Opini
Sekelumit Kenangan Bersama Tanri Abeng
Kurang lebih pada kurun waktu yang sama, saya juga berteman dengan almarhumah, isterinya.
Oleh : H. Zainal Bintang
Wartawan Senior dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya
Saya berkenalan dengan almarhum Tanri Abeng, sekitar tahun 1961 atau 1962 sejak di Makassar.
Waktu itu, almarhum mengajar kursus Bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta.
Saya salah seorang peserta kursus. Sehari – hari kami memanggil dengan nama panggilan akrab : Abeng. Kelahiran 1942. Saya kelahiran 1946.
Kurang lebih pada kurun waktu yang sama, saya juga berteman dengan almarhumah, isterinya. Namanya Farida Nasution. Sehari – hari dipanggil Ida. Mereka belum menikah waktu itu.
Saya lebih banyak berjumpa dengan Ida, demikian teman-teman memanggilnya.
Karena kebetulan kami tergabung dalam sebuah kumpulan atau “genk” remaja (umur antara 15 – 16 tahun) yang kami namakan “Bangsawan Grup” (bukan “group”). Anggota grup itu ada lima orang.
Terdiri dari empat perempuan remaja dan saya (satu-satunya laki-laki). Tapi punya keistimewaan : sebagai penguasa mobil.
Mobil Jeep Willys keluaran tahun 1952. Milik ayah saya. Di masa itu sudah tergolong mewah jika memiliki mobil tahun 50an.
Abeng, panggilan kami sehari – hari kepada almarhum, sudah bolak balik ke Amerika sebagai penerima bea siswa AFS (Amerka Field Service).
AFS adalah organisasi pertukaran pemuda internasional.
Pada suatu waktu di tahun 61 atau 62 itu, Ida meminta tolong kepada saya untuk bantu jemput Abeng di Bandara Hasanuddin (dulu Mandai) di Makassar. Mereka sedang dalam status pacaran ceritanya.
Sehari sebelum hari penjemputan, ada kejadian kecil yang tidak bisa saya lupakan sampai tua, termasuk almarhumah Ida.
Kejadiannya, ketika kami dari “Bangsawan Grup” lagi bersenang – senang naik mobil, tiba – tiba Ida merengek manja dalam logat Makassar, minta tolong pinjam mobil saya untuk jemput Abeng besok, yang akan datang dari Jakarta, setelah pulang dari Amerika.
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/H-Zainal-Bintang-Wartawan-Senior-dan-Pemerhati-Masalah-Sosial-dan-Budaya.jpg)