Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Bangkit Setelah Bencana

Episentrum gempa di Ishikawa, sebuah prefektur berjarak 400 kilometer lebih dari kota Tokyo.

Editor: Sudirman
tribun timur
Penulis adalah praktisi bidang energy dan smart city asal Sulsel. Bermukim di Tokyo 

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar

Kegembiraan awal tahun di Jepang diawali berita sedih.

Gempa besar berskala magnitude 7.5 dan tsunami setinggi 2-4 meter tanggal 1 Januari 2024 sore terjadi disaat warga sedang menikmati libur panjang ‘Oshogatsu’ memasuki winter season.

Episentrum gempa di Ishikawa, sebuah prefektur berjarak 400 kilometer lebih dari kota Tokyo.

Lima hari setelah bencana, bagaimana kondisi kini?

Sebagai warga yang sudah tinggal lama di Jepang, saya sangat yakin masyarakat di daerah bencana bisa segera melewati masa kritis dan pemerintah mereka bisa melakukan berbagai langkah langkah recovery dengan cepat dan tepat.

Mengapa? Faktor pertama, saya bisa merasakan betapa warga Jepang sangat tenang, sabar dan punya semangat kebersamaan tinggi disaat ditimpa bencana.

Masih ingat berita yang memukau dunia tentang ketangguhan dan ketenangan mereka mengantri sepanjang lima kilometer saat diguncang gempa skala 9.0 magnitude, tsunami dan radiasi nuklir Fukushima tahun 2011 silam?

Meski sedih, terpukul atau cemas, ekspresi mereka tidak berlebihan.

Tetap berusaha sabar, disiplin dan tidak mengharap orang lain menanggapi.

Soft power ini sangat berguna ketika krisis, keadaan darurat atau kondisi terguncang hebat.

Tindakan tetap efektif dan mampu cepat bangkit dari kesedihan.

Kedua, negara ini punya sejarah dilanda berbagai bencana alam berbagai skala besar.

Meski luas daratan hanya 0,25 persen dari luas dunia, jumlah gempa bumi terjadi dengan magnitude 6.0 keatas tahun 2004-2013 mencapai 18,5 persen dari total dunia.

Gempa dengan skala lebih kecil juga terus terjadi.

Snow Disaster dan berbagai skala typhoon selalu datang mengancam setiap tahun.

Karena itulah, mereka punya langkah langkah disaster preparedness yang sangat maju.

Misalnya, penerapan regulasi bencana yang maju dan kuat.

Resiko besar ketika bencana adalah runtuhnya bangunan.

Menurut pemerintah Jepang dalam laporan ‘Disaster Management in Japan’, di tahun 2008 diperkirakan masih ada sekitar 21persen dari tempat tinggal yang tidak cukup tahan gempa.

Ini karena dibangun sebelum tahun 1981 saat dimana peraturan bangunan tahan gempa ketat mulai diperkenalkan.

Lalu di tahun 2013, diwajibkan Seismic Qualification Test termasuk untuk rumah sakit, sekolah dan berbagai fasilitas umum.

Langkah langkah ini diyakini bisa meminimalkan damage dan resiko korban jiwa yang lebih besar.

Ketiga, pendidikan bencana dan latihan evakuasi di sekolah dan perusahaan selalu dilakukan kontinyu dan reguler.

Edukasi diperkuat agar masyarakat punya pemahaman benar dan bisa bertindak sendiri secara tepat untuk mengurangi resiko bencana.

Saat gempa dan tsunami tahun 2011, sebuah kisah nyata tentang sekitar 3.000 siswa sekolah dasar dan SMP kota Kamaishi berhasil selamat.

Bersama mereka berlari mencapai lokasi pengungsian aman.

Siswa senior mendukung siswa lebih muda. Dibelakang mereka tsunami telah menerjang kota dan sekolah mereka.

Tanggapan cepat dan tepat siswa adalah buah program pendidikan pencegahan bencana tsunami yang dilakukan sekolah-sekolah Kamaishi secara rutin.

Keempat, disaat bencana – media juga berposisi vital sebagai mediator bencana: cepat, informatif dan menstimulasi percepatan proses pemulihan.

Dalam hitungan detik setelah gempa, hampir seluruh stasiun televisi cepat menginformasikan real update tsunami secara detail.

Hingga kini, televisi tetap menayangkan berita aktual kondisi daerah terkena bencana.

Tapi tidak terlihat lagu pilu menyayat hati, juga tidak membuat orang pedih berkepanjangan.

Yang muncul kebanyakan adalah tayangan proses evakuasi, potret gotong royong dan perbaikan.

Seakan ingin membangkitkan dan membangun semangat.

Hingga kemarin, media melaporkan 92 orang korban jiwa, utamanya di daerah Ishikawa.

Saat ini pun gempa skala kecil di daerah bencana masih terus terjadi.

Saya sangat yakin, jika tsunami dan gempa dengan kondisi dan skala sama menimpa negara tanpa empat faktor diatas - damage bencana pasti akan jauh lebih besar.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved