Opini
Pertemuan KTT G20 dan Issue Lingkungan
Diperlukan sebuah effort atau ikhtiar yang sungguh-sungguh dari para Pemimpin Dunia yang hadir dalam KTT G20 di Bali.
TRIBUN-TIMUR.COM - Running teks di layar kaca tertulis, “Penduduk Dunia akan berjumlah 8 Milyar dalam pekan depan”.
Sebuah issue yang cukup menarik menjelang Pertemuan Presidensi G20 Indonesia 2022, yang akan membahas dua arus isu utama, yaitu Finance Track terkait isu ekonomi dan keuangan serta Sherpa Track yang akan membahas isu lebih luas seperti perubahan iklim, perdagangan, energi, geopolitik, dan isu penting lainnya.
Presidensi G20 Indonesia makin memperkuat kerja sama bilateral maupun multilateral hingga ke puncak acara yakni KTT G20 15-16 November 2022 mendatang.
Semalam, 14 November pesawat Air Force One, mendarat di Bandara International Ngurah Raih Bali.
Rombongan Joe Biden, Presiden Amerika Serikat yang ke 46 melengkapi kedatangan rombongan 17 Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang hadir dan tergabung sebagai anggota Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung di Bali.
Kembali pada issue hangat menyambut KTT tersebut dimana populasi bumi menembus angka 8 Milyar.
Mengingatkan penulis pada pernyataan Gorz (2003); “Dua Belas Milyar Penduduk” Jika pertumbuhan penduduk bertahan pada angka 2 persen per tahun seperti yang terjadi saat ini (1974) maka jumlah penduduk bumi pada 1998 akan menjadi 6,5 milyar jiwa (2 kali lipat jumlah penduduk pada tahun 1965) dan pada tahun 2070 akan menjadi 27 milyar jiwa. Bencana tetap akan terjadi dan tak dapat dihindari!
Bahkan menurutnya Skenario Konferensi Dunia bahwa jumlah penduduk bumi pada tahun 2100 pada kisaran 12 sampai 16 milyar jiwa (Gorz, 2003).
Apa yang terjadi bila skenario itu tidak teratasi? Maka dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.
Populasi bumi pada tahun 2035 bisa mencapai lebih dari 12 milyar jiwa.
Kini akhir tahun 2022 atau terpaut 13 tahun lagi sudah menembus 8 Milyar yang merupakan angka yang cukup fantastis!
Asumsi Krisis Pangan
Sepertinya bumi tidak akan mampu untuk memberikan makan secara seimbang kepada populasi sebanyak itu dari waktu ke waktu.
Jika populasi bumi yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari pada populasi saat ini, maka untuk memperoleh jatah makanan setengah saja sama dengan seluruh stok yang dimiliki oleh Eropa atau Amerika Utara sekarang!
Kunci Gorz, dalam sebuah artikel yang fenomenal itu.
Artinya diperlukan sebuah effort atau ikhtiar yang sungguh-sungguh dari para Pemimpin Dunia yang hadir dalam KTT G20 di Bali.
Sebagai pengingat bahwa bumi yang kita pijak menghadapi issue global lingkungan yang serius di masa depan.
Sebab dengan beban populasi 8 Milyar tidak hanya membutuhkan makanan tapi juga butuh air bersih dan energi untuk aktifitasnya.
Oleh karena itu upaya yang dilakukan melalui teknologi pertanian modern untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia.
Belum menuai hasil yang menggembirakan akibat biaya oprasionalnya relatif sangat mahal.
Dimana membutuhkan energi yang cukup besar, mulai dari energi pencahayaan untuk sistem indoor bertingkat, kebutuhan energi untuk pembuatan pupuk dengan rasio 1 ton pupuk nitrogen membutuhkan 3 ton bahan bakar fosil dan biaya-biaya yang lain.
Artinya lompatan maju dalam produksi pertanian yang melampaui batas ekologis pada akhirnya bertubrukan dengan persoalan energi maka sektor pertanian saja dalam kurun waktu 29 tahun akan menghabiskan cadangan minyak.
Dengan demikian masih harus ditemukan cara untuk membuat skenario “memberi makan” kepada 12-16 milyar orang penduduk bumi ini.
Dan tidak ada jaminan bahwa hal itu mungkin dilakukan (Gorz, 2003).
Peran Geopolitik
Josue de Castro (1952) dalam buku The Geography of Hunger adalah salah seorang yang pertama kali menunjukkan kampanye pengendalian kelahiran dan sterilisasi.
Menurutnya distribusi alat-alat kontrasepsi dapat efektif dan masuk akal hanya jika diikuti dengan kebijakan pembangunan secara keseluruhan, sehingga dapat mempercepat usaha pencapaian standar hidup yang secara spontan mendukung penurunan angka kelahiran.
Artinya harus ada kesamaan persepsi dari semua pemimpin politik dan pemerintah negara terkait kebijakan populasinya.
Walaupun demikian, ketika “dunia pertama” yang dipimpin oleh AS dan Swedia meminta kepada “dunia ketiga” untuk melakukan pengendalian populasi, kecurigaan yang segera muncul bahwa hal itu hanya merupakan sebuah bentuk upaya baru agar kita dapat melanjutkan penjarahan terhadap planet ini.
Agar rekomendasi (AS dan Swedia) memiliki kredibilitas maka mereka harus mulai berhenti merampas apa yang ada di dunia ketiga serta mengakhiri pemantapan sistem yang menghalangi terselanggaranya model pembangunan yang mandiri di sana.
Konflik Russia vs Ukraina juga menjadi salah satu issue penting karena secara langsung mempengaruhi pasokan pangan dan energi global.
Keberadaan Ukraina sebagai penghasil gandum dan jagung yang cukup dominan dan potensi energi gas Russia yang mensuplai sebagian besar wilayah Eropa Barat.
Kedua faktor tersebut yang memicu inflasi pasar harga global.
Baik harga minyak mentah maupun produk bahan makanan. Indikasi ini semakin mempertajam asumsi sejauh mana peran dan pengaruh geopolitik terhadap stabilitas kehidupan sosial ekonomi di permukaan bumi ini.
Harapan tentu tertuju pada Pertemuan Presidensi G20 Indonesia 2022, yang berlangsung di Bali saat ini.
Semoga issue lingkungan dan kependudukan menjadi point penting dalam pertemuan Pemimpin Dunia.
Meskipun tanpa kehadiran Vladimir Putin, Presiden Rusia dan Volodymyr Zalenskyy dari Ukraini tidak mengurangi harapan penduduk bumi yang memimpikan kedamaian.
Paling tidak upaya diplomasi yang dibangun selama ini bisa membuahkan hasil. Karena meski tanpa perang terbuka di medan tempur.
Sesungguhnya kita menghadapi “perang” degradasi lingkungan yang lebih serius!
Setidaknya virus corona membawa message bahwa sehebat apapun kita ternyata takluk terhadap mahluk Allah yang berukuran mikro.
Jadi berhentilah berperang! Karena menang jadi arang, kalah jadi abu. Allahu Alam.(*)