Catatan Amure
Catatan Satu Abad Nahdlatul Ulama dari Anggota DPR RI: Resepsi NU
Nasib dan nasab ikut berperan. Dulu aku, misalnya, panggil “Mus...Mus... mana kunci motor? Ayo beli tempe goreng di Sapen!” Sekarang sudah jadi Kiai
Oleh: Andi Muawiyah Ramly
Anggota DPR RI Dapil Sulsel II dari PKB/pernah 15 tahun jadi anggota Pleno PBNU dan Ketua Lembaga NU terlama
TRIBUN-TIMUR.COM - Pernik-pernik di Nahdlatul Ulama (NU) itu luar biasa banyak. Tapi ada hal yang mungkin jarang dipikir dan ditulis. Sekian lama menjadi aktifis NU, kita berangkat sama-sama dengan teman sebaya, sejak madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi. Juga dengan adik-adik dan kader jauh di bawah kita.
Waktu berlalu, tiba-tiba sudah lebih 40 tahun lewat.
Teman-teman yang dulu biasa abang minta garuk punggung dan belikan rokok, tiba-tiba sudah jadi kiai dan berjenggot putih. Ada yang menjadi syuriah NU, Tanfidz dan masuk jajaran PBNU.
Waktu kemudian membuat banyak perubahan. Nasib dan nasab ikut berperan. Dulu aku, misalnya, panggil “Mus...Mus... mana kunci motor? Ayo beli tempe goreng di Sapen!”.
Sekarang sudah jadi Kiai pimpinan pesantren. namanya Kiai Mustafa atau Tuan Guru Mustafa.
Memaksa mulut ini panggil Kiai apalagi cium tangannya agak berat betul. Belum lagi anak-anak bawang, yang kerap dan sabang kali palak abang untuk latihan ini, latihan itu, tiba-tiba masuk PBNU, namanya pun di depannya jadi Gus.
Gus gombal mukio, seperti si Alex itu. Kalau kader yang sedikit sopan seperi Imam Aziz, Mun'im DZ masih punya sopan santun dan akhlaqul karimah.
Mereka masih menahan diri tidak menghujat PKB karena mereka tahu, abang, seniornya adalah Pengurus DPP PKB dan salah seorang pendiri PKB di Tim 9.
Aku bahagia, karena Allah SWT masih memberi hidup melihat perayaan satu abad NU. Aku minta para sahabat di Dapil Sulsel pasang baliho, spanduk, bendera NU di depan rumah, nyanyikan lagu NU sekencang-kencangnya, tidak perlu dengar orang-orang fasiq yang mempersoalkan nyanyian dan lagumu.
Yang tidak boleh kalian pasang dan nyanyikan adalah bendera Israel dan lagu Israel, karena kita belum punya hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu.
Dan aku tidak perlu sedih, meski pernah 15 tahun jadi anggota Pleno PBNU dan Ketua Lembaga NU terlama, dan pernah menjadi Panitia Inti 5 Muktamar NU, namun Panitia 1 abad tidak cawe-cawe abang ke Resepsi 1 abad NU di Sidoarjo.
Tapi memang tidak penting cawe-cawe itu. Seandainya sempat ke Sidoarjo, tentu akan menyapa sekian ratus teman lama, yang sudah sepuh dan bongkok.
Abang akan tunjukkan, itu ketua SC yang gambarnya ada di ATM-ATM se Indonesia dan sudah jadi anggota NU Kiai.
Mereka akan balik tanya, apakah dia akan betah di NU???
Abang akan beritahu, sambil berbisik, tunggu saja Kiai, dia belum tahu NU itu kayak apa? Nanti bosan sendiri.
Kepada para Assalafussaleh, segenap pengurus NU, pimpinan pesantren, para Habaib, Anre Gurutta, para Kiai, Tuan Guru, pengikut Kiai, pencinta Habaib, alfakir sampaikan tahniah doa dan sukacita atas 1 Abad Nahdlatul Ulama.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.