Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Hadiri Harganas di Sulsel

Dalam sambutannya di BKKBN Sulsel, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik mengatakan jika penanganan stunting di Sulsel banyak kemajuan

Penulis: Siti Aminah | Editor: Waode Nurmin
Tribun-Timur.com/Siti Aminah
Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29. Acara ini berlangsung di Kantor BKKBN Perwakilan Sulawesi Selatan, Jl AP Pettarani, Kamis (28/7/2022). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29.

Acara ini berlangsung di Kantor BKKBN Perwakilan Sulawesi Selatan, Jl AP Pettarani, Kamis (28/7/2022).

Prof Muhammad Rizal Martua Damanik mengapresiasi BKKBN Sulsel yang telah memperlihatkan kemajuan dalam pencegahan dan penurunan angka stunting.

"Penanganan stunting terus jalan, banyak kemajuan diraih termasuk di Sulsel," ucapnya.

Tetapi untuk mengetahui perkembangannya yang lebih signifikan, pencegahan stunting akan dievaluasi akhir tahun mendatang.

Sejauh ini, prevalensi stunting di Indonesia capai 24,4 persen.

Itu masih jauh dari target yakni harus mencapai 14,4 persen pada tahun 2024.

"Nanti diakhir kita akan mengukur berdasarkan data yang ada seberapa jauh prestasi yang didapat," tuturnya.

Program Kampung Keluarga Berkualitas (KB) menjadi salah satu upaya dalam menekan angka stunting.

Strategi ini dinilai dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung atau yang setara.

Disamping itu, Kampung KB juga dibentuk untuk meningkatkan peran serta pemerintah, lembaga non pemerintah dan swasta dalam memfasilitasi, mendampingi dan membina masyarakat untuk menyelenggarakan program penurunan stunting.

"Dengan terbentuknya kampung KB maka akan ada data masyarakat yang berisiko stunting," tuturnya.

Data keluarga berisiko stunting tersebut akan memudahkan para petugas untuk melakukan pendampingan agar stunting bisa dicegah sejak awal.

Ia memaparkan, stunting disebabkan karena kekurangan gizi dan asupan makanan yang bernutrisi.

Selain itu, sesuatu yang dikonsumsi oleh ibu saat kehamilan juga mempengaruhi pertumbuhan janin dalam perut.

Stunting bisa menyebabkan tumbuh kembang anak bermasalah, salah satu cirinya adalah anak yang kerdil.

"Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka," paparnya.

Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. (*)

 

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved