Dirut BMS Tersangka

11 Orang Saksi Diperiksa Terkait Kasus Dugaan Tindak Pidana Korupsi PT Bumi Maros Sejahtera

Dalam penggeledahan itu, pihaknya memeriksa beberapa dokumen dalam bentuk file dan kertas 15 Desember 2022 lalu. 

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/NURUL HIDAYAH
Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros, Jl Dr Ratulangi, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros.   

TRIBUNMAROS.COM, MAROS - Sedikitnya 11 orang saksi diperiksa dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret Dirut Perusda PT Bumi Maros Sejahtera, Hermanto Syahrul.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros, Wahyudi Eko Husodo mengatakan sebelumnya pihaknya juga telah melakukan penggeledahan di Kantor Perusda tersebut.

Dalam penggeledahan itu, pihaknya memeriksa beberapa dokumen dalam bentuk file dan kertas 15 Desember 2022 lalu. 

"Kami mencari alat bukti berupa cek, dokumen dan beberapa file di komputer," katanya.

Pihaknya juga berhasil mengamankan uang senilai Rp200 juta.

"Kemarin itu ada dana sitaan sebesar Rp200 juta di rekening titipan Kejari. Uang itu kita ambil dari seseorang yang meminjam uang milik PT BMS, yang dipinjam secara pribadi kepada Direktur PT BMS," ujarnya. 

Diberitakan sebelumnya, Direktur Utama ( Dirut) Perusda PT Bumi Maros Sejahtera (BMS) Hermanto Syahrul kini resmi menyandang status tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) penyertaan modal Perusahaan Daerah.

Pantauan langsung Tribun Timur, saat keluar dari Kantor Kejari Maros, Hermanto sudah menggunakan kemeja berwarna abu-abu dengan rompi merah bertuliskan "Tahanan Kejari Maros"

Sementara kedua tangannya diborgol. Sepanjang jalan menuju mobil, dia terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Jadi hari ini Selasa tanggal 24 Januari, kita Kejaksaan Negeri Maros baru saja menetapkan tersangka dan menahan berinisial HS. Dia adalah Dirut PT Bumi Maros Sejahtera, yang setelah kita lakukan penyidikan, diduga melakukan korupsi," kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros Wahyudi Eko Husodo dalam konferensi pers yang digelar Selasa (24/1/2023) siang tadi.

Wahyudi menjelaskan kasus ini bermula saat Dirut PT BMS itu tudak menyetorkan hasil keuntungan perusahaan.

"Jadi kan ada penyertaan modal dari Pemkab Maros sebesar Rp1 M," ujar Wahyudi. Nah tentunya di perusahaan ini ada usaha-usaha yang dilakukan dan mestinya keuntungan disetorkan ke perushaan bukan digunakan untuk kepentingan pribadi," urainya.

Namun dari hasil pemeriksaan penyidik kata dia, selama beberapa tahun Hermanto menjabat direktur, ada keuntungan yang dipergunakan untuk kepentingan pribadi sebesar Rp564 juta sesuai hasil audit dari tim auditor.

Dari hasil audit kejaksaan, ditemukan kerugian negara sebesar Rp564 juta.

Halaman
12
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved