Muktamar XV Asadiyah

Bunyamin Yafid: Ideologi Wasathiyah Asadiyah Sengkang Tameng Radikalisme di Indonesia

Hal tersebut juga yang mendasari Asadiyah memilih tema transformasi nilai-nilai moderat Asadiyah pada muktamar ke-XV.

Penulis: Wahyudin Tamrin | Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Ketua Panitia Muktamar XV Asadiyah Bunyamin Yafid saat live podcast di YouTube Tribun Timur.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pondok Pesantren Asadiyah sejak berdiri 93 tahun silam, selalu mengajarkan ideologi wasathiyah kepada para santri.

Wasathiyah merupakan paham yang menyeimbangkan antara keyakinan dengan toleransi.

Hal tersebut juga yang mendasari Asadiyah memilih tema transformasi nilai-nilai moderat Asadiyah pada muktamar ke-XV.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Muktamar XV Asadiyah Bunyamin Yafid, kepada Tribun-Timur.com, Kamis (1/12/2022).

Bunyamin mengatakan ideologi wasathiyah yang dianut Asadiyah menjadi tameng bagi umat dari paham radikalisme yang membahayakan bangsa Indonesia.

Apalagi, kata dia, Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam. Mulai dari suku, budaya, ras, agama, bahasa, dan sebagainya.

Namun, keberagaman itu dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu.

"Alumni Asadiyah sudah tersebar di seluruh Indonesia dan siap menjadi tameng melawan paham radikalisme. Tidak mungkin ada alumni yang menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan wasathiyah," katanya.

Bunyamin menyebutkan Asadiyah juga memiliki peran dalam proses kemerdekaan bangsa Indonesia. Pesantren ini telah berdiri sebelum Indonesia merdeka.

Sehingga, para santri Asadiyah juga ikut berjuang memerdekakan Indonesia khususnya di Wajo dan Sulawesi Selatan.

"Asadiyah ini boleh saya katakan peranannya dalam republik ini juga sangat dibutuhkan. Sehingga sering saya katakan siapapun penentu kebijakan di Kabupaten Wajo ini dan di Sulsel memperhatikan Asadiyah sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah," katanya.

Bunyamin mengatakan Asadiyah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipisahkan.

Asadiyah, kata dia, tidak mungkin menyebarkan konsep khilafah apalagi radikalisme.

"Karena Asadiyah merupakan bagian dari pendiri bangsa ini. 15 tahun sebelum merdeka, Asadiyah sudah menyebarkan agama dan dakwah," ujarnya.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved