Opini Firdaus Muhammad

Opini Firdaus Muhammad: Literasi Ulama, Sayyid Jalaluddin Al-Aidid

Kiprah Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dalam pengembangan Islam di Cikoang Takalar dan Kerajaan Gowa dikaji melalui disertasi Husnul Fahimah Ilyas.

Dokumen Firdaus Muhammad
Dr Firdaus Muhammad (Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel) - Opini Firdaus Muhammad: Literasi Ulama, Sayyid Jalaluddin Al-Aidid 

Oleh: Firdaus Muhammad
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin dan
Ketua Komisi Infokom MUI Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Kiprah Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dalam pengembangan Islam di Cikoang Takalar dan Kerajaan Gowa dikaji melalui penelitian disertasi dilakukan oleh Husnul Fahimah Ilyas, putri AGH. Ilyas Salewe.

Disertasi berjudul: Hikayat Sayyid Jalaluddin Al-Aidid: Edisi Teks, Ajaran, Ritual dan Jaringannya.

Disertasi tersebut lahir dari penelitian selama 10 tahun itu dipromosikan pada Selasa 26 Juli 2022 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin.

Para penguji memujinya, hasil penelitian yang berhasil menelisik kiprah Sayyid jalaluddin Al-Aidid melalui naskah dikaji berbagai latar keilmuan termasuk filologi.

Diantara pengujinya, Prof. Dr. Nurhayati Rahman dan Prof. Dr. Najamuddin Abduh Shafa.
Jaringan Sayyid Jalaluddin Aidid berawal dari Aceh kemudian ke Kutai, Makassar hingga Cikoang Takalar. Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Al-Aidid lahir di Aceh, tahun 1603, merupakan cucu dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Beliau merupakan turunan Rasulullah Saw, ahlul bait dari Hadramaut, tepatnya keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Ra, putri dari Rasulullah.

Tepatnya keturunan yang ke-27 dari Nabi Muhammad SAW. Jaringan diulas melalui jaringan melayu, jaringan guru murid, jaringan perkawinan. Ritual yang dilakukan sampai sekarang yakni; ritual maudu lompoa dan acara kematian, attumate. Ritual attumate dilakukan selama 40 hari 40 malam membaca tulkiamah. Sayyid Jalaluddin al-Aidid menuntut ilmu ke negeri Timur Tengah. Sebelum ia tiba di kerajaan Goa Makassar pada abad 17, masa pemerintahan Sultan Alauddin, ia sempat singgah terlebih dahulu ke Banjarmasin untuk menyebarkan agama IslamTradisi Maudu Lompoa di Cikoang merupakan warisan Sayyid Jalaluddin al-Aidid.

Syekh Yusuf al-Makassary belajar agama langsung pada Sayyid Jalaluddin al-Aidid di Cikoang dan Sayyid Ba’alawi di Bontoala. Kedua sayyid tersebut membawa pengaruh besar perkembangan Islam di wilayah Makassar dan Bima.

Sayyid Jalaluddin al-Aidid diyakini tiba di Makassar pada abad ke-17. Beliau dilahirkan di Aceh pada tahun 1603. Kedatangannya ke Makassar-Gowa pada masa kesultanan Sultan Alauddin, namun pengaruhnya pada kesultanan belum kuat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved