ini jadi pembelajaran berharga.
Terutama dalam melakukan pembinaan atlet muda.
Pada PON Aceh-Sumut, atlet muda Sulsel banyak ikut berlaga.
Mereka pun juga disiapkan untuk ikut PON 2028 nantinya.
"Jelas ke depannya kami akan melakukan peningkatan mulai pembinaan berkelanjutan untuk persiapan PON selanjutnya. InsyaAllah pembinaan usia dini akan kita mulai 2024 ini kita terus berpacu meningkatkan prestasi atlet PON kita di 2028 mendatang," katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Headline-Tribun-Timur-edisi-Minggu-2992024.jpg)