Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Cawe-cawe, Ikhtiar Ulil Amri dan Keseimbangan Makrokosmis

Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena saya sendiri  baru "ngeh" dengan istilah ini. 

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
tribun-timur
Mahasiswa Doktor UI Anshar Aminullah 

oleh Anshar Aminullah (Mahasiswa S3 Sosiologi UI) 

 


TRIBUN-TIMUR.COM - Tulisan ini saya hendak mulai dengan dua hal awal. Pertama, cawe-cawe ini sama sekali tak memiliki hubungan istimewa dengan yang sedang viral di jagat maya dalam beberapa hari ini.

Kedua, kecenderungan dalam tulisan sederhana ini hanyalah sebentuk analisis yang terserak-serak, yang mungkin hanya menghasilkan secuil fragmen-fragmen analisis sosial tanpa harus terperosok dalam asumsi-asumsi politik.

Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena saya sendiri  baru "ngeh" dengan istilah ini. 


Pengungkapan cawe-cawe jika tak diberikan batasan sumber asal muasal viralnya, itu bisa menghasilkan daya ledak empiris dengan mempengaruhi kehidupan sosial yang terstimuli dari kondisi-kondisi demokrasi kita hari ini.

Begitupun dengan pola komunikatif pada cawe-cawe, jika diperiksa dengan pendekatan instrumentalis tentang rasionalitas pentingnya dalam penggunaannya dikondisi urgen, sangat berpotensi menghasilkan penghilangan banyak dimensi kesantunan yang on the track dalam kehidupan sosial-politik kita. 

Saat mengimplementasikannya, dia harus menghasilkan kesadaran bahwa Tuhan juga berperan atas nasib kita.

Tuhan juga ikut membereskan, merampungkan serta ikut menangani dengan cara berbeda dalam posisi Maha segala-galanya.

Bahkan terlibat dalam mencawe-cawe kehidupan kita, dan itu murni dilatarbelakangi oleh Maha kasih sayang-Nya kepada setiap hambaNya. 

Dalam perspektif personal, jika cawe-cawe ini sepenuhnya ditumpukan pada makhluk bernama manusia, maka yakinlah, secara diam-diam kita akan merasa hanya diri kita sendiri yang bisa menolong nasib kita.

Tuhan akan mendapat tempat situasional berdasarkan kebutuhan kita saja. Dan dengan sendirinya, kita akan berupaya dengan berbagai cara menyerobot kesana-kemari mencurangi teman, bahkan mencuri rahmat yang diterima oleh saudara kita yang berakibat merosotnya kualitas moral pada diri dan terhadap sesama bahkan terhadap Yang maha Kuasa. 

Jika cawe-cawe berada di tangan ulil amri, tingkat akurasinya tentu jauh lebih tinggi.

Di tangannya tak hanya mampu menghasilkan kemenangan dalam momen kompetisi, dia juga akan menghasilkan kelekatan moral dalam momen konsolidasi, namun juga mampu menghasilkan runtuhnya keberhimpunan jika dia tidak terkonsolidasikan dengan baik diantara banyaknya 'kepentingan' di dalamnya.

Ketiganya berpotensi terjadi oleh karena cawe-cawe bukanlah sistem budaya seperti dalam perspektif Richard Munch dimana dia dibangun di atas simbol-simbol yang dikontrol oleh defenisi-defenisi situasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved