Opini Tribun Timur
Catatan di Kaki Langit: Capres Wakil Seperempat Miliar Manusia Indonesia
Media sosial telah berubah menjadi panggung kampanye. Padahal, pemilu masih tiga belas bulan.
Oleh: M. Qasim Mathar
TRIBUN-TIMUR.COM - Masih ada tiga belas bulan pemilu 2024, tapi demam pemilu sudah menghinggapi Parpol dan Politisi.
Tak sedikit dari padanya sedang mabuk pemilu.
Demam dan mabuk pemilu menjalar pula kepada masing-masing pendukung. Sebagai netizen, para pendukung membuat media sosial hiruk pikuk mempropagandakan capres masing-masing.
Media sosial telah berubah menjadi panggung kampanye. Padahal, pemilu masih tiga belas bulan.
Politik itu dinamis, kata orang. Ia bisa berubah dari saat ke saat. Dari detik ke detik.
Bahkan, kata orang, dalam politik tidak ada yang abadi.
Sebab, yang abadi hanya kepentingan. Kepentingan itulah yang membuat politik dinamis dan berubah-ubah. Tapi, betulkah demikian?
Bagaimana parpol dan politisinya yang tampak tidak dinamis dan tidak pula berubah-ubah. Statis. Sementara yang lain sibuk deklarasi, ada pula politisi tampak pula statis.
Parpol dan politisi yang statis itu tidak tergoda apalagi terpengaruh dengan siaran lembaga-lembaga survei.
Seolah menilai, bahwa siaran survei itu hanya bagian dari hiruk pikuk politik belaka. Bukan hakikat dari politik yang sedang terjadi sesungguhnya.
Serupa dengan itu, teriakan kepada kaum akademisi agar jangan tinggal di "dalam"; agar keluar bersuara, karena masyarakat bangsa dalam keadaan bahaya. Namun, kaum akademisi itu bergeming.
Diam, tidak bergerak sedikit jua.
Akademisi yang demikian, justeru berpendapat, yang gawat adalah yang berpemilu sebelum waktunya. Yang berkeliling kampanye sebelum waktunya. Bukankah masih tiga belas bulan lagi pemilu?
Biarkanlah lembaga survei bersama pers berhura-hura pula berpemilu sebelum waktunya.
Toh, bukan tidak ada pengalaman, tokoh yang terpilih menjadi kepala pemerintahan dari hasil survei, setelah memerintah, dicemooh oleh rakyat yang memilihnya.
Maka parpol, politisi, dan akademisi yang bergeming, tidak tergerak untuk ikut ramai dengan hiruk pikuk deklarasi dan poros-poros koalisi, adalah mereka yang konsisten dengan tata aturan dan tata krama politik pemilu.
Mereka akan ikut pemilu pada waktunya.
Mereka juga tidak akan mencemooh hasil pemilu. Alasannya jelas, mereka merdeka dari poros-poros dan koalisi-koalisi politik. Mereka merdeka di kamar pencoblosan (pemberian suara) pada pemilu 2024.
Mereka ini memiliki harapan agar pada masa datang, capres tidak lahir dari daftar nama yang disusun, lalu disurvei.
Mereka juga berharap, pers sanggup membuka perspektif baru bagi munculnya capres-capres bukan semata dari daftar nama yang disusun, lalu disurvei.
Tapi, nama-nama dari wakil sesungguhnya dari seperempat miliar rakyat Indonesia. Masih banyak waktu untuk kita berpikir!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/prof-m-qasim-mathar-21082018_20180821_235633.jpg)