Unhas

Unhas Siap Transformasi Digital, 3 Solusi Prof JJ Hadapi Dunia DIgitalisasi

Solusi jitu Prof JJ menghadapi dunia digitalisasi yang tidak saja membawa perubahan besar tetapi juga sangat dinamik dan cepat dalam kehidupan manusia

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Supratman Supa Athana SS MSi PhD, usai dilantik menjadi Kepala Bagian Humas Unhas di Gedung Baruga Andi Pangeran Pettarani, Makassar, Selasa (19/7/2022). Supratman menggantikan Ishaq Rahman PhD 

Oleh: Supratman Supa Athana
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Universitas Hasanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sosial, politik bahkan ekonomi, sehingga setiap kecenderungan dan perubahan yang terjadi di tengah  masyarakat berdampak langsung pada universitas.

Dampak terbaru yang dialami perguruan tinggi adalah dampak wabah virus korona yang kemudian memaksa pemerintah dan pihak rektorat  untuk menutup kelas dan memberlakukan pembelajaran online hingga kemudian pemberlakuan pembatasan mahasiswa hadir di kelas dengan pembelajaran  sistem hybrid; online-offline.  

Pandemi covid-19 yang berlangsung kurang lebih 3 tahun membuat universitas tidak punya pilihan selain mengadakan kelas secara online dan jarak jauh.

Pihak universitas membuat kebijakan dalam rangka mengantisipasi kondisi tersebut dengan mendigitalkan sistem pembelajaran agar dapat mengelola dan mengarahkan situasi sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik dan berkualitas .

Sistem pembelajaran online dengan perangkat teknologi digital  yang selama ini berlangsung mendapat perhatian serius dari Prof Dr Jamaluddin Jompa, rektor Universitas yang baru dilantik pada 27 April 2022 dengan menggantikan Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.

Menurut Prof JJ, demikian sapaan rektor Unhas ini, bahwa sejak awal dan di puncak pandemi Covid-19 saat pemerintah memutuskan untuk menangguhkan pembelajaran tatap muka sebagai konsekuensi dari kebijakan ‘lock down’ didapatkan realitas dan fakta bahwa proses pembelajaran dengan sistem digitalisasi selama ini belum memadai.

Selain itu, Prof JJ juga menemukan kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang tidak bisa mendapatkan akses internet dan perangkat teknologi untuk mengikuti perkuliahan online.

Mahasiswa yang bermukim di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) mengalami situasi yang sangat tragis. Mereka sama sekali tidak dapat mengikuti perkuliahan karena ketiadaan jaringan internet. Secara praktis mereka terancam mengalami learning loss selama pandemi.  

Itulah yang disebut oleh Norris (2001) sebagai kesenjangan digital (digital divide). Tidak semua mahasiswa kita mampu mengikuti perkuliahan dengan baik karena keterbatasan ekonomi untuk membeli gadget dan perangkat teknologi lainnya serta ketersediaan jaringan internet yang stabil.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved