Opini
Memahami Anak Muda
Mengatur anak muda sekarang memang susah susah mudah. Cara mereka ‘menghadapi’ dunia cenderung berbeda dengan generasi sebelumnya.
Di tahun 2021, rasio anak Korea Selatan 11,9 persen.
Singapura 12,4 persen, Italia 12,9 persen.
Cara pikir milenial Jepang juga berubah.
Karena banyak khawatir - terutama masalah ekonomi, banyak memilih tidak berkeluarga.
Inilah satu penyulut rendahnya kelahiran anak diatas.
Instrumen lain banyak bemunculan, kepemilikan rumah anak muda yang menyusut misalnya.
Menurut laporan ekonomi Business Insider akhir bulan lalu, tahun 2018 hanya 26 persen homeownership rate dimiliki kepala rumah tangga kelompok usia 30 hingga 34 tahun — turun dari 46 persen pada tahun 1983.
Mereka cenderung lebih ingin ‘diversified values’, kepemilikan properti bukan masalah besar.
Dibanding ruwetnya masalah di Jepang, kesempatan emas mungkin ada didepan mata kita.
Ya, bonus Demografi itu! Indonesia akan punya dibanjiri pemuda tangguh dan tenaga kerja muda produktif.
23 Juli besok adalah hari Anak Nasional. Harinya para generasi muda kita.
Orang tua kini dituntut mempersiapkan diri dan pengetahuan untuk memahami anak muda yang berkarakter unik, kreatif, tidak formal, menyenangi hal baru, multi tasking dan ingin serba cepat.
Bisa bahu membahu untuk transformasi Indonesia dari negara berkembang ke negara maju.
Mencontoh sukses Jepang saat memanfaatkan bonus demografi nya era 1950 melakukan loncatan ekonomi dahsyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muh-Zulkifli-Mochtar-1-2492022.jpg)