PT GMTD Tbk

Tanjung Bunga Kota Mandiri Dulu, Kini, dan Nanti

Kawasan Tanjung Bunga Makassar yang saat ini terlihat megah, cantik dan menyejukkan pandangan, tentu tidak berdiri begitu saja.

Tanjung Bunga
Penampakan show unit Rolling Hills hunian Tanjung Bunga, besutan arsitektur kelas dunia pemenang penghargaan internasional Alex Bayusaputro. Hunian dua lantai ini mengusung desain modern dengan konsep terbuka dan jendela besar. Tepat di samping Rollong Hills berdiri Marketing Gallery Tanjung Bunga yang dikemas apik serta dilengkapi kafe Instagramble. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kawasan Tanjung Bunga Makassar yang saat ini terlihat megah, cantik dan menyejukkan pandangan, tentu tidak berdiri begitu saja.

Melainkan, dia ibarat menempuh perjalanan panjang yang berliku-liku dan penuh rintangan.

Kurang lebih dua dekade sebelumnya, Tanjung Bunga Makassar adalah kawasan yang tidak bernilai.

Dia diselimuti rawa-rawa, empang, dan hutan rambat. Bagai kawasan terisolir, sehingga tidak memiliki akses yang memadai.

Masyarakat sekitarpun seperti hidup di pedalaman hutan dan jauh dari kemajuan.

Mereka kesulitan dalam berbagai hal, seperti beraktivitas ke jantung kota Makassar.

Apabila anak-anak ingin bersekolah ke Kota Makassar, maka mereka mesti menyeberangi sungai Jeneberang.

Satu-satunya transportasi memadai kala itu adalah menaiki katinting.

Namun, takdir menghampiri mereka. Melalui Gowa Makassar Tourism Development Corporation (GMTDC), kawasan tak bernilai itu disulap menjadi kota mandiri, layak huni, dan berkemajuan.

GMTDC adalah pengembang yang lahir dari perkawinan antara korporasi dan pemerintah pada tahun 1991.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved