Opini Tribun Timur
Camidu: Akuntansi Ala Warung Kopi
Anehnya, pemilik warung atau pramusaji yang melayani selalu merespon dengan kata ok sebagai bentuk persetujuan.
Oleh:
Erni Cahyani Ibrahim
Dosen Akuntansi Politeknik STIA LAN Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM Catatmi dulu! atau Camidu adalah kalimat yang seringkali terdengar diucapkan oleh para pelanggan saat mengunjungi beberapa warung yang ada di Makassar, mulai dari warung makan hingga warung kopi.
Ucapan “camidu” bermakna catat saja dulu atau dalam pengertian harafiahnya bermakna utang dulu. Camidu telah menjadi istilah lazim yang disampaikan oleh pelanggan di Makassar se-saat sebelum beranjak pergi setelah menikmati hidangan yang telah mereka pesan.
Anehnya, pemilik warung atau pramusaji yang melayani selalu merespon dengan kata ok sebagai bentuk persetujuan.
Tanpa disadari, kalimat tersebut berangsur-angsur telah menjadi perikatan antara dua belah pihak; yakni antara pelanggan sebagai peminjam atau pihak yang berutang (debitur), dengan pemilik warung sebagai pemberi pinjaman atau pihak yang memiliki piutang (kreditur).
Realitas akuntansi utang-piutang camidu atas sepiring nasi atau secangkir kopi menimbulkan pertanyaan; tiket apa yang dipegang oleh pelanggan, sehingga dapat memanfaatkan fasilitas camidu?
Setelah ditelusuri dari perspektif ilmu akuntansi, fenomena camidu menuntun pada konsep yang dikenal dengan sebutan costumer loyalty (pelanggan tetap).
Tampaknya costumer loyalty adalah tiket yang harus dipegang sebelum berhak menggunakan fasilitas akuntansi camidu.
Mempertahankan pelanggan tetap bagi pemilik warung memang tidak mudah, khususnya warung kopi.
Di warung kopi, berbagai macam aktivitas bisa terjadi.
Mulai dari sekedar menyantap makanan-minuman, menjadi tempat untuk bernegosiasi bisnis, tempat belajar atau diskusi terkait pekerjaan, tempat menghabiskan waktu untuk berselancar di media sosial, hingga bermain game online bagi para anak muda zillenial.
Hal ini memberi tantangan bagi pemilik warung kopi untuk senantiasa menyuguhkan kenyamanan bagi pelanggan agar keberadaan warungnya selalu dicari, diminati dan senantiasa ramai pengunjung.
Dalam akuntansi, utang disebut sebagai account payable sementara piutang disebut dengan account receivable.
Account payable merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian, sedangkan account receivable berarti penagihan kewajiban pembayaran kepada pihak lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/CAMII-DU-2023.jpg)