Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur

Badai Landa Sulsel Hingga 2 Januari

Anging kencang melanda beberapa kawasan di Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (27/12/2022) malam.

DOK PRIBADI
Rumah rusak akibat angin kencang di Dusun Borongloe, Desa Bontorappo, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/12/2022). Diketahui Cuaca ekstrem akan terjadi karena adanya fenomena Monsun Asia ditambah seruakan dingin dari dataran tinggi Asia yang masuk melalui Selat Malaka dan kemudian menyeberang ke ekuator, dan terbentuknya Arus Lintas Ekuator atau Cross Equatorial Northerly Surge (CENS).BMKG memperkirakan fenomena ini mulai terjadi pada 28 Desember yang akan menyelimuti wilayah Jawa Timur hingga Nusa Tenggara.   

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anging kencang melanda beberapa kawasan di Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (27/12/2022) malam.

Kawasan Pantai Losari diterjang badai sekitar pukul 17.30 petang kemarin.

Pengendara di Jl Metro Tanjung Bunga terpaksa menghentikan kendaraan yang ditumpangi karena khawatir terseret atau terpelanting.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memang telah mengeluarkan peringatan dini akan cuaca ekstrem tersebut.

BMKG, kemarin, melaporkan, cuaca ekstrem terjadi di wilayah Bulukumba, Jeneponto, Takalar, Gowa, Sinjai, Maros, Pangkep, Barru, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Makassar, dan Palopo hingga pukul 20:20 wita.

Potensi cuaca ekstrem seperti yang dirasakan Selasa (27/12) kemarin akan terjadi hingga 2 Januari 2023.

Berdasarkan hasil pantauan BMKG kecepatan angin di wilayah Kota Makassar saat siang hari tercatat 61.2 km/jam.

"Fenomena angin kencang disertai hujan ringan dan lebat masih berlanjut hingga akhir tahun," ujar staf BMKG Makassar, Asriani Idrus.

Suhu udaranya mencapai 19 - 31 celcius. Kelembaban udara 70 - 95 persen.

Peringatan dini moderate sea gelombang 1.25 - 2.5 m terjadi di perairan spermonde Makassar bagian barat, perairan spermonde Makassar.
Rough sea gelombang 2.5 - 4 m terjadi di selat Makassar bagian selatan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, jika sebelumnya pihaknya mendeteksi empat fenomena yang terjadi berbarengan sehingga mengakibatkan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, kini ada penambahan satu fenomena lagi yang mendorong peningkatan terjadinya cuaca ekstrem tersebut.

"Hari ini 27 Desember kami mengevaluasi ternyata prakiraan tersebut konsisten atau sesuai dengan kejadian yang ada. Bahkan sejak kemarin kami mendeteksi ada penambahan satu fenomena baru lagi yang dapat berpengaruh pada dinamika cuaca Indonesia," ungkap Dwikorita dalam konferensi pers BMKG, Selasa (27/12).

Berdasarkan analisis terkini BMKG, kondisi dinamika atmosfer di sekitar wilayah Indonesia masih berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dalam satu minggu ke depan. Kondisi dinamika atmosfer ini memicu peningkatan curah hujan dan punya tendensi adanya penguatan intensitas.

"Jadi mulai hari ini hingga 2 Januari 2023," katanya.

BMKG bahkan menyebut pada 1 Januari 2023 peta wilayah Indonesia akan tertutup warna hijau pekat atau indikasi terjadinya curah hujan lebat hingga ekstrem.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved