KPK Usut Dugaan Korupsi Shelter Tsunami di NTB, Anggaran Rp 20 Tapi Kerugian Negara Rp19 M
Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu mengatakan, bangunan Shelter Tsunami 2014 sudah tidak bisa lagi digunakan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan korupsi pembangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES)/Shelter Tsunami tahun 2014 di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bangunan Shelter Tsunami diketahui sudah ada rusak dan roboh.
Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu mengatakan, bangunan itu sudah tidak bisa lagi digunakan.
Tim penyidik KPK meminta bantuan dari beberapa ahli dalam menangani kasus tersebut.
“Ini sedang dikirim timnya, tapi yang jelas sesuai foto-foto yang saya lihat, mungkin juga rekan-rekan pernah (lihat) fotonya, bangunannya sebagian sudah roboh," ujar Asep Guntur Rahayu, Kamis (15/8/2024).
Pihaknya mendatangkan ahli konstruksi dan ahli penghitungan kerugian negara.
Penyidikan dugaan korupsi ini dilaksanakan sejak 2023.
Sejauh ini baru dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka.
Yaitu seorang merupakan penyelenggara negara dan lainnya berasal dari BUMN.
Dua tersangka yakni Aprialely Nirmala selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Agus Herijanto selaku Project Manager (PM) atau Kepala Proyek PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Saat proyek itu berlangsung, Aprialely Nirmala menjabat Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan (Satker PBL) Kementerian PUPR Perwakilan NTB.
Adapun proyek tersebut memakan anggaran hingga Rp 20 miliar.
Sementara untuk kerugian negaranya kurang lebih Rp 19 miliar dan masih bisa bertambah karena penghitungan masih dilakukan.
Anggaran pembangunan shelter yang ujungnya dikorupsi ini berasal dari Kementerian PUPR dan PT Waskita Karya (Persero) sebagai kontraktor.
Modus yang diduga terjadi adalah menurunkan kualitas pembangunan.
| ASN Tak Bisa Lagi Main-main, KPK Bangun Sistem Pengawasan Integritas Digital |
|
|---|
| Belum Menyerah! KPK Masih Kejar Harun Masiku Setelah Enam Tahun DPO |
|
|---|
| Dua Kepala Daerah Asal Sulawesi Ditahan Kasus Korupsi era Prabowo Subianto, Ada Perempuan |
|
|---|
| Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Tak Masuk 5 Besar di Indonesia, Berada di Bawah Maluku Utara dan NTB |
|
|---|
| Zona Merah! Aset Tanah Sulsel Rp27,5 Triliun Belum Legal, KPK Ingatkan Potensi Korupsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Penampakan-shelter-tsunami-di-Nusa-Tenggara-Barat-NTB.jpg)