Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Fakta atau Omon-omon?

Kisah masyhur ini di tulis dalam kitab Hilyatul Awliya, karya Ahmad bin ‘Abdillah al-Ashbahani. 

Editor: Muh Hasim Arfah
Tribun Timur
Sekretaris Tim Kerja Strategis (TKS) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Idrus Marham. 

Era post-truth, orang cenderung merasa halal menggunakan media sosial dalam rangka menggalang dukungan atas pikiran dan perasaannya. Urusan apa pun diposting. Karena lewat posting di medsos itu, pikiran, perasaan dan keluh kesahnya akan ditanggapi, dinilai, dikembangbiakkan sampai viral. Semua itu dipandang halal, meski tanpa uji kebenaran. 

Di Medsos orang bisa membangun musuh, perghibahan dan sekaligus pengadilan bersama dalam rangka mencapai kebenaran subyektif. Inilah wadah yang membuat kapitalisasi kebenaran subyektif terlihat lebih seksi ketimbang fakta. 

Fakta bisa dibungkam oleh narasi. Fakta sudah sulit berbicara, karena “omon-omon” lebih leluasa merekayasa fakta. Maka jangan heran kalau hoax hari ini tidak pernah kehilangan muka. 

Orang bisa seru-seruan – bahkan berlomba -- cepet-cepetan menebar berita tak jelas, tanpa punya secuil pun tanggung jawab moral. Perkara di kemudian waktu berita itu ternyata hoax, ya sudah. Biarkan saja. Sepelekan saja. Meski isu yang dikapitalisasi tadi sudah menggelontor ke tujuh penjuru angin. 

Tanpa kejelasan apapun, netizen hari ini merasa tanpa beban, menebar kebencian atas apa yang ia rasakan mengganjal. Meski kebencian subyektif ini, tidak berbasis fakta sama sekali. 

Seseorang dipandang sah melampiaskan tendensi dan rasa melankoliknya. Kebencian atau pemujaan terhadap apa saja. Baik itu terhadap pemerintah, terhadap Partai pemenang pemilu, terhadap calon Presiden jagoannya atau lawannya, terhadap Presiden terpilih, suku, agama, pokoknya benci atau kagum terhadap apa sajalah, bisa diolah-olah! Dia nggak mikir kalau pelampiasan emosionalnya – bisa saja dipercaya orang lain. 

Hoax telah mempertebal banalitas kebohongan – yang menganggap kebohongan sebagai hal yang biasa. Ia telah mengikis moralitas kejujuran. Ironisnya, inilah yang sekarang menjadi penyedap informasi, terutama yang terkait kehidupan sosial politik. 

Tentu saja rentetan fakta ini bukan hendak mengatakan kalau Medsos tak punya manfaatnya. Tidak! 

Tapi jika yang banyak dipertontonkan di dunia medsos, tidak jauh dari berita palsu, banalisasi kebohongan, rasanya kok eman. Memprihatinkan. Terutama karena ia bisa membuat omon-omon dengan gampangnya merekayasa seribu fakta.

Menyedihkan kan? 

Lalu, keumatan dan kebangsaan kita ini mau dibawa kemana?(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved