Stunting

Tim Dosen FIK UNM Edukasi Remaja Putri di Pangkep Tentang Pencegahan Stunting Selama Setahun

Tim dosen FIK UNM menjalankan program pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) edukasi remaja putri di Pangkep soal pencegahan stunting.

Penulis: Desi T Aswan | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tim Dosen FIK UNM Edukasi Remaja Putri di Pangkep Tentang Pencegahan Stunting Selama Setahun
Dokumen Pribadi
Proses pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh tim Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Makassar (UNM) edukasi dalam bentuk program JARI MANIS (Remaja Putri Cegah Stunting) di SMP Negeri Taraweang, Pangkep, Sulawesi Selatan.

TRIBUN-TIMUR.COM- Tim Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Makassar (UNM) menjalankan program pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) edukasi dalam bentuk program JARI MANIS (Remaja Putri Cegah Stunting) di SMP Negeri Taraweang, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Tim riset ini terdiri dari tiga dosen dipimpin, dr Nurussyariah beranggotakan Hezron Ahlim Dos Santos, dan Andi Ulfiyani Putri, Selain itu, lima  mahasiswa jurusan Penjaskesrek dan Gizi FIK UNM turut terlibat.

Menggandeng Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, tim FIK UNM melakukan promosi kesehatan pencegahan stunting sebagai mitra melalui kegiatan edukasi dengan menyasar kelompok remaja putrid di SMP Negeri Tarewang.

Ketua tim riset, dr Nurussyariah H mengungkapkan, edukasi sangat penting diberikan remaja putri yang merupakan calon ibu nantinya untuk menanamkan pola piker dan peningkatan dalam upaya pencegahan kejadian stunting.

“Sangat penting memperkenalkan isu stunting pada remaja putri karena kedepan mereka adalah calon ibu yang akan mengandung dan merawat anak di 1000 hari pertama kehidupan. Faktor risiko stunting adalah anemia dan gizi buruk pada ibu saat hamil,” tuturnya kepada Tribun-Timur.com, Jumat (12/8/2022).

Menurut dr Cia sapaan akrabnya, hingga saat ini isu stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan nasional yang juga belum tuntas. Sehingga, perlu adanya edukasi dini terkait stunting ini, karena mempengaruhi pertumbuhan fisik menjadi kerdil dan perkembangan fungsi kognitif anak.

Terlebih lagi, kata dr Cia, Kementerian Kesehatan memberi perhatian besar terhadap edukasi remaja putrid sebagai calon ibu sebagai salah satu pintu pencegahan stunting.

“Kami di bidang akademisi juga berupaya untuk bisa membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia,” tuturnya.

Para remaja putri di SMP Negeri Taraweang dibina sejak Maret hingga Desember 2022.

Mereka akan diedukasi terkait evaluasi pola makannya sehari-hari, mengukur status gizi sendiri, mengetahui kebugaran fisik dan mendeteksi secara dini faktor risiko anemi. (*)

Sumber: Tribun Timur
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved