Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sulsel Terpuruk di PON 2024

Peringatan Darurat Olahraga Sulsel: Prestasi Mendunia, Atlet Minim Perhatian!

prestasi diraih Rahmat Erwin di Cabor angkat besi tak dibarengi dengan perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dan KONI Sulsel.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Alfian
DOK PRIBADI
Lifter Sulsel, Rahmat Erwin Abdullah (tengah) bersama ibunya, Ami Asun Budiono (kiri) dan ayahnya, Erwin Abdullah (kanan) usai meraih medali emas PON XXI Aceh-Sumut 2024 di  GOR Seramoe, Banda Aceh, Kamis (5/9/2024) malam. Lifter Sulsel, Rahmat Erwin Abdullah (tengah) saat pengalungan medali emas PON XXI Aceh-Sumut 2024 di GOR Seramoe, Banda Aceh, Kamis (5/9/2024) malam.   

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Kaswadi Anwar

Baca berita sebelumnya : 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Cabang olahraga (Cabor) angkat besi selalu menorehkan prestasi bagi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bukan hanya level nasional, tapi internasional.

Prestasi disumbangkan oleh lifter kelahiran Makassar, Rahmat Erwin Abdullah.

Medali demi medali serta rekor terus dipecahkan Rahmat Erwin di olahraga angkat besi.

Terbaru Rahmat Erwin mempersembahkan medali emas untuk Sulsel di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut) 2024.

Bahkan, pemuda berusia 23 tahun ini memecahkan rekor angkatan snatch, clean & jerk dan total angkatan peraih medali emas Olimpiade Paris, Rizki Juniansyah di PON.

Namun, prestasi diraih Rahmat Erwin di Cabor angkat besi tak dibarengi dengan perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel.

Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (Sekum Pengprov PABSI) Sulsel, Attock Suharto menyebut, perhatian pemerintah terhadap angkat besi sangat minim.

Utamanya dalam hal sarana prasarana, tempat latihan, kebutuhan atlet dan gizi.

"Itu sama sekali mungkin pemerintah abai dalam hal ini, saya tidak tahu kalau ke atlet lain. Official angkat besi berpendapat, pemerintah minim perhatian," katanya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (24/9/2024).

Untungnya, sebut dia, Rahmat Erwin adalah atlet Pelatnas, sehingga bisa latihan di Jakarta, di tempat Pengurus Besar (PB) PABSI.

Kalau pulang ke Makassar hanya menggunakan peralatan seadanya dimiliki di rumah pribadinya.

Sampai sekarang, PABSI Sulsel belum memiliki tempat latihan, biasanya hanya menyewa tempat gym.

"Harus sewa tempat gym, keluarkan uang pribadi," sebut pria akrab disapa Attock ini.

Ia menyampaikan, pemerintah mestinya memberikan bonus dan penghargaan kepada Rahmat Erwin dalam setiap kejuaraan diikuti, baik single atau multi event.

"Tapi ini saya lihat pemerintah tidak semua diberi bonus," ujarnya.

Justru, ungkap Attock, pemerintah selalu lambat membayarkan bonus atlet. Biasa enam bulan setelah juara baru diberikan.

Belum lagi bonus PON XXI Aceh-Sumut. Ia pesimis bonus akan diberikan dalam waktu dekat.

Lantaran anggaran bonus kemungkinan baru dibahas di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.

"PON (Aceh-Sumut) paling bonus tahun depan karena baru dianggarkan di perubahan," ungkapnya.

Di luar bonus, Attock mengatakan, terpenting dibutuhkan Cabor angkat besi adalah tempat latihan, peralatan dan kebutuhan gizi.

Kalau tak ada perhatian tersebut akan sulit untuk bisa menorehkan prestasi.

"Kalau tidak ada perhatian ekstra pemerintah sulit meraih prestasi," ucapnya.

Soroti Anggaran PON Menurun

Anggaran Sulsel untuk PON tiga tahun terakhir terus alami penuruan.

PON XXI Jabar 2016 sebesar Rp68 miliar, PON XX Papua 2021 senilai Rp30 miliar dan PON XXI Aceh-Sumut 2024, hibah ke KONI Rp17,5 miliar dan Rp14 miliar dipegang Dispora Sulsel.

Attock menyampaikan, sebenarnya pemerintah tak perlu diajari soal anggaran.

Sebab ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan (UU Keolahragaan) memerintahkan untuk olahraga prestasi dikelola oleh KONI, dan pemerintah wajib beri anggaran.

Namun, ia tak tahu alasan anggaran dikucurkan sangat minim. 

Entah karena kesadaran pemerintah, atau olahraga bukan prioritas bagi mereka.

"Padahal itu perintah undang-undang  dan mestinya tidak perlu disampaikan ke mereka, pemerintah lebih tahu dari kita," tegasnya.

Ia membandingkan jumlah anggaran  dan atlet di PON Papua dan PON Aceh-Sumut.

Pada PON Papua anggaran diberikan Rp30 miliar dengan atlet 221.  

Sedangkan PON Aceh-Sumut Rp17,5 miliar dengan 409 atlet.

"Atletnya sudah seperdua, anggarannya juga seperdua. Atlet lebih seperdua, anggaran kurang seperdua (PON Aceh-Sumut)," ujarnya.

Sulsel menyelesaikan event olahraga terbesar nasional di peringkat 16 dari 38 provinsi.

Total medali 61 keping, rinciannya 10 medali emas, 19 perak dan 32 perunggu.

Menurut Attock, posisi tersebut tidaklah terpuruk.

 Justru patut disyukuri.

Alasannya tidak ada tryout sebelum ke PON karena anggaran tidak ada.

"Seluruh stakeholder terutama pemerintah beri perhatian penuh, minimal jalankan perintah undang undang keolahragaan," pintanya.

Attock memberikan masukan usai Sulsel terpuruk di PON XXI Aceh-Sumut.

Ia meminta seluruh stakeholder olahraga, mulai Pemprov Sulsel, KONI Sulsel, Cabor dan pemerhati olahraga duduk bersama.

Tujuannya untuk persiapan hadapi PON XXII Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTB/NTT) 2028.

Menurutnya, persiapan harus dilakukan lebih panjang. Jangan hanya setahun jelang PON baru persiapan.

Sulsel perlu mencontoh provinsi lain yang menggelar persiapan. 

Mereka persiapan secara bertahap, H-3 tahun, H-2 tahun lalu H-1 tahun, itu sudah ada anggarannya semua.

"Sedangkan kita baru mau PON setahun ke depan baru mau dianggarkan. Itu sudah termasuk try out, TC, honor, makan dan minum. Itu sudah disatukan dengan angka Rp17,5 miliar," bebernya.

Attock menambahkan, cara pembinaan perlu juga dibahas.

Perlu penetapan cabor  unggulan atau prioritas. 

Sebab, pada PON lalu beberapa cabor andalan Sulsel meleset torehan medalinya.

"Sejumlah cabor diandalkan mendapat medali, meleset," pungkasnya.(bersambung)

Baca berita selanjutnya: Terpuruk di PON Aceh Sumut 2024, Sulsel Kini Fokus Menatap PON Nusa Tenggara 2028

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved