Tribun HIS
Jejak Ulama Minangkabau Penyebar Islam di Bulukumba
Makam Dato Tiro berjarak sekitar 150 meter dari utara masjid dan sumur panjang di depan masjid Bulukumba.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Dato Tiro ulama asal Minangkabau menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17 Masehi.
Dakwah yang dilakukannya berpusat di Kabupaten Bulukumba.
Jejak Dato Tiro atau Abdul Jawad alias Khatib Bungsu menyebarkan Islam ini terlihat dari makam.
Makam Dato Tiro berjarak sekitar 150 meter dari utara masjid dan sumur panjang.
"Selain ada masjid dan sumur panjang yang ditinggalkan juga ada makamnya di sini," kata Imam Masjid Nurul Hilal Dato Tiro, H Muh Rauf, Sabtu (30/3/2024).
Makam itu terpelihara dan didatangi banyak orang dari berbagai daerah untuk berziarah.
Makam Dato Tiro ramai dikunjungi warga usai lebaran Idulfitri.
Juga jelang dan setelah perayaan Iduladha.
Di depan maka berdiri gedung Yayasan Dato Tiro menghadap ke badan jalan poros Bontotiro.
Dalam ruangan itu biasanya dihuni petugas yayasan dan petugas makam.
Di samping kiri kanan dari Makam Dato Tiro terdapat sejumlah makam tokoh masyarakat setempat.
Sejarah Perjalanan Dato Tiro Mendarat di Bulukumba
Saat itu tahun 1603 atau sekitar 400 tahun lalu.
Dato Tiro awalnya ia melakukan perjalanan mensyiarkan Islam di Sulawesi Selatan bersama Dato Ribandang dan Dato Patimang di Luwu.
Mereka bertiga bertemu kerajaan Datu di Luwu.
Saat itu Dato Patimang tinggal di Luwu mengislamkan raja setempat.
Baca juga: Kisah Pejuang Kemanusiaan di Bulukumba Layani Kaum Dhuafa hingga Bangun Masjid
Sedang Dato Ribandang dan Dato Tiro melanjutkan perjalanan ke Selatan Sulsel.
Di Bulukumba tepatnya di Bontotiro dan sekitarnya menemui kerajaan.
Kerajaan tersebut memiliki kepercayaan Patuntung.
"Maka Dato Tiro tinggalah di kampung ini mengislamkan raja setempat hingga menyebarkan Islam sampai di Sinjai dan Bantaeng," ungkap Rauf.
Baca juga: Masjid Domara Tamuku, Masjid Berbentuk Kabah di Luwu Utara Jadi Bukti Cinta Anak ke Orang Tua
Jejak sejarah Dato Tiro, bangun masjid (musala) dinding terbuat dari batu bata gunung.
Kini masjid itu tinggal cerita, sebab masjid ulama tersebut telah dipugar.
Lokasinya pun dipindahkan jaraknya 100 meter dari tempat pertama.
Masjid tersebut diberi nama Masjid Nurul Hilal Dato Tiro.(*)
| Kisah Haji Tulo di Gowa, Sedekah Sayur dan Ikan Gratis untuk Jamaah Masjid |
|
|---|
| Kisah Cinta Membawa Hidayah, Pemuda Sumatera Masuk Islam Demi Menikahi Gadis Sinjai |
|
|---|
| Cinta di Balik Jeruji, Kisah Tersangka Narkoba Menikah di Tahanan Polres Gowa |
|
|---|
| Tak Punya Tangan, Tapi Punya Harapan, Kisah Ilham Fauzi Difabel Bulukumba Penopang Keluarga |
|
|---|
| Kisah Perjuangan Asriani, Jadi Buruh Ikat Rumput Laut Demi Hidupi Lima Anaknya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Makam-Dato-Tiro-di-Kelurahan-Ekatiro-Kecamatan-Bontotiro.jpg)