Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Strategi Pengembangan SDM dan Kemandirian Ekonomi, Menapaki Fase Abad ke-2 Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad pada tanggal 16 Rajab 1444 H yang bertepatan dengan 7 Februari 2023..

DOK UNM
Husain Syam - Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM dan Ketua PW ISNU Sulsel 

Oleh:Husain Syam
Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM dan Ketua PW ISNU Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad pada tanggal 16 Rajab 1444 H yang bertepatan dengan 7 Februari 2023.

Organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Ashari mengukuhkan eksistensinya sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.

NU telah menunjukkan kiprah dan konstribusinya dalam memajukan umat dan bangsa.

Bersama organisasi kemasyarakatan lainnya, NU berkomitmen menyelaraskan keIslaman dan keIndonesiaan dengan membumikan Islam rahmatan lil alamin.

Memasuki fase abad ke-2, kiprah NU harus lebih inovatif dan berdaya saing dalam menyiapkan sumber daya manusia dan pengelolaan ekonomi secara mandiri.

Dalam menjalankan visinya NU didukung badan otonom yang berfungsi sesuai dengan bidangnya.

Salah satu badan otonom NU yang mewadahi para profesional dan cendekiawan yaitu Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Organisasi ini telah menghasilkan cendekiawan yang berkiprah dalam berbagai bidang.

Kualitas sumber daya manusia (SDM) NU telah tersebar, baik yang tergabung dalam struktural maupun mengabdi secara kultural.

Sumbangsih para cendekiawan diharapkan memberi dampak yang signifikan bagi kemajuan NU.

Diskursus pengembangan NU dari warga nahdiyin dan masukan dari masyarakat, diharapkan menjadi pemantik dan referensi dalam implementasi pencapaian visi dan misi organisasi.

Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk menyampaikan gagasan strategis bagi NU yaitu pengembangan SDM dan kemandirian ekonomi.

Strategi pertama, pengembangan SDM. Peningkatan kualitas SDM yang berkelanjutan menjadi hal penting dalam menggerakkan bidang lainnya.

Sebagai contoh, walaupun sumber daya alam (SDA) melimpah, jika tidak didukung dengan SDM yang berkualitas, maka tidak akan mengoptimalkan penambahan nilai bagi SDA tersebut.

Namun sebaliknya, SDM yang berkualitas akan memberi dampak pengoptimalan bagi pengelolaan dan penambahan nilai jual SDA.

Hal ini potensial dapat direalisasikan oleh NU, karena dukungan dari jumlah pesantren mencapai 26.000 (https://rmi-nu.or.id) dan 274 perguruan tinggi (laporan LPTNU pada Muktamar ke-34 NU) yang merupakan binaan NU tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu dukungan warga nahdiyin yang berkiprah di sekolah dan perguruan tinggi lainnya.

Dikotomi pendidikan umum dan agama kerap menjadi perdebatan, yang berdampak terhambatnya akselerasi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dibutuhkan secara berkelanjutan, integrasi secara holistik keilmuan multidisiplin dan interdisipliner.

Hal ini akan menghantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai disiplin ilmu, pemahaman agama yang baik, dan tentunya wawasan kebangsaan untuk peningkatan kualitas kecintaaan kepada tanah air.

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dirilis Kemdikbudristek, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan lintas program studi asal dan pembelajaran di luar kampus.

Peserta didik akan memiliki multi skill sebagai bekal aktif di masyarakat. Selain itu, penguatan wawasan keagamaan dan kebangsaan yang terinternalisasi dalam setiap mata pelajaran/kuliah.

Praktik baik dari program MBKM dengan inovasi program yang relevan sesuai kebutuhan dapat dielaborasi bersama pemangku kebijakan.

Era ini membutuhkan kolaborasi lintas ilmu, untuk menghasilkan terobosan dalam membangun peradaban.

Strategi kedua yaitu kemandirian ekonomi, hal ini menjadi salah satu prioritas dalam mendorong aktivitas NU, menjalankan khittahnya dan memajukan pembangunan bangsa. Ali Masykur Musa (Ketua PP ISNU) mengungkapkan bahwa “kemandirian ekonomi menjadi prasyarat kemandirian politik kebangsaan NU.”

Dengan potensi jumlah warga nahdiyin yang besar, memberi kesempatan kepada NU untuk mengidentifikasi dan mengelola secara mandiri kebutuhan ekonominya.

Dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki masing-masing warga.

Selanjutnya mengidentifikasi dan memproduksi produk yang dibutuhkan dan didistribusikan dengan jejaring dan pasar yang potensial. Dengan demikian, produk dari NU untuk NU, nasional hingga menembus pasar global.

Budaya entrepreneurship bagi santri dicanangkan sejak mereka menimba ilmu di pondok pesantren.

Diharapkan santri telah memiliki visi wirausaha sejak dini dengan membangun karakter santri entrepreneur.

Kelak jika mereka menjadi alumni dan berkiprah di masyarakat dapat menjadi pelaku bisnis dengan mendirikan UMKM atau industri yang akan mendorong akselerasi kemandirian ekonomi umat dan bangsa.

Di sisi lain, jika mereka memilih profesi menjadi pendakwah akan senantiasa berinovasi dalam menyampaikan dakwah, memberikan pencerahan ke masyarakat sesuai dengan kebutuhan zaman.

Begitupun dengan profesi lainnya, akan senantiasa terinternalisasi nilai kreatif, inovatif, dan akhlakul karimah.

Pelatihan yang berkelanjutan bagi wirausaha akan memberi bekal dalam mengelola bisnis yang mengalami dinamika dalam perjalanannya.

Kedua, akses permodalan yang fleksibel dari koperasi, perbankan, dan sumber pendanaan lainnya akan mendukung bagi wirausaha dalam menjalankan bisnis yang dikembangkan.

Selanjutnya, pemanfaatan teknologi dalam pengemasan produk dan penerapan digital marketing akan memperkukuh pelaku UMKM dalam memasarkan produknya.

Strategi pengembangan kualitas SDM dan kemandirian ekonomi ini, semoga menjadi bekal langkah memasuki fase abad kedua NU.

Hal ini diharapkan dapat berkonstribusi menghantarkan NU menjadi organisasi yang cerdas dan mandiri, serta mampu mengakselerasi daya saing bangsa menyongsong Indonesia emas 2045.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved