Opini
Dari Berkualitas ke Bermartabat
Pemilu 2019 lalu memang telah mengajarkan kita untuk sebisa mungkin menghindari persepsi sebuah keraguan total pada tahapan pemilu di 2024.
oleh:
Anshar Aminullah
Mahasiswa Doktoral Sosiologi UI
TRIBUN-TIMUR.COM - Tim Seleksi KPU di beberapa Propinsi telah diumumkan beberapa hari lalu.
Banyak harapan dan ekspektasi besar rakyat Indonesia dari produk output bernama komisioner KPU Propinsi yang mereka hasilkan nantinya, sebab di tangan para penyelenggara inilah sesungguhnya masa depan demokrasi kita melalui pemilu dipertaruhkan.
Pemilihan Umum banyak memberikan pelajaran berharga agar menjadi lebih bijak.
Salah satunya, bahwa Pemilu 2019 lalu memang telah mengajarkan kita untuk sebisa mungkin menghindari persepsi sebuah keraguan total pada tahapan pemilu di 2024 nanti.
Kita harus memulai dengan prasangka positif akan sebuah orientasi yang gamblang menuju sebuah kondisi akhir, yakni demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Meskipun sangat sulit menghilangkan ingatan masa lalu kita terhadap beberapa catatan dalam peristiwa penting yang menghiasi Pemilu 2019 lalu.
Harus kita akui bahwa dia masih tersimpan hangat di memori kita, khususnya data yang diungkap ketua KPU RI periode sebelumnya, Arief Budiman, bahwa Total 894 petugas yang meninggal dan 5175 yang mengalami sakit (Kompas, 27/1/2020). Kali pertama dalam sejarah kepemiluan di Indonesia peristiwa seperti ini mendera.
Kontroversi boleh saja hadir dengan menyalahkan "kelelahan" sebagai tersangka utama kematian para penyelengara di 2019 lalu.
Dan kita juga tidak boleh terjebak pada pemanipulasian kesadaran terhadap asumsi liar, bahwa ini adalah sebentuk tindakan 'permainan' oleh kelompok tertentu yang hendak memenangkan tujuan mereka.
Asumsi ini tentu cukup berbahaya bagi upaya kita dalam menghadirkan ruang demokrasi yang berkualitas.
Justru sebaiknya mungkin, bahwa peristiwa kelam ini mestinya menghadirkan ruang bagi penyelenggara pemilu, untuk mengembangkan kepandaian kreatif sebagai solusi bagi tindakan, serta upaya untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang akan terjadi pada pemilu 2024 nanti.
'Evolusi' pada Ekspektasi hasil
Sebanyak lima kali pemilu pasca reformasi telah dilaksanakan. Mestinya kita tidak lagi mempertahankan tujuan secara konstan yakni pemilu yang berintegritas.
Kita mungkin seharusnya telah berada pada level tujuan menghadirkan pemilu bermartabat, dan semestinya tujuan itu telah 'berevolusi' kearah sana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Anshar-Aminullah-Mahasiswa-Doktoral-Sosiologi-UI-b.jpg)