Opini
Mencipta Dampak
Kondisi dan realitas perkembangan dewasa ini, setelah Pandemi dan hadirnya perkembangan teknologi, ternyata menantang mencipta dampak..
Oleh: AM Sallatu
Pendidik dan Peneliti, Tinggal di Parepare
TRIBUN-TIMUR.COM - Harian Kompas Sabtu, 31/12/22, dalam kolom tetap Karier Experd, kembali mengulas tentang pemimpin dan kepemimpinan yang menyertainya, dengan judul ‘Membuat Dampak’.
Dikutip ungkapan John Maxwell yang mengatakan ‘leadership is influence, nothing more, nothing less’ dipandang sudah tidak memadai.
Oleh karena salah satu peran penting serta strategis seorang pemimpin adalah kemampuan menciptakan dampak.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa influence sebenarnya hanya sebuah jalan menuju pencapaian kinerja, namun selajutnya patut menyasar dampak.
Kondisi dan realitas perkembangan dewasa ini, setelah Pandemi dan hadirnya perkembangan teknologi, ternyata menantang mencipta dampak.
Walaupun memang bukan hal yang mudah. Sejumlah pemimpin berusaha keras tetapi belum bisa membawa efek signifikan, di satu sisi, namun di sisi lain sudah nampak pula ada yang sangat berhasil.
Mencermati data capaian kinerja SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) se Sulsel tahun 2022, oleh salah seorang ahli di Unhas dianggap masih sangat rendah dan masih jauh dari menggembirakan.
Bila kinerja saja masih rendah apalagi dampak tentunya.
Berarti, pimpinan puncak pemerintahan di Sulsel, dalam mengemban influence terhadap jajaran perangkat instansi yang dipimpinnya masih mengalami seperangkat permasalahan.
Data yang dirilis oleh Kemenpan RB baru-baru ini memperlihatkan bahwa kategori yang mampu dicapai oleh jajaran pemerintah provinsi lebih menuntut perhatian serius.
Oleh karena sepatutnya tingkatan provinsi mampu berkinerja jauh lebih baik untuk kemudian bisa melakukan supervisi pada pemerintah kabupaten dan kota di wilayah ini.
Sejauh ini memang fungsi supervisi dapat dikatakan tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
Salah satu permasalahan pokok yang ada, sebagaimana penulis pernah ungkapkan bahwa nyaris pada semua instansi pemerintah di Sulsel, working environment belum mampu dibangun secara kondusif agar pada gilirannya bisa berkinerja dengan baik.
Realitas ini sudah berlangsung cukup lama. Inilah sebuah PR besar yang sepatutnya mendapat perhatian penuh dari pimpinan puncak pemerintahan secara keseluruhan di wilayah ini.
Demikian seriusnya pemerintah terkait SAKIP, Kemenpan RB bahkan menyiapkan semacam reward bagi daerah yang menunjukkan hasil yang baik.
Tahun 2022 ini, tidak satu pun daerah di Sulsel yang diganjar dengan reward.
Padahal untuk mendapatkan rekor MURI saja bahkan dibiayai, termasuk nyawa warganya.
Suka atau tidak suka, di dunia pemerintahan daerah, leader as also leadership matters di wilayah ini.
Ungkapan ini terpaksa harus dilontarkan, sebagai pengingat, karena kita sudah berada dalam proses awal Pilkada 2024.
Sadar atau tidak sadar, SAKIP adalah bagaikan jantung dalam tubuh pemerintahan, yang harus mampu tercermin nyata dalam keseharian penyelenggaraan roda pemerintahan daerah.
Setuju atau tidak setuju, SAKIP adalah bagian integral dalam administrasi pemerintahan yang secara berlanjut harus dibangun dan dikembangkan untuk berkinerja secara baik.
Kinerja instansi pemerintah, oleh pimpinan puncak mungkin bisa didelegasikan untuk tujuan pencapaiannya.
Namun dampak seyogyanya dipahami harus menjadi tanggung jawab kepemimpinan puncak
Setiap pimpinan puncak pemerintah daerah menghadapi dua sasaran kinerja yang dapat dikatakan beririsan satu dengan lainnya.
Yaitu, kinerja instansi pemerintah dan kinerja pembangunan. Kinerja instansi pemerintah lebih bersifat software sedangkan kinerja pembangunan lebih bersifat hardware, yang sepatutnya secara padu harus selalu berada pemikiran Kepala Daerah (KDH).
