Unhas
Unhas Siap Transformasi Digital, 3 Solusi Prof JJ Hadapi Dunia DIgitalisasi
Solusi jitu Prof JJ menghadapi dunia digitalisasi yang tidak saja membawa perubahan besar tetapi juga sangat dinamik dan cepat dalam kehidupan manusia
Oleh: Supratman Supa Athana
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sosial, politik bahkan ekonomi, sehingga setiap kecenderungan dan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat berdampak langsung pada universitas.
Dampak terbaru yang dialami perguruan tinggi adalah dampak wabah virus korona yang kemudian memaksa pemerintah dan pihak rektorat untuk menutup kelas dan memberlakukan pembelajaran online hingga kemudian pemberlakuan pembatasan mahasiswa hadir di kelas dengan pembelajaran sistem hybrid; online-offline.
Pandemi covid-19 yang berlangsung kurang lebih 3 tahun membuat universitas tidak punya pilihan selain mengadakan kelas secara online dan jarak jauh.
Pihak universitas membuat kebijakan dalam rangka mengantisipasi kondisi tersebut dengan mendigitalkan sistem pembelajaran agar dapat mengelola dan mengarahkan situasi sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik dan berkualitas .
Sistem pembelajaran online dengan perangkat teknologi digital yang selama ini berlangsung mendapat perhatian serius dari Prof Dr Jamaluddin Jompa, rektor Universitas yang baru dilantik pada 27 April 2022 dengan menggantikan Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.
Menurut Prof JJ, demikian sapaan rektor Unhas ini, bahwa sejak awal dan di puncak pandemi Covid-19 saat pemerintah memutuskan untuk menangguhkan pembelajaran tatap muka sebagai konsekuensi dari kebijakan ‘lock down’ didapatkan realitas dan fakta bahwa proses pembelajaran dengan sistem digitalisasi selama ini belum memadai.
Selain itu, Prof JJ juga menemukan kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang tidak bisa mendapatkan akses internet dan perangkat teknologi untuk mengikuti perkuliahan online.
Mahasiswa yang bermukim di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) mengalami situasi yang sangat tragis. Mereka sama sekali tidak dapat mengikuti perkuliahan karena ketiadaan jaringan internet. Secara praktis mereka terancam mengalami learning loss selama pandemi.
Itulah yang disebut oleh Norris (2001) sebagai kesenjangan digital (digital divide). Tidak semua mahasiswa kita mampu mengikuti perkuliahan dengan baik karena keterbatasan ekonomi untuk membeli gadget dan perangkat teknologi lainnya serta ketersediaan jaringan internet yang stabil.
Artinya bahwa perangkat sarana dan prasana memang belum maksimal. Menyadari kenyataan yang sangat memiriskan hati itu, Prof JJ berinisiatif menemui Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Makarim BA MBA untuk menyampaikan masalah yang dihadapi Unhas terkait proses pembelajaran online dan digitalisasi.
Hasilnya adalah Menteri Nadiem Makarim bersedia mengalokasikan dana untuk mendukung sistem digitalisasi yang prima di Unhas.
Nominalnya tidak disebutkan. "Pastinya, miliaran rupiah," tegas Prof JJ dalam pidato pelantikan pejabat struktural di lingkup Unhas, 19 Juli 2022, di Gedung Baruga Andi Pangeran Pettarani
Jauh sebelum pandemik covid 19 sebetulnya kehidupan umat manusia sudah diramaikan dengan teknologi digital. Tak ada sektor kehidupan umat manusia yang terlepas dari teknologi digital.
Semua sektor industri; perbankan, asuransi, mobil, petrokimia, baja, energi, makanan, hiburan, dan lain-lain, semuanya telah berubah di bawah pengaruh teknologi digital. Di luar industri, kehidupan pribadi masyarakat juga telah diubah berdasarkan teknologi baru ini.