Opini
Gagal Paham Kaum Salafi
Namun pada saat yang sama berhak untuk memahami dan memaknai ajaran Islam dari sumber-sumber dasar sesuai kemampuan, daya nalar
Afifuddin Harisah
Dosen UIN Alauddin Makassar
Islam bukan agama jumud. Dalam artian, dinamika, progresivitas dan semangat keberagamaan adalah lumrah dalam Islam.
Setiap muslim atau kelompok muslim wajib mengamalkan ajaran Islam.
Namun pada saat yang sama berhak untuk memahami dan memaknai ajaran Islam dari sumber-sumber dasar sesuai kemampuan, daya nalar, standar keilmuan, konteks budaya dan situasi lokal di mana mereka berdiam.
Pemahaman agama bukan hak property orang-orang ‘pintar’ (Kyai, professor atau ustad), tetapi orang bodoh dan minim pengetahuan pun berhak memahami sejauh kemampuannya.
Pada kesimpulannya, tidak satu manusia pun di muka bumi ini boleh mengklaim dirinya pemilik kebenaran dan merasa paling tahu makna ajaran agama persis seperti pengetahuan Tuhan.
Sangat tidak pantas untuk saling mengklaim diri paling benar, paling alim, paling sunnah lalu menuduh orang lain sesat dan masuk neraka.
Landasan epistemologis ini semestinya menjadi norma utama dalam mengelola konflik dan arus dinamika pemikiran agama-agama samawi.
Demikian halnya menamakan satu kelompok berafiliasi atau satu kecenderungan pemahaman agama tertentu dengan sebutan Salafi.
Salaf artinya sesuatu yang lama atau waktu yang telah berlalu.
Salafi bermakna orang atau paham yang menjadikan nilai-nilai atau hasil pemikiran lama (salaf) sebagai rujukan, idealitas dan parameter kebenaran.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemaknaan tersebut, tetapi hal yang sangat berbeda jika Salafi dimaknai keharusan kita untuk kembali kepada situasi dan kondisi yang telah berlalu atau mengambil pemikiran lama sebagai rujukan secara an sich, absolut, rigid dan tanpa sedikitpun melibatkan penalaran cerdas.
Apakah hal itu relevan dengan situasi dan kondisi kekinian, yang kemudian ditabrakkan dengan nilai kemanusiaan, keluhuran, moderasi dan kerahmatan universal.
Salafi tidak seluruhnya berkonotasi negatif sebab Islam sendiri mengakui orisinalitas salaf sebagai panutan yang baik (al-Salaf al-Shalih).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Afifuddin-Harisah-Dosen-UIN-Alauddin-Makassar.jpg)