Namun dari data yang dirilis oleh Kemenpan RB, nampaknya di wilayah ini perhatian lebih besar diarahkan pada kinerja pembangunan.
Terlebih khusus investasi dan infrastruktur untuk pertumbuhan ekonomi. Walaupun dampaknya belum bisa dikatakan menggembirakan, mengingat biaya pertumbuhan yang ditanggung oleh masyarakat dan lingkungan sangat besar.
Patut disadari bahwa kondisi dan perkembangan instansi pemerintah adalah jauh lebih mendasar kepentingannya. Oleh karena kinerja instansi pemerintah yang menjadi basis dan membuahkan kinerja pembangunan.
Apalagi perkembangan dewasa ini telah menunjukkan bahwa kinerja sudah harus langsung diikuti oleh dampak. Itu berarti, dampak sejatinya sudah merupakan hal yang niscaya dewasa ini.
Sejauh ini, bahasan tentang dampak lebih dinomor-duakan dibandingkan dengan kinerja, karena dianggap memiliki perspektif yang bersifat jangka panjang.
Ternyata dampak, penting untuk lebih banyak menjadi domain eksistensi pemimpin dan peran kepemimpinan yang diembannya.
Kinerja instansi pemerintah dan kinerja pembangunan harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bukan untuk pilihan prioritas.
Tegas dinyatakan dan karena itu patut dipahami bahwa dampak adalah kapasitas dan kompetensi pemimpin untuk mempengaruhi aparat dan perangkat yang dibawahinya untuk bertingkah laku positif dan berkinerja.
Kinerja instansi adalah hasil kumulatif sumberdaya yang tersedia didalamnya. Sedangkan kinerja pembangunan adalah hasil kumulatif sektor-sektor yang ada terkait didalamnya.
Dalam kesatuannya yang padu inilah dampak akan menyentuh langsung kepentingan masyarakat yang diayomi.
Ulasan Karier Experd mencatat beberapa hal pokok dari kepemimpinan puncak agar mampu mencipta dampak.
Antara lain, pertama, keterampilan pimpinan puncak untuk menunjukkan kapasitas emotional egility pada jajarannya, yang tentu saja dengan mengembangkan apa yang dimaksud dengan organizational leadership.
Dalam kaitan ini tampilan sebagai komandan yang pada umumnya kehilangan ciri agilitynya sudah out of date, pimpinan puncak harus mampu hadir sebagai coach.
Artinya, memang tidak mudah dan gampangan untuk bisa melakoni peran dan fungsi pimpinan puncak dunia pemerintahan. Keterpilihan belum memberikan jaminan keberhasilan mencipta dampak.
Kedua, pimpinan puncak perlu secara padu lebih mengandalkan pengaruh berbasis kapasitas yang dimilikinya dan lebih arif menggunakan kekuasaannya, di satu pihak, dan lebih berfokus pada apa yang benar dan bukannya pada siapa yang benar, di lain pihak.
Sudah terlalu sering menjadi bahan diskusi tentang peran dan fungsi signifikan kelompok ‘ring satu’ disekitar pimpinan puncak dalam menetapkan dan menerapkan kebijakan.
Organisasi tidak berfungsi sebagai mestinya, justru yang terjadi pelemahan kelembagaan. Dan yang lebih penting lagi, working environment menjadi sangat tidak kondusif, sehingga sulit mencapai kinerja apalagi mencipta dampak.
Hal lainnya, patut menjadi perhatian pimpinan puncak untuk mampu menggerakkan kolaborasi secara internal maupun eksternal, menguatkan tim-tim kerja, mendorong ruang kreatifitas dan memberikan penghargaan kepada jajaran yang dipimpinnya.
Ditegaskan bahwa jelas tidak ada jalan pintas untuk mencipta dampak, tetapi nyaris tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali berusaha keras.
Masyarakat luas sejak lama menantikan kehadiran pimpinan puncak pemerintahan yang mencipta dampak, bukan sekedar kinerja angka-angka statistik yang juga belum semuanya bagus dan meuaskan.
Para calon pada Pilkada yad di Sulsel, sepatutnya menyadari pentingnya pembelajaran birokrasi!. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Salattu-3-1-2023.jpg)