Opini
ASEAN Matters: Epicentrum of Growth Menuju ke Pusat Pertumbuhan Dunia
ASEAN adalah rumah bagi 20 persen dari semua spesies dunia yang dikenal dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Oleh:
Anas Iswanto Anwar
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Kepemimpinan Indonesia di tingkat global dalam Presidensi G20 Jalur Keuangan terus berlanjut melalui Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023.
Kepemimpinan Indonesia ini untuk mendukung ekonomi kawasan ASEAN yang diharapkanakan menghasilkan aksi nyata dalam pertemuan pertama tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau the 1st ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (AFMGM) yang baru-baru ini berlangsung pada tanggal28-31 Maret 2023 di Bali.
Peran penting dan strategis ASEAN sebagai pusat pertumbuhan dunia, seperti yang dikemukakan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI), Ferry Warjiyo bahwa ASEAN memiliki tujuan untuk menjadi suatu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang berhasil tumbuh positif 5,3 persen pada 2022, dan diperkirakan tumbuh 4,6 persen pada tahun ini, dan meningkat 5,6 persen pada 2024.
Pertumbuhan ASEAN terus berkembang didukung dari konsumsi yang kuat, perdagangan, investasi, dan perdagangan terbuka dengan negara lain.
ASEAN diharapkan dapat terus tumbuh di atas empat persen tahun ini dan tetap menjadi tujuan kawasan investasi yang menarik.
Hal ini dapat dicapai dengan penguatan kerjasama, kolaborasi dan koordinasi antar negara ASEAN sebagai kawasan.
Stabilitas pertumbuhan ekonomi ASEAN telah menjadi dan akan selalu menjadi bagiandari kisah ASEAN.
Untuk memastikan bahwa keberhasilan ini akan berkelanjutan, maka ASEAN harus memperkuat kapasitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan yang pernah dialami di masa lalu, termasuk yang tidak kalah penting adalah menghadapi tantangan baru yang muncul saat ini, hingga tantangan dua puluh tahun ke depan.
Pertemuan tingkat pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (1st AFMGM) ASEAN telah selesai terselenggara.
Semua negara anggota menyepakati beberapa langkah konkret bersama negara anggota. Kesepakatan itu mencakup kebijakan moneter dan fiskal, dengan melakukan sinergi antar negara kawasan.
Ada tiga topik utama yang dibahas dalam pertemuan AFMGM ke-9. Ketiga prioritas itu yakni recovery rebuilding, digital economy, dan ekonomi berkelanjutan.
Indonesia yakin bahwa tema ini mencerminkan ketahanan atau resiliensi ASEAN sebagaikawasan di tengah-tengah ketidakpastian global, seperti inflasi, disrupsi rantai pasok, dan krisis geopolitik, serta dampak pandemi yang masih berlangsung.
Isu pertama dalam pertemuan tersebut ialah tentang Recovery–Rebuilding, sebagai bagian dari pemulihan dan kebangkitan ekonomi pasca Covid-19.
Adanya pandemi Covid-19 yang datang secara tiba-tiba dan belum ada vaksinnya di awal, membuat seluruh negara mengambil kebijakan pembatasan interaksi antarmasyarakatnya. Hal ini berdampak pada merosotnya kegiatan ekonomi yang luar biasa.
Untuk itu, maka sudah tepat saatnya untuk membangun kembali pemulihan atau recovery rebuilding. Ini dilakukan dengan mendorong pemulihan dan memastikan stabilitas serta ketahanan ekonomi dan keuangan.
Selain itu tidak hanya melanjutkan pemulihan, tetapi harus tumbuh dan stabil. Hanya dengan pertumbuhan dan stabilitas, akan menjamin Kawasan ini bisa bergerak maju.
Digital economy atau ekonomi digital sebagai isu selanjutnya, dimana topik ini akan selalu menjadi topik pembahasan dalam setiap forum kerjasama termasuk ASEAN.
Perkembangan dunia menuju era digitalisasi, sehingga semua pihak perlu memahami ekonomi digital terutama dalam hal untuk memajukan konektivitas pembayaran, mendorong literasi dan inklusi keuangan digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Melalui ekonomi digital akan membuka jalan untuk memungkinkan bagaimana sektor bisnis akan berada pada posisi yang lebih baik secara berkelanjutan.
Sementara itu, Sustainability, sebagai isu yang ketiga dan tidak kalah pentingnya dengan isu-isu lainnya.
ASEAN adalah rumah bagi 20 persen dari semua spesies dunia yang dikenal dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Namun, semua sumber daya alam yang kaya ini dihadapkan pada tantangan dan tekanan lingkungan yang sangat besar.
Peningkatan populasi, urbanisasi yang cepat dan pembangunan ekonomi yang progresif telah menyebabkan peningkatan permintaan dan konsumsi makanan, air dan energi.
Kawasan ASEAN juga menghadapi peningkatan suhu rata-rata dan ekstrem, peningkatan curah hujanserta intensitas dan durasinya. Demikian pula dengan kekeringan, kebakaran lahan dan/atau hutan yang masih terus membayangi kawasan ini.
Berbagai inisiatif maupun usulan perlu dipertajam kembali melalui pendekatan yang berkelanjutan dan mendukung perubahan untuk memastikan bahwa semua dapat memberikan manfaat besar bagi Indonesia maupun ASEAN.
ASEAN harus bekerja sama secara kolaboratif dan kooperatif, harus memanfaatkan keahlian dan pengalaman kolektif untuk mengembangkan kebijakan dan langkah-langkah yang mempromosikan ketahanan ekonomi, keberlanjutan, dan inklusi.
Apakah dengan peran keketuaan ASEAN 2023, Indonesia merupakan bagian dari tahapan menuju terciptanya ASEAN Economic Community (AEC) yang saling terkoneksi, inklusif, dan sejahtera pada 2025, Semoga… !(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ww-Anas-Iswanto-Anwar-dosen-Fakultas-Ekonomi-dan-Bisnis-Unhas.jpg)