Opini
Fakta atau Omon-omon?
Kisah masyhur ini di tulis dalam kitab Hilyatul Awliya, karya Ahmad bin ‘Abdillah al-Ashbahani.
Yahudi itu terkejut atas sikap Ali. Ia tak menyangka kalau Ali akan begitu tiba-tiba mengikhlaskan baju besinya. Bukankah Ali seorang khalifah perkasa dan sangat berpengaruh? Bukankah Ali dikenal sebagai orang tangguh yang tak gampang menyerah?
Akhirnya, orang Yahudi tadi, di depan Hakim, berkata kepada Ali, “Engkau benar! Aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul Mukminin.” Ia mengembalikan baju besi itu.
Singkat cerita, atas peristiwa itu yahudi tadi masuk islam.
Kisah ini menurut saya luar biasa. Tak terbayangkan, bagaimana jika dulu, Ali yang khalifah berpengaruh, memilih cara paksa untuk merampas baju besi dari tangan si Yahudi? Dan ia punya power untuk itu.
Atau paling lunak, bisa dibayangkan bagaimana jadinya, jika Ali melakukan penggalangan opini sebagai strategi untuk menyudutkan si Yahudi? Toh ia seorang khalifah, sahabat Rasul yang terpuji. Se jazirah arab, pasti lebih percaya kepadanya daripada kepada yahudi itu.
Sebaliknya, saya juga membayangkan apa jadinya juga, jika si Yahudi tadi bertahan pada kebohongannya. Ia pasti bakal mendadak tenar, karena bisa mengalahkan khalifah di Mahkamah Hukum.
Atau paling lunak, saya juga tak membayangkan bagaimana jadinya, jika si Yahudi tadi terus menerus meretas penggalangan opini public untuk mendeskreditkan Ali sebagai khalifah yang curang? Wah, pastilah ia bakal mendadak tenar.
Tapi mungkinkah si Yahudi melakukan itu? Mungkin sekali, toh di masa itu Yahudi juga punya komunitas yang solid, punya relawan. Militan, bahkan!
Tapi Ali dan yahudi itu tidak mengambil jalan seperti yang saya bayangkan.
Ali tidak membangun opini public sebagai strategi untuk menebar kebencian terhadap lawannya. Pun si Yahudi, dia tidak kepikiran cari popularitas lantaran bisa melawan khalifah.
Padahal, meski di jaman itu belum ada medsos, saya yakin Ali bisa dengan mudah menggalang opini. Si Yahudi juga sama.
Tapi itulah, contoh kematangan dua anak manusia di zamannya. Mereka tahu bagaimana semestinya menyelesaikan masalah! Tahu bagaimana seharusnya bersikap. Dan tahu pula sikapnya harus bagaimana.
Kalau saya sampai teringat pada kisah klasik itu, bukan semata karena kisah ini seru dan menyangkut nama orang besar. Tapi juga lantaran kisah di atas bisa menjadi iktibar untuk melihat bagaimana carut marutnya, orang zaman now membangun strategi menang-menangan.
Kisah semacam ini bisa menjadi oase di tengah era yang mengombang-ambing kebenaran. Era yang disebut-sebut dengan istilah post truth.
Cerita baju besi tadi, nampak banyak kontrasnya dengan apa yang terjadi di era ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Idrus-Marham-21321311.jpg)