Opini Tribun Timur
Belajar Mengajar
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru maupun calon guru adalah teknik pengelolaan kelas.
Oleh Rinaldi
Mahasiswa IAIN Parepare
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru maupun calon guru adalah teknik pengelolaan kelas.
Begitu kira-kira yang dikatakan oleh dosen saya suatu hari. Waktu beliau menyampaikan hal itu, saya cuek saja.
Sebagaimana lazimnya perkuliahan-perkuliahan yang lain. Saya pura-pura mengerti saja. Karena pernah juga saya dengar pernyataan “praktik tak semudah teori.”
Kita percaya bahwa pembelajaran dalam suatu kelas bukan hanya sebatas proses transfer ilmu.
Terdapat faktor-faktor pendukung lainnya. Salah satunya adalah pengelolaan kelas.
Suharsimi Arikunto merumuskan sebuah definisi bahwa “pengeloalaan kelas merupakan usaha dan tanggungjawab seseorang (penanggungjawab) dalam proses pembelajaran untuk membantu mencapai kondisi optimal seperti yang diharapkan.”
Upaya untuk menciptakan kondisi yang optimal dalam pembelajaran sebagaimana yang dimaksud Suharsimi Arikunto tentunya memiliki tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya.
Tahapan-tahapan tersebut sering kali juga dinamai sebagai persiapan.
Tahapan-tahapan yang dimaksud antara lain: (1) Mempersiapkan kondisi kelas, baik dari segi kenyamanan, kebersihan, kelengkapan atau tataletak bangku siswa.
(2) Guru hendaknya harus menguasai materi dan memiliki berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan siswa.
(3) Murid, yang dalam hal ini sangat penting untuk diberi persiapan untuk belajar, seperti; membangkitkan semangat, mengetahui karakter mereka, atau menerapkan aturan untuk keterlaksanaan pelajaran.
Tapi sekali lagi, praktik tak semudah teori. Ketika saya magang di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya merasa gagal.
Jangankan mampu mentranfer pengetahuan, mengelola kelas pun saya kedodoran. Bahkan tak jarang saya mendengar umpatan yang mereka (Murid) lontarkan. Meskipun umpatan itu mereka tujukan kepada sesama kawan, tetapi itu cukup menggangu saya.
Saya sadar betul bahwa ketidakmampuan saya untuk memahami latar belakang murid-lah yang menjadi alasan mengapa mereka berperilaku seperti itu.
Hal itu saya sadari belakangan kemudian, saat saya selesai menonton sebuah film HICKI.
Film yang merceritakan seorang perempuan yang mempunyai cita-cita mulia menjadi seorang guru dan telah mendaftar ke sana kemari untuk bisa diterima mengajar di satu sekolah.
Akan tetapi karena ia mengidap Sindrom Taurette (cekukan) tak ada satu pun sekolah yang menerimanya karena alasan hanya akan mengganggu pembelajaran siswa.
Hingga satu saat, ia mendapat tawaran untuk mengajar pada sebuah sekolah yang bernama St. Notker dan diperhadapkan pada sebuah kelas 9F, kelas yang murid-muridnya terkenal sangat nakal menurut para guru di sekolah itu.
Naina Mathur. Itulah nama guru perempuan tersebut. Ia berhasil mengajar dan menjadikan para murid kelas 9F berprestasi.
Bukannya tanpa tantangan, pada awal-awal ia mengajar di kelas tersebut, berbagai jenis penolakan ia pernah dapatkan.
Ia pernah jatuh dari kursi yang tidak sanggup menahan beban karena perbuatan muridnya. Mendapatkan sebuah ember yang berisikan bola-bola yang akan meledak ketika ia memasuki kelas.
Pernah juga dia menulis dengan kapur dan tiba-tiba saja kapur tersebut meletus bagaikan petasan karena sudah tercampur dengan serbuk korek api yang telah diracik oleh muridnya.
Namun demikian, ia tidak pernah terlalu mempersoalkan perilaku muridnya. “Tidak ada siswa yang buruk, hanya ada guru yang buruk” adalah satu keyakinannya.
Hanya perlu pendekatan atau usaha yang lebih lagi untuk dapat mendapatkan simpati dari murid (berdamai). Ia lalu berinisiatif untuk memahami satu per satu latar belakang dari murid-muridnya. Ia mendatangi orang tua, memasuki lingkungan, dan mencoba mengenal ruang sosial para muridnya.
Ia menyadari satu fakta: kondisi sosial ekonomi kelas 9F berbeda jauh dari murid kelas lain yang notabenenya lahir dari kelompok berada.
Di lain kesempatan ia selalu saja membela muridnya yang dilaporkan guru lain karena berbuat onar dan membuat kelas lain terganggu. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali ia selalu membela muridnya. Meskipun kepala sekolah tahu bahwa ia sedang berbohong demi kelas 9F.
Akan tetapi, karena sifatnya itu, siswa-siswa kelas 9F mulai menaruh rasa bersalah kepada diri sendiri dan berempati kepada Naina Mathur yang bersifat baik kepada mereka.
Singkat cerita, Naina Mathur berhasil mendapatkan hati murid-muridnya. Dari sinilah cerita menjadi menarik.
Ia melakukan sebuah proses pembelajaran yang berbeda dari siswa-siswa kelas lainnya. Pernah ia melakukan proses pembelajaran di halaman sekolah dengan melempar telur satu per satu kepada siswanya dan mengaitkannya dengan materi matematika.
Pernah ia juga mangadakan kelas di ruangan olahraga padahal mereka hanya ingin diberikan motivasi dan cara melawan ketakutan yang ada pada diri mereka.
Setidaknya itulah hal-hal yang dilakukan oleh Niana Mathur, dan pada akhir kisah ia berhasil memahami, mengajari, dan menjadikan siswa kelas 9F itu sebagai kelas yang berprestasi di akhir tahun ajaran.
Dari sana saya belajar, .untuk berhasil mengelola kelas, kemampuan yang semestinya dikuasai terlebih dahulu ialah memahami dan mengenal latar belakang siswa.
Sebab, siswa merupakan manusia yang memiliki sifat, karakter, dan kondisi sosial yang berbeda.
Jiwa kepekaan seperti halnya Naina Mathur-lah yang harus saua miliki, tanpa berusaha mengendalikan isi pikiran siswa, meminta mereka melakukan apa yang membuat saya merasa senang.
“Tidak ada murid yang buruk, hanya ada guru yang buruk”, kata Naina.